| Jumat, 28 Oktober 2005 | SEMARANG |
Penataan PKL Depan Mal Ciputra DipertanyakanSEMARANG- Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di depan Mal Ciputra dipertanyakan warga. Tempat-tempat dasaran PKL tersebut cenderung tidak teratur dan menimbulkan kekumuhan. Komentar semacam itu, Kamis (27/10), disampaikan seorang warga melalui SMS, pada acara ''Sahur.....Obrolan Ramadan'', yang disiarkan langsung oleh Radio Smart FM dari lobil Hotel Ciputra Semarang. Hadir sebagai narasumber, Manager Mal Ciputra Semarang, Mohammad Verga PA, dipandu host Budi Maryono dari Suara Merdeka dan pembawa acara Ery Suganda dari Smart FM. ''Mal terkesan kumuh kalau dilihat dari matahari. Karena ada beberapa PKL di depan,'' kata Ery Suganda membaca SMS itu. Menanggapi hal itu, Verga menyatakan sependapat jika PKL diatur. Namun sebelum dilakukan, pemerintah harus menegaskan bahwa PKL di depan Mal Ciputra itu legal atau tidak. ''Kalau tidak legal, bagaimana sikap pemerintah,'' kata dia. Sebaliknya, lanjut dia, kalau keberadaan PKL di tempat itu legal maka mereka bisa dibina bersama-sama. Diajari cara menata tempat dasaran agar tampak selalu bersih dan rapi. Mereka juga dapat diajari cara menarik pembeli dan tampil simpatik. Pemberdayaan PKL yang legal bisa dilakukan pemerintah maupun LSM. ''LSM jangan hanya mengajak PKL untuk demo, saat ada penggusuran,'' kata dia. Acara sahur-sahur itu diselenggarakan Hotel Ciputra, Suara Merdeka, serta Radio Smart FM, didukung pula oleh Djarum Super, Matrix dari Indosat, Indomie dari Indofood, dan Mari Tea. Warga dapat memberikan tanggapan lewat telepon 024-8449511 atau SMS 08552655934. Mufid, melalui SMS menanyakan kenapa pada ramadan ini di mal tetap banyak perempuan berpakaian seksi. Menjawab pertanyaan itu, Verga mengatakan, pihaknya sudah berupaya menyesuaikan pakaian yang dikenakan karyawan Mal Ciputra. Namun upaya tersebut tidak dapat menghilangkan pemandangan cewek-cewek berpakian seksi, yang sebagian karyawan toko. Manajemen mal pun tak dapat terlalu intervensi, karena toko-toko tersebut memiliki otoritas sendiri. Dengan otoritas itu, security mal Ciputra juga tidak sembarangan masuk ke toko. Kecuali pengelola toko memanggil mereka. (G6-56) |