| Jumat, 28 Oktober 2005 | SEMARANG |
Kisah Para Pencari Zakat (1)Berburu untuk Makan KetupatMESKI berdiri di bagian belakang dalam antrean yang cukup panjang, Yanti (25) tak patah arang. Perempuan asal Medoho Pekalongan itu tetap bertahan dalam barisan, dengan menenteng anaknya yang berusia lima tahunan. Namun sayang, harapannya untuk mendapat beras zakat di halaman SMA Negeri 1 Semarang, Kamis (27/10) siang itu akhirnya hilang. Belum sampai di depan, petugas mengumumkan, girik untuk penukar beras zakat telah habis. Kendati demikian, bersama puluhan kaum duafa lain yang tak kebagian, Yanti tetap menunggu di tempat itu. "Nasib, lha wong namanya juga usaha. Kalau tidak direwangi begini, bagaimana lebaran nanti kami bisa makan ketupat?" ujar dia. Ya, pada hari-hari menjelang Lebaran, pemburu zakat seperti Yanti dengan gampang ditemukan. Mereka terlihat bergerombol di masjid-masjid, kantor instansi, atau sekolah-sekolah yang melakukan pembagian zakat. Tak cuma dari Semarang, orang-orang itu juga datang dari kota-kota lain di Jawa Tengah. Jika dihitung jumlah mereka mungkin mencapai angka ribuan. Yanti sendiri telah melakoni kegiatan itu sejak enam tahun silam. Setiap akhir Ramadan, dia beranjak dari kampung halamannya menuju Kota Semarang. Kenapa harus Semarang? Bukankah di Pekalongan- kota asalnya- zakat juga banyak dibagikan? '' Kalau di Pekalongan saya malu, nanti ketahuan saudara atau para tetangga. Kalau di sini kan tidak ada yang tahu. Lagi pula tempat pembagiannya juga lebih banyak. Sehari keliling bisa mendatangi tiga tempat. Lumayan bukan." Bersama seorang anaknya, Yanti ''hijrah'' ke Semarang sejak pertengahan Ramadan. Sang suami yang bekerja sebagai penarik becak di Pekalongan tak diajak serta. Anak bungsunya masih sekolah, sehingga harus ada yang merawat. Selama di ibu kota Jawa Tengah, Yanti tinggal di rumah seorang kenalannya di Kampung ''Gendruwo'' Ngaliyan. ''Kami tidur di tempat ala kadarnya. Seringnya cuma di atas lantai beralas tikar. Mau bagaimana lagi, lha wong namanya saja numpang," kata dia. Dalam sehari, dia rata-rata bisa mendatangi satu hingga dua tempat yang membagi zakat. Semakin mendekati Lebaran, intensitasnya kian bertambah, yakni empat tempat. Setiap tempat, Yanti bisa membawa dua hingga tiga kilogram beras. Bisa pula berupa zakat mal, yakni beberapa lembar uang puluhan ribu rupiah. Informasi mengenai tempat pembagian zakat dia dapatkan dari sesama pemburu zakat atau selebaran yang disebar di berbagai sudut kota. Setelah berburu beberapa hari, ia akan pulang mudik ke Pekalongan dua hari setelah Lebaran, dengan membawa beras puluhan kilogram. Serupa dengan Yanti, Tuminah, warga Wedung Kabupaten Demak juga melakukan perburuan zakat di Semarang. Bedanya, perempuan berputera empat itu tak berangkat sendirian. Bersama lima orang tetangganya, Tuminah menyambangi tempat-tempat pembagian zakat yang tersebar di setiap sudut kota. Jika mengetahui ada pembagian zakat, mereka akan datang.(Fahmi Z M, Rukardi-44) |