logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Oktober 2005 KEDU & DIY
Line

Minyak Tanah Cukup, Gas Langka

MAGELANG - Dikhawatirkan warga Kota Magelang akan kekurangan gas elpiji saat Lebaran jika jatah dari Pertamina tetap dibatasi. Pembatasan gas elpiji itu terungkap ketika Wali Kota Magelang H Fahriyanto beserta Muspida dan Kapolwil Kedu Kombes Drs Agus Wantoro MSi melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke berbagai lokasi menjelang Lebaran, Kamis (27/10). Ikut pula dalam peninjauan itu para kepala dinas dan instansi.

Tempat yang ditinjau antara lain Perusahaan Otobus (PO) Santoso, Puskesmas Pembantu Terminal Tidar berikut kesiapan terminal, agen elpiji PT Gatra Lestari Prima Gasindo, agen minyak tanah Pusat Koperasi Konsumsi, Poskotis di Alun-alun dan Pasar Rejowinangun.

Santoso, karyawan agen elpiji, menerangkan, sejak pertengahan Oktober pasokan gas ke agen dibatasi Pertamina. Saat kondisi normal, perusahaan yang beralamat di Jl A Yani itu mendapat kiriman 450-500 tabung gas/hari. ''Setelah dibatasi, turun menjadi 300 tabung/hari. Sekarang malah 300 tabung untuk dua hari.''

Dia mengaku menjelang Lebaran ini permintaan gas elpiji meningkat, tetapi barangnya tidak ada. ''Saya dengar dua hari lagi katanya distribusi sudah normal,'' katanya sambil mengatakan, di Kota Magelang terdapat empat perusahaan penyalur gas elpiji.

Elpiji yang dijual perusahaan itu terdiri atas tiga macam, yaitu ukuran 50 kg dengan harga Rp 230.000, 12 kg Rp 55.000, dan ukuran 6 kg harganya Rp 22.500. Jumlah pembeli gas elpiji setiap bulan sebelum ada pembatasan, ukuran 50 kg rata-rata 111 orang, 12 kg 6.350 orang, dan ukuran 6 kg mencapai 277 orang.

Pembeli Berkurang

Sementara itu, saat mengunjungi Pusat Koperasi Konsumsi (PKK) Wali Kota mendapat laporan, selama ini koperasi itu mendapat jatah minyak tanah tiga tangki setiap hari. Namun setelah harga minyak tanah naik, kemampuan masyarakat untuk membeli sangat berkurang.

''Tanggal 18-22 Oktober 2005 PKK hanya mengambil satu tangki. Penyebabnya, selain pembelinya tidak ada, juga kami harus mengeluarkan modal minimal tiga kali lipatnya. Dulu harga Rp 700 per liter sekarang menjadi Rp 2.000 per liter,'' kata Farouk Syamsudin, salah seorang pengurus PKK.

Dia menerangkan, saat ini pengambilan minyak tanah dari Pertamina disesuaikan dengan keinginan pasar. Farouk mengakui, masih ada pangkalan yang nakal, meski pemerintah sudah menetapkan HET. Agen menjual ke pangkalan Rp 2.180/liter, sedangkan pangkalan menjual ke pengecer Rp 2.270/liter. (P.60-36n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA