| Jumat, 28 Oktober 2005 | EKONOMI |
Penjualan Emas LesuSEMARANG- Perdagangan emas menjelang lebaran tahun ini menurun hingga 70% dibandingkan dengan tahun lalu. Biasanya, awal Ramadan toko-toko emas dipenuhi para pengunjung. Namun kini tak begitu banyak pembeli. Bahkan sebagian besar pengunjung melakukan transaksi jual kembali untuk mendapatkan uang segar daripada membeli perhiasan baru. Menurut Bambang Yuwono, Ketua Asosiasi Pedagang Permata dan Emas Indonesia (Apepi) Jateng sepinya perdagangan emas ini lebih dikarenakan daya beli masyarakat yang terus menurun serta imbas kenaikan harga BBM. Pemilik toko emas Dewi Sri ini hanya bisa berharap pekan terakhir Ramadan ini, penjualan emas akan meningkat. Pasalnya, pascalebaran penjualan emas akan sepi kembali. ''Meski harga emas dan nilai tukar dollar terbilang stabil, namun tidak mempengaruhi tingkat penjualan emas. Umumnya, perhiasan yang dibeli adalah berbobot ringan di bawah 5 gram,'' katanya Kamis (27/10). Masa Prihatin Harga emas kemarin sebesar Rp 151.000 untuk kadar 99,9%. Sementara harga emas dunia atau loko berada pada level 471,25 dengan nilai tukar dollar senilai Rp 10.013. Hal serupa diungkapkan Agus Setiawan, pemilik Toko Emas Merak Jalan Kranggan. Ia mengatakan saat ini sebagai masa keprihatinan. ''Arus pengembalian emas ke toko meningkat tajam melebihi omzet penjualan. Berarti ini menunjukkan ada indikasi daya beli masyarakat sangat lemah. Mereka lebih memilih uang untuk menutupi kebutuhan,'' katanya. Ia menyebutkan rata-rata per hari terdapat transaksi hingga 30 orang. Apabila pekan ini tidak ada peningkatan, kata Agus, maka penjualan emas tahun ini buruk bila dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berkaitan dengan adanya kasus perampokan toko emas yang baru-baru ini terjadi, tingkat pengamanan di lingkungan toko emas kian ditingkatkan. Polisi berpakaian dinas lengkap dengan senapan di tangan tampak berjaga di depan toko. Selain itu polisi berpakaian preman juga disiapkan. (mhr-59 ) |