logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Oktober 2005 EKONOMI
Line

Harga Bahan Pokok Stabil

SEMARANG- Mendekati Lebaran, harga beberapa kebutuhan pokok relatif stabil dibandingkan dengan awal Ramadan. Kenaikan harga hanya terjadi setelah adanya pengumuman kenaikan harga BBM, pada 1 Oktober 2005 lalu.

Seperti yang diutarakan oleh Djuminem, pemilik toko grosir Mandiri Jaya di Jl Pedamaran no 104 (pasar Johar), barang-barang kebutuhan yang mengalami lonjakan harga seiring kenaikan BBM, antara lain adalah kerupuk, gula jawa, dan bihun.

Untuk kerupuk, kenaikannya cukup besar yaitu Rp 2.000/kg dari harga semula (sebelum kenaikan BBM) per kuintalnya seharga Rp 150.000, sekarang menjadi Rp 350.000.

"Perubahan harga ini dipengaruhi oleh kenaikan harga tepung pati sebagai bahan baku kerupuk. Kenaikan harga tepung pati mencapai tiga kali lipat dari harga semula (sebelum kenaikan BBM), semula Rp 75.000 untuk ukuran 1 sak (50 kg), meningkat menjadi Rp 175.000/sak," ungkapnya.

Untuk kerupuk bawang merek Sentosa dijualnya dengan harga Rp 25.000/5kg, padahal sebelumnya untuk kerupuk jenis ini harga jualnya hanya Rp 16.000/5 kg.

Harga lain mengalami lonjakan bila dibandingkan sebelum kenaikan BBM adalah mihun (Rp 25.000 menjadi Rp 33.000) dan gula Jawa (Rp 4.100/kg menjadi Rp 5.300/kg).

Dia mengakui akibat kenaikan harga BBM, omset penjualan menurun tajam. ''Dulu, omset saya bisa mencapai Rp 3-4 juta/hari (keadaaan sepi) hingga Rp 6-7 juta saat ramai pembeli. Kini, saat yang paling ramaipun, hanya mencapai Rp 3 juta/hari".

Harga Sayur Naik

Harga kebutuhan lain yang mengalami kenaikan yang cukup besar adalah cabe merah. Menurut Fajar, salah seorang penjual di Pasar Johar, harga cabe bisa berubah setiap jam. "Kenaikan harga cabe paling tinggi bisa mencapai Rp 5.000/kg,'' ungkapnya.

Cabe keriting kualitas nomor satu, harga jualnya bisa mencapai Rp 21.000/kg, padahal sebelumnya berkisar Rp 15.000/kg. Untuk cabe keriting kualitas nomor dua, lanjut dia, harganya bisa melonjak hingga Rp 7.000/kg.

"Perubahan harga ini juga ditentukan oleh langka atau tidaknya barang. Kalau pas nggak ada barang, harganya bisa lebih tinggi lagi,'' tandasnya.

Sementara itu, Darmi, salah seorang pedagang sayur mayur, mengaku bingung mengikuti harga yang terus menerus merangkak naik. "Lha gimana, kalau naik terus, saya kulakannya jadi bingung to,'' keluhnya. (H10,lin-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA