logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Oktober 2005 EKONOMI
Line

Bank Jateng Fokus Ritel dan UKM

SEMARANG- Bank Jateng berkomitmen memantapkan fokus pembiayaan pada ritel dan usaha mikro dan kecil (UMK). Kebijakan itu dilakukan untuk menekan rasio kredit macet atau non performing loans (NPL) agar tak melebihi 5 persen sesuai ketentuan Bank Indonesia (BI). Sejak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), pembengkakan biaya operasional dikhawatirkan akan memberatkan dunia usaha, khususnya yang berskala besar.

''Kami hanya akan membiayai usaha dengan modal di bawah Rp 5 miliar dan omzet kurang dari Rp 1 miliar. Kalau terlalu besar, terus terang kami tidak berani. Hanya saja, untuk proyek pemerintah dengan jaminan APBD, Bank Jateng masih membiayai,'' ujar Ispriyanto, Direktur Umum Bank Jateng saat berkunjung ke Kantor Redaksi Suara Merdeka Jl Raya Kaligawe Km 5, kemarin.

Ispriyanto didampingi Direktur Pemasaran Basuki Sri Hartono dan Direktur Kepatuhan Sudaryo serta sejumlah pejabat di Bank Jateng. Mereka diterima oleh Direktur Suara Merdeka Group Kukrit Suryo Wicaksono MBA dan Pemimpin Redaksi Sasongko Tedjo serta jajaran redaksi.

Makin Berat

Saat ini, lanjut Ispriyanto, beban perbankan sendiri dirasakan makin berat. Padahal, pembiayaan adalah faktor yang menghidupi perbankan. Bila pada tahun 2010 ketentuan 12 persen rasio kecukupan modal (CAR) diberlakukan BI, maka risiko yang harus ditanggung bank menjadi lebih besar hingga 6 persen.

''Faktor lain, harga minyak dunia saat ini sangat tinggi dan akan lebih berorientasi pada sektor ekspor. Padahal, untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi, mestinya sektor konsumsi yang harus ditingkatkan. Tapi kondisi sekarang ini kan tidak memungkinkan,'' jelas dia.

Di sisi perhimpunan dana perbankan sendiri, belum terlihat kenaikan cukup signifikan akibat kenaikan harga BBM. Kenaikan hanya terjadi pada nilai deposito, namun jumlahnya relatif kecil dan berimbang dengan penurunan nilai tabungan. Itu sebabnya, secara keseluruhan dana terhimpun belum mengalami perubahan meski suku bunga deposito sudah naik dari 8 persen menjadi 12 persen.

''Tren menjelang Lebaran memang seperti itu. Banyak nasabah yang menarik dana segar untuk belanja. Tapi untuk suku bunga kredit sampai saat ini masih bertahan, belum naik,'' imbuh dia. (H12-59 )


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA