| Jumat, 28 Oktober 2005 | BANYUMAS |
Bertafakur Menunggu LailatulkadarBagi umat Islam, hari-hari ini adalah hari penentuan dalam perlombaan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dengan harapan besar mereka menunggu Lailatulkadar atau malam seribu bulan yang biasanya hari ganjil (selikuran). Mereka berupaya menangkap tanda-tanda malam istimewa yang tak mudah dijumpai itu. Lewat berzikir, shalat malam, dan doa-doa penuh kepasrahan sebagai hamba yang lemah, mereka berharap menjumpai malam mukjizat itu. Modal penting bagi mereka adalah kebersihan hati dan ketulusan jiwa. Selama 10 hari ini di Masjid Agung Baitusalam, Purwokerto, kompleks alun-alun, misalnya, panitia amaliyah ramadan menyiapkan iktikaf. Kegiatan itu dimulai sejak Senin (24/10). ''Selain shalat malam bersama-sama, berzikir, bertasbih, dan bertadarus, kami mengaji masalah keagamaan bersama ustad muda secara bergantian,'' kata H Sudarman SAg, ketua panitia amaliyah Ramadan masjid terbesar di Banyumas itu. Panitia juga menyediakan makanan berbuka puasa bagi anak-anak jalanan dan musafir. Setiap hari 100 bungkus. Sebelum berbuka, mereka mendengarkan ceramah keagamaan. Masjid Fatimatuzahro, kompleks Unsoed Purwokerto, juga menyambut Lailatulkadar dengan berbagai kegiatan keagamaan. Kaum muslim yang bertafakur begitu banyak, khususnya mahasiswa dan ustad muda. ''Saya tak mau kehilangan kesempatan menjumpai Lailatulkadar. Setiap malam saya bertafakur di sini,'' ujar Warsito (25). Dia tak henti-henti bertadarus dan berzikir. (Agus Wahyudi-53) |