logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Oktober 2005 RAGAM
Line

Minyak Jarak Pagar Pengganti BBM, Mengapa Tidak?

TINGGINYA harga minyak dunia dan besarnya tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) membuat orang beramai-ramai mencari energi alternatif pengganti BBM. Salah satu energi alternatif yang menjadi primadona adalah biodiesel.

Beberapa perusahaan minyak dunia telah mulai meliriknya. North Dakota Biodiesel Inc, misalnya menginvestasikan 50 juta dolar AS untuk proyek biodiesel di Minot, North Dakota, USA. Biodiesel ini berbasis pada tanaman canola (sejenis gandum). Inilah proyek terbesar di wilayah Amerika Utara, dengan produksi 100 ribu ton BBM. Biodiesel itu dihasilkan dari 144 ribu hektar kebun canola.

Produsen minyak kelapa sawit di Malaysia, IOI Corp dan Kuok Oil & Grains juga telah membangun dua penyulingan minyak kelapa sawit di Roterdam yang memproduksi lebih dari satu juta ton minyak kelapa sawit dalam satu tahun. Industri ini berencana memenuhi kebutuhan biodiesel di Eropa pada masa depan.

Sementara itu, perusahaan minyak raksasa Brazil, Petrobras akan meningkatkan ekspor etanol sampai 9,4 miliar liter pada 2010, dari dua miliar liter tahun 2005. Saat ini, Japan Mitsui & Co dan Vale do Rio Doce (CVRD) turut mendukung rencana Petrobras melalui studi peningkatan ekspor etanol Brazil.

Perusahaan dunia tersebut bukan tanpa alasan bila menjatuhkan pilihan kepada biodiesel. Apalagi secara prinsip kimia, penemuan energi alternatif berbeda tipis dengan penemuan energi konvensional (minyak bumi). Sebab, keduanya sama-sama mengaktifkan energi matahari.

Hanya saja, minyak bumi terjadi karena dipres sekian lama di perut bumi. Namun energi itu bisa disimulasi di dalam tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan. Proses simulasi energi inilah yang menghasilkan bahan bakar biodiesel.

Minyak Jarak Pagar

Bagaimana dengan Indonesia? Saat ini di Indonesia tengah dikembangkan bahan bakar alternatif biodiesel dari minyak jarak pagar (Jatropha Curcas).

Minyak jarak berpotensi dapat menghemat pemakaian BBM sekitar 100.000 barel/hari. Minyak jarak pagar menjadi pilihan karena tanaman jarak mudah ditanam. Tanaman semak keluarga Euphorbiaceae ini dapat tumbuh di lahan kritis dan tidak membutuhkan banyak air serta pupuk. Tanaman jarak pagar umumnya dapat dipanen setelah berusia enam sampai delapan bulan. Namun, baru mampu menghasilkan buah yang optimal pada usia lima tahun. Dari tiap 12,5 tonnya memiliki kandungan minyak sekitar 1.900 liter. Sebab, baik biji maupun kulit (karnel) buah jarak itu sama-sama memiliki kandungan minyak, yaitu masing-masing 33% dan 50%.

Untuk Obat

Selain biji dan buahnya yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti minyak diesel (solar) dan minyak tanah, bagian-bagian lain tanaman ini juga berguna. Daunnya untuk makanan ulat sutra, antiseptik, dan antiradang.

Sedangkan getahnya untuk penyembuh luka dan pengobatan lain. Sementara itu daging buahnya bisa untuk pupuk hijau dan produksi gas dan bijinya untuk pakan ternak (dari varietas tak beracun).

Menurut data Biro Pusat Statistik saat ini lahan kritis yang ada di Indonesia sekitar 13 juta hektar. Pemanfaatan 3 juta ha lahan saja untuk menanam sebanyak 7,5 miliar pohon jarak pagar diperkirakan mampu menghasilkan biodiesel 92.000 barel per hari atau setara dengan 20% kebutuhan minyak solar nasional yang sekitar 460.000 barel per hari.

Tanaman jarak pagar juga mudah beradaptasi dengan berbagai cuaca. Karena itu pembudidayaannya tak terlalu sulit. Meski demikian, untuk mendapatkan tanaman dan buah yang unggul, perlu juga dilakukan sentuhan bioteknologi.

Hal itu perlu untuk menghasilkan bibit jarak pagar yang memiliki kemampuan menyerap unsur hara, terutama nitrogin serta mikronutrien (Zn, Mo, Fe dan Cu) lebih baik. Selain itu, bibit tanaman tersebut akan memiliki peningkatan ketahanan terhadap kekeringan, dan serangan petrogen akar.

Minyak jarak pagar memiliki angka cetane 51. Ini lebih tinggi dibanding yang dimiliki solar yang 45. Selain itu, titik pengabutan (pour point minyak jarak berada pada suhu 8 derajat Celsius, sedangkan solar 10 derajat Celsius.

Proses Mudah

Proses pengolahan minyak jarak pagar relatif mudah. Untuk menghasilkan minyak skala kecil (0,5-0,6 ton per hari) cukup dengan mengepres biji jarak yang sudah kering menggunakan mesin diesel satu silender sekitar 15 HP, sehingga menghasilkan minyak jarak kasar dan bungkil.

Tahapan selanjutnya adalah menyaring dengan menggunakan mesin penyaring sehingga dihasilkan minyak jarak bersih. Kemudian dilakukan proses pemurnian terhadap minyak jarak yang sudah bersih tersebut sampai menghasilkan minyak jarak murni yang siap jual.

Pada sistem produksi minyak jarak skala kecil ini, energi yang diperlukan untuk menggerakkan mesin pres juga dapat memanfaatkan minyak jarak hasil perasan atau yang lazim disebut dengan pengoperasian mesin straight vegetable oil (SVO).

Investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan produksi minyak jarak sekitar 0,5 - 0,6 ton per hari adalah sekitar Rp 110 juta, belum termasuk biaya untuk pembelian tanah dan bangunan.

Menariknya lagi, harga jual minyak biodiesel dari jarak pagar ini juga relatif lebih murah dibandingkan harga jual minyak solar. Jika harga biji jarak rata-rata Rp 500 per kg, dengan biaya produksi yang diperkirakan Rp 350 - Rp 600 per liter, harga jual netto minyak jarak itu sekitar Rp 1.400 - Rp 2.100 per liter. Bandingkan dengan harga BBM saat ini.

Saat ini, ada empat lembaga yang menanam jarak. Pertama, perkebunan milik PT Rekayasa Industri dan Institut Teknologi Bandung (ITB) berlokasi di Nusa Tenggara Barat (NTB) seluas 12 ha dengan 30 ribu pohon. Kedua, perkebunan milik PT Energi Alternatif Indonesia (ada 48 ribu pohon). Ketiga, Departemen Pertanian (3 ribu pohon) di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dan keempat, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang menanam jarak pagar di 2000-2500 ha lahan gundul di Purwakarta. RNI sudah menanam jarak pagar di Indramayu seluas 850 ha. Selain itu di Bireun, Nanggroe Aceh Darussalam, ITB, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Departemen Sosial (Depsos) telah bekerja sama menghidupkan 400 ha lahan kritis dengan menanaminya jarak pagar.

Kendati sudah ditanam di beberapa tempat, budidaya jarak belum terkoordinasi secara nasional. Ini ironis, mengingat besarnya potensi di belakangnya. Sebab, bila dari seluruh tanah tandus seluas 13 juta ha ditanam jarak pagar, solar yang dihasilkan lebih dari 400 ribu barel.(Maratun Nashihah-12)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA