logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 21 Oktober 2005 OLAHRAGA
Line

Dana PSIS Jangan Tergantung APBD

SEMARANG - Ketergantungan PSIS Semarang pada APBD mulai mendapat sorotan. Ketua Komisi A DPRD Jateng H Subyakto SH MH menantang manajemen tim Mahesa Jenar untuk mencari dana di luar APBD.

Dia mengatakan, selama ini manajemen tim di bawah Yoyok Sukawi "dimanjakan" kucuran dana dari APBD. Bahkan, untuk membiayai kompetisi mendatang, pengelola Laskar Mahesa Jenar meminta Rp 10 miliar.

"Kalau DPRD Kota Semarang selalu mengucurkan dana untuk PSIS, saya yakin cabang-cabang olahraga lain akan iri. Sebab, selama ini cabang-cabang lain kurang dipedulikan dalam hal pendanaan untuk pembinaan," ujar Subyakto yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Jateng ini, kemarin.

Dia memaklumi kalau manajemen tim tetap mendapatkan sokongan dari APBD. Namun jumlahnya tak boleh sebanyak itu. Sebaiknya, lanjut pengacara ini, Yoyok dan kawan-kawan mencari dana utama di luar APBD.

"Dengan pengalaman tiga kali membawa tim, saya rasa Yoyok cs mampu menggali dana tanpa merecoki APBD," tegasnya.

Harus Jelas

Sementara itu, mantan Manajer Tim PSIS Simon Legiman menuturkan, jika dana Rp 10 miliar itu direalisasikan, maka pihak manajemen harus jelas dan transparan dalam pemakaiannya. Sebab, uang rakyat itu mesti digunakan dengan benar.

"Dengan dana sebesar itu, pengelola tim harus menjabarkan targetnya apa. Jangan sampai sudah keluar biaya banyak, tapi prestasi yang dicapai begitu-begitu saja," ungkap Simon Legiman.

Ditanya soal pembiayaan tim di luar APBD, pengusaha yang gila sepak bola ini menyatakan sangat sulit. Pasalnya, sepak bola di Indonesia belum bisa dijadikan industri seperti di Eropa. Pemasukan tiket dari penonton masih kurang mendukung.

"Mengenai fakta Yoyok mendapat kemudahan dana dari APBD, semua orang tahu kenapa bisa begitu," paparnya diplomatis.

Dia yang pernah menjadi manajer tim Persebaya Surabaya ini menjelaskan, penentuan target sangat penting karena berhubungan erat dengan dana yang tersedia. Jika dananya pas-pasan, tak mungkin sebuah tim memasang target tinggi.

"Kalau dengan dana 10 miliar rupiah, logikanya ya mematok sasaran juara. Pada musim lalu PSIS menduduki urutan ketiga, maka pada kompetisi mendatang yang pas ya mesti juara," ujar figur yang suka bicara blak-blakan ini.

Pada kesempatan itu dia menceritakan suka dukanya ketika ikut menangani Laskar Mahesa Jenar. Namun kini dia tak punya gairah lagi untuk berkiprah. "Saya jengkel karena pernah dijanjikan uang saya ketika menangani tim akan diganti, tapi sampai sekarang nggak ada kabarnya."(A7-31)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA