| Jumat, 21 Oktober 2005 | WACANA |
Nuzulul Quran Bukan 17 RamadanOleh Muhibbin NoorENTAH bagaimana asal muasalnya kaum muslimin meyakini bahwa Allah SWT menurunkan Alquran pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW tepat pada tanggal 17 Ramadan, sehingga sampai saat ini setiap tanggal 17 Ramadan selalu diadakan peringatan untuk mengenang diturunkannya kitab suci bagi umat Islam ini. Padahal tidak ada satu pun keterangan yang dengan jelas memberikan informasi tentang tanggal 17 itu sebagai hari diturunkannya Alquran, melainkan hanya perkiraan penafsiran yang kurang tepat. Barangkali ada yang menganggap bahwa persoalan kapan diturunkannya Alquran tidak terlalu penting, tetapi sesungguhnya bagi orang yang menekuni bidang sejarah dan bahkan siapa pun yang menginginkan kepastian dalam rangka mendapatkan kebenaran, masalah ini menjadi sangat penting. Karena itulah, masalah ini akan dikaji dengan menggali kembali isi kandungan Alquran dan hadis Nabi. Dalam ayat ke-41 Surat Al-Anfal, disebutkan: ''Dan ketahuilah bahwa apa-apa yang kamu peroleh dalam pertempuran, yang seperlima adalah kepunyaan Allah, utusan-Nya, kaum kerabat, anak yatim, kaum miskin, dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari furqan, hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah itu berkuasa atas segala sesuatu.'' Atas ayat ini para mufasir memberikan penafsiran bahwa hari furqan, yakni saat pasukan kaum muslimin bertempur melawan kaum kafir Quraisy dalam pe-rang Badar, adalah sebagai hari turunnya Alquran. Oleh kaum sejarahwan, hari pertempuran itu dicatat terjadi pada tanggal 17 Ramadan. Para mufasir menyimpulkan Alquran itu diturunkan pada saat hari furqan yang kebetulan terjadi pada tanggal 17 Ramadan, dan peringatan nuzulul Quran jatuh pada setiap tanggal 17 Ra-madan. Bukti Lain Penafsiran yang diberikan oleh para mufasir, sebagaimana disebutkan itu, ternyata tidak mendapatkan bantahan dari mufasir maupun ulama berikutnya. Arti-nya bahwa kesimpulan Alquran diturunkan oleh Allah pada 17 Ramadan disetujui dan dibenarkan. Padahal penafsiran itu, menurut hemat penulis, banyak mengandung kelemahan. Kelemahan tersebut dapat dilihat dari kandungan ayat ke-41 Surat Al-Anfal itu sendiri dan juga dari ayat-ayat lain serta hadis-hadis Nabi. Kata ''apa'' dalam ayat tersebut tidak dapat dikatakan sebagai Alquran secara keseluruhan, tetapi hanya ayat atau bagian dari Alquran. Sebab sebagaimana diketahui, Alquran diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad untuk pertama kali ketika Nabi berada di Gua Hira. Sedangkan ketika perang Badar terjadi, Nabi Muhammad telah berkali-kali menerima wahyu. Atau dengan kata lain, ketika Nabi menerima wahyu pada saat perang Ba-dar, itu bukan wahyu yang pertama, se-hingga yang dimaksudkan dengan kata ''apa'' dalam ayat tersebut adalah beberapa ayat yang diturunkan oleh Allah pada saat perang Badar itu terjadi, antara lain ayat tentang motivasi Allah agar kaum muslimin berani menghadapi ka-um musyrikin, dan ayat tentang bala bantuan Allah (berupa malaikat) kepada kaum muslimin pada saat melawan kaum kafir tersebut. Berdasarkan pemahaman ini, tidak tepatlah kalau peringatan turunnya Alqur-an diperingati pada tanggal 17 Ramadan, walaupun pada tanggal itu Allah menurunkan sebagian ayat kepada Nabi Muhammad. Kalau kemudian ayat tersebut dipahami sebagai bertepatan tanggalnya saja, sedangkan peristiwa pemberian wahyunya juga terjadi pada saat Nabi berada di Gua Hira, tentu hal ini sangat jauh dan ti-dak didukung dengan argumentasi yang kuat. Kelemahan penafsiran tentang pene-tapan tanggal 17 Ramadan sebagai nuzulul Quran juga didukung ayat lain dan hadis-hadis. Dalam Surat Al-Qadar, khususnya ayat pertama, Allah berfirman: ''Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran pada malam yang agung (lailat al-qadar).'' Ini memberikan pengertian dan informasi secara jelas dan tegas bahwa Alquran itu diturunkan oleh Allah pada malam qadar. Pertanyaan selanjutnya adalah kapankah lailatul qadar itu terjadi? Untuk persoalan ini memang tidak ada satu ayat pun yang secara gamblang memberikan informasi. Ayat yang ada hanya memberikan gambaran bahwa lailatur qadar itu nilainya lebih baik daripada seribu bulan, dan pada saat itu dengan izin Allah, para malaikat turun ke dunia untuk menebarkan kedamaian dan rahmat hingga terbit fajar. Sedangkan kapan terjadinya malam yang agung tersebut, tak ada penjelasan dari ayat tersebut. Penjelasan tentang kapan lailatul qadar itu terjadi ditemukan dalam hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan secara sahih. Di antara hadis yang menjelaskan tentang ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan juga para imam hadis lainnya. Hadis-hadis tersebut mengisyaratkan bahwa lailatul qadar itu terjadi pada salah satu dari sepuluh hari terakhir atau sepertiga terakhir di setiap bulan Ramadan. Atas dasar informasi ini, sesungguhnya menjadi semakin jelas dan sudah dapat diambil suatu pengertian bahwa Alquran itu diturunkan oleh Allah pada lailatul qadar, yakni malam-malam setelah tanggal 20 Ramadan. Bisa jadi pada tanggal 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, atau tanggal 30 Ramadan. Hadis-hadis lain memberikan informasi bahwa Allah menurunkan suhuf Ibrahim pada awal Ramadan, Taurat pada 6 Ramadan, Injil pada 13 Ramadan, Zabur pada 18 Ramadan dan menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad pada tanggal 24 Ramadan. Beberapa penulis hadis yang meriwayatkan hadis sebagaimana yang dimaksud antara lain Ibnu Abi Syaibah. Dalam kitab Mushannaf-nya juz VI pada halaman 144 ia meriwayatkan tiga hadis mengenai hal ini. Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad-nya pada juz IV halaman 107 juga meriwayatkan hadis yang sama, Al-Baihaqi dalam kitab Sunan Al-Kubra-nya pada juz IX halaman 188 meriwayatkan hadis tentang hal yang sama. Demikian juga Al-Tabrani dalam kitab Al-Ausath-nya pada juz IV halaman 111, Al-Haitsami, dalam kitabnya Majma' Al-Zawaid juz I, halaman 97, dan Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu`bul Iman juz II halaman 414. Melihat kenyataan ini, kiranya menjadi sangat jelas bahwa atas dasar informasi yang diberikan secara tegas oleh ayat Alquran maupun hadis-hadis Nabi, peristiwa turunnya Alquran itu dapat disimpulkan terjadi pada 24 Ramadan, dan karena itu, peringatan nuzulul Quran seyogianya diperingati pada tanggal 24 Ramadan, bukan pada tanggal 17 Ramadan sebagaimana yang selama ini telah berjalan dan dilaksanakan oleh kaum muslimin. (24) -Prof Dr H Muhibbin Noor MAg, guru besar ilmu hadis Fakultas
Syariah IAIN Walisongo.
|