logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 21 Oktober 2005 MURIA
Line

Ponpes Al Qoumaniyyah Kudus

Ajarkan Berpuasa 1-3 Tahun untuk Tingkatkan Iman

PONDOK Pesantren (Ponpes) Al Qoumanyyiah, konon merupakan yang pertama atau cikal bakal ponpes di kawasan Jekulo, Kudus. Ponpes yang usianya sudah separo abad lebih dan telah meluluskan lebih dari 2.000 santri itu, terletak di Dukuh Kauman, Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kudus, atau lebih dikenal dengan sebutan Bareng (15 kilometer dari Kota Kudus).

Kini, ponpes yang dirintis oleh K H Yasin, seorang ulama dari Cebolek, Kajen, Pati, itu mempunyai tiga kompleks bangunan. Salah satu gedung yang ada, didirikan pada 1918 dan hingga kini masih tetap kokoh serta dipergunakan untuk aktivitas para santri. Mereka selain berasal dari Jateng, ada juga yang dari Jatim.

Menurut keterangan pengasuh ponpes, Kiai M Mudjib, salah seorang cucu pendiri, proses pembelajaran agama di tempat itu dibarengi dengan riyadhoh. Cara tersebut diyakini mampu meningkatkan keimanan dan keilmuan dengan lebih cepat.

"Dengan tirakat berpuasa selama 1-3 tahun, maka diyakini ilmu akan terserap lebih cepat. Selain itu, dapat meningkatkan keimanan para santri," ujarnya.

Pantangan Makan Ikan

Bahkan sebelum 1975, terdapat peraturan yang melarang para penghuni ponpes makan dari mahluk-mahluk bernyawa, seperti ikan, daging, dan telur. Setelah tahun tersebut, larangan itu hanya bersifat anjuran.

Sejak awal, KH Yasin memimpin dan mengasuh sendiri Ponpes Al Qoumaniyyah. Setelah beliau wafat pada 1955, kepemimpinan diteruskan oleh salah seorang putranya, Kiai Muhammad, dengan dibantu Kiai Ahmad Basyir yang merupakan salah seorang kinasih KH Yasin.

Pada 1999, ponpes tersebut diasuh oleh para cucu KH Yasin, yakni Kiai M Mudjib, Kiai Yasin, dan Gus Hidlir.

Salah satu keistimewaan ponpes itu, adalah pada awalnya menggunakan pengajaran dan pengalaman Thariqah Dalail al-Khairat yang hingga kini masih diteruskan. Metode yang dipergunakan oleh ponpes tersebut, yakni sorangan dan bandongan.

Penekanan pembelajaran, terletak pada fiqih; namun tidak menutup kemungkinan diajarkan juga ilmu nahwu, ilmu shorof, ilmu tafsir, dan hadis.

Tercatat sejumlah tokoh alumnus pesantren tersebut, yakni KH Zein (Pati), KH Ahmad Basyir (Jekulo-Kudus), dan KH Muhammadun (Tayu-Pati). (Satryani Kartika Ningrum-17a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA