| Jumat, 21 Oktober 2005 | MURIA |
Hutan Rakyat Damarwulan Maju ke Tingkat NasionalJEPARA - Hutan rakyat di Desa Damarwulan, Kecamatan Keling, Jepara maju ke tingkat nasional mewakili Jawa Tengah dalam lomba kegiatan hutan rakyat swadaya. Tim penilai dari Departemen Kehutanan, baru-baru ini mengunjungi kawasan hutan yang berada di lereng utara Muria. Ikut mendampingi tim penilai, Bapedal, Dinas Kehutanan Provinsi Jateng, Balai Pengendalian DAS Pamali Jratun. Sebelum ke lapangan, mereka diterima di ruang kerja Wakil Bupati Ali Irfan Mukhtar BA, mewakili Bupati Drs Hendro Martojo MM. Tim mendapatkan pemaparan seputar hutan rakyat Damarwulan yang dikemukakan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Ir Suripno MSi. Ketua Kelompok Tani Langgeng Makmur VII Damarwulan, Masruri mengemukakan, kelompok yang ia pimpin terbentuk sejak 1984, dengan nama Kamandoko Makmur beranggotakan 17 orang yang memiliki luas areal 10 ha, dengan kegiatan terfokus pada peningkatan hasil tanaman yang baik dan hanya untuk pemenuhan konsumsi anggota. Saat ini, anggotanya 67 orang yang terbagi dalam subkelompok Taruna Tani, Kamandoko, dan Wanita Tani Mekarsari, ketiganya melebur dalam Kelompok Tani Langgeng Makmur VII. Lahan yang dikelola 97,742 ha. Kegiatan hutan rakyat berkembang dan membawa dampak pada subkelompok lain hingga mencapai 768,138 ha, tersebar di blok-blok Desa Damarwulan. 11 Ribu Jiwa Area itu hampir menyebar di sebagian wilayah desa yang luasnya 837,448 ha dan berpenduduk 11 ribu jiwa. Dikemukakan, para anggota kelompok sebagian besar justru para muda-mudi. Sementara ibu-ibu lebih banyak terlibat dalam pengolahan produk menjadi bahan jadi/matang. Agar menjalin komunikasi, diadakan pertemuan dan arisan secara berkala. Di arena hutan juga memanfaatkan tanaman sela (agro forestry). Contohnya, di bawah tanaman tegakan utama ditanam kopi, lada, cokelat. Melimpahnya dedaunan hijau, dimanfaatkan untuk ternak kambing peranakan etawa (PE). Untuk menjaga kelestarian alam, setiap pohon tua yang ditebang, langsung digantikan dengan tanaman baru. Dengan pola itu, hasilnya sangat terasakan bagi warga. Selain tanah yang subur, juga melimpahnya sumber air tanah. Di Damarwulan, ditemukan delapan titik mata air. Selain itu, sejumlah satwa hutan juga turut berkembang biak dengan aman. (kar-17d) |