| Jumat, 21 Oktober 2005 | MURIA |
Satu Pasien DBD MeninggalKUDUS - Seorang balita pasien demam berdarah dengue (DB) Badan Rumah Sakit Daerah (BRSD) Kudus sepekan yang lalu, kini meninggal. Bocah perempuan berusia empat tahun itu, sebelumnya dirawat selama tiga hari di rumah sakit setempat. Kepala Sub-Bagian Rekam Medik BRSD Kudus, dokter F Hikari Widodo, kemarin di ruang kerjanya mengatakan, ketika dibawa ke rumah sakit, penyakit DBD yang diderita warga Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus, tersebut sudah stadium empat (tertinggi). "Ketika dibawa ke rumah sakit pada 11 Oktober lalu, pasien sudah dalam stadium dengue shock syndrom. Stadium Itu adalah tingkatan tertinggi pada penyakit DBD," ujarnya. Dia lantas mengingatkan kepada masyarakat untuk mewaspadai penyebaran DBD, terlebih di musim penghujan ini. Jika terdapat anggota keluarga yang menderita panas tinggi selama dua hingga tujuh hari, menurutnya, sebaiknya langsung diperiksakan ke dokter atau rumah sakit setempat. Selanjutnya, akan dilakukan pengecekan trombosit di laboratorium. Mimisan Dia menjelaskan, selain panas tinggi, gejala serangan DBD antara lain terdapat bintik merah pada kulit dan mimisan. Dapat juga ditandai ketika menggosok gigi keluar darah dari gusi. Dia memaparkan, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kudus (DKK) dalam penanganan DBD. Dia memprediksi, Desember-Januari nanti merupakan bulan dengan angka pasien DBD tertinggi. Hal tersebut, merujuk kepada data angka pasien penyakit DBD 2004. "Saya memperkirakan Desember-Januari nanti merupakan puncak dari serangan DBD. Hal yang sama telah terjadi pada tahun lalu," katanya. Berdasarkan data yang ada, pada Januari-Oktober 2005, jumlah pasien yang dirawat di BRSD sebanyak 242 orang, satu pasien di antaranya meninggal dunia. Pada 2004, jumlah kasus DBD di BRSD sebanyak 849, dengan jumlah pasien yang meninggal dunia sembilan orang. Dikatakannya, berdasarkan data yang ada, selama 1-15 Oktober ini terdapat tujuh pasien yang dirawat di BRSD. Dari tujuh pasien tersebut, lima di antaranya berusia di bawah lima tahun. Pasien warga Kudus, imbuhnya, sebanyak empat orang, sedangkan sisanya berasal dari Jepara.(tik-17a) |