| Jumat, 21 Oktober 2005 | INTERNASIONAL |
Liga Arab Dukung Rekonsiliasi IrakBAGDAD - Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Moussa berkunjung ke Bagdad, Kamis kemarin. Itu merupakan lawatan pertamanya pascainvasi 2003. Kunjungan Moussa itu membawa misi mendukung rekonsiliasi nasional Irak. Beberapa pejabat Liga Arab mengatakan, Moussa akan bertemu dengan PM Irak Ibrahim Jaafari, Presiden Jalal Talabani, dan ulama terkemuka Syiah Ayatollah Ali al-Sistani. Untuk alasan keamanan, organisasi negara-negara Arab itu tidak mengumumkan jadwal lawatan Moussa selama di Irak. Ketika delegasi Liga Arab berkunjung ke Irak awal bulan ini, sekelompok orang bersenjata menyerang iring-iringan kendaraan delegasi itu. Dalam serangan itu, tiga polisi yang mengawal konvoi tersebut tewas. Moussa datang ke Irak pada waktu yang lumayan rawan. Negeri itu tengah menggelar pengadilan mantan presidennya, Saddam Hussein. Sidang pertama dimulai Rabu lalu. Saddam didakwa melakukan kejahatan kemanusiaan. Dia dituduh terlibat pembantaian 148 warga Syiah di Desa Dujail pada 1982. Saddam menyatakan tidak bersalah. Sidang tersebut akan dilanjutkan pada 28 November 2005. Para pejabat Irak dan Amerika Serikat berharap, pengadilan kasus Saddam itu akan membantu rakyat Irak mengubur masa lalu mereka. Di samping itu, mereka juga berharap perlawanan kaum Suni akan berkurang. Gelombang Serangan Sementara itu, hasil referendum 15 Oktober diperkirakan akan mendukung pengesahan konstitusi baru Irak. Muslim Syiah dan etnis Kurdi menyetujui pemberlakuan konstitusi itu, sedangkan Suni menentang. Dikhawatirkan, perbedaan itu bakal menimbulkan gelombang serangan gerilya yang lebih gencar. Moussa adalah diplomat kawakan Mesir. Dia mengritik buruknya strategi untuk merangkul komunitas-komunitas Irak yang saling bermusuhan. Menurutnya, perang saudara sewaktu-wakut meletus di Irak akibat strategi yang tak efektif itu. Negara-negara Arab mengecam kaum Syiah Iran campur tangan dalam urusan Irak, sehingga memperburuk stabilitas regional. Negara-negara Arab umumnya menganut mahzab Suni, seperti Arab Saudi, Mesir, dan Suriah. Sebagian kalangan di Irak mengritik Liga Arab karena organisasi itu mengabaikan negara tersebut. Beberapa pengamat Arab mengatakan, konstitusi baru Irak kurang mencerminkan identitas Irak sebagai negara Arab. Identitas Arab itulah yang selama puluhan tahun dipertahankan Saddam saat dia berkuasa. Lain dari biasanya, kekerasan jauh berkurang selama pemungutan suara 15 Oktober dan persidangan pertama Saddam. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Satu bom mortir mendarat di sebuah sekolah di Distrik Mansour, Bagdad, kemarin. Seorang bocah tewas. Dua serdadu penjaga dan empat warga sipil luka-luka akibat serangan mortir tersebut.(rtr-ben-26) |