| Senin, 17 Oktober 2005 | WACANA |
Surat PembacaSoal Saluran AirHarus diakui perkembangan pembangunan di Kabupaten Kebumen terus meningkat. Pengaspalan jalan merata sampai ke pedesaan termasuk beroperasinya sarana angkudes. Ini tentu akan membawa dinamika tersendiri bagi ma-syarakat, baik sosial maupun ekonorni kecil. Saya salut. Namun rupanya pembaikan sarana jalan belum diimbangi dengan perbaikan atau perawatan saluran irigasi secara memadai. Misalnya di jalur saluran induk Bersole untuk kawasan Desa Kebulusan dan Aditirto, Kecamatan Pejagoan. Saya cermati, untuk frekuensi perawatan sungai/saluran irigasinya bisa dihitung dengan jari. Walhasil, mulai terjadi pendangkalan serta terlihat njembrung (kotor), tak terawat. Teramat sayang jika nantinya, gerusan air merusak konstruksi badan jalan yang telah dimakadam atau diaspal rapi, lebih-lebih memasuki musim penghujan. Mohon Pemkab Kebumen, Dinas Pengairan, maupun pemerintah desa beserta masyarakat, bisa bekerja sama mengatasi persoalan ini. Bravo Keburnen "Beriman". Sukron Makmun Kebulusan Rt 13/Rw 3, Kebumen *** Masak Bareng Mahal dan langkanya minyak tanah membuat rakyat punya semangat mencari alternatif agar dapur tetap mengepul. Spirit ini memang tumbuh dalam suasana terhimpit dan penuh kesulitan. Hal ini dibuktikan ibu-ibu warga Grumbul Kalibagor, Rejasari, Purwokerto Barat. Mereka punya ide brilian yaitu masak bareng dengan menggunakan kayu bakar. Sungguh tulada yang patut diacungi jempol. Dalam kesulitan ternyata bisa menumbuhkan keguyuban, kegotongroyongan dan keweharimahan yang begitu indah. Tak ada minyak tanah, kayu bakar pun bisa dimanfaatkan. Boleh jadi mereka punya prinsip, bagaimana pun kondisinya hidup mesti terus berlanjut. Tak ada rotan akar pun jadi. Sebuah anatomi sikap kedewasaan yang kerap hinggap di tubuh rakyat. Sedang badan penguasa lebih sering dilumuri minyak justru bersikap kekanakan. Korupsi, manipulasi, aji mumpung dan sikap mental picisan adalah produk dari sikap kekanakan. Jika sikap ini selalu disandang penguasa/pejabat, boleh jadi setelah rotan hilang akan menyusul akar pun sirna. Jika sudah demikian, walhasil kita akan menanti suatu multikedewasaan rakyat yang lebih heroik dalam mencari pengganti akar. Rakyat yang selalu harus mencari pengganti akar. Sebab pengelola negeri alias penguasa atawa pejabat tugasnya nanti lebih banyak memupuskan pengganti akar... M Fahrudin Hidayat Jl R Patah 2 Bawang, Batang *** Soal Pawai Simpatik Setelah dimuatnya Surat Pembaca saya 2 Oktober 2005 tentang ''Pawai simpatik yang tak simpatik'', keesok harinya Bapak Thomas Surya Edy selaku panitia pawai datang ke rumah. Dengan berbesar hati dan penuh tanggung jawab beliau meminta maaf atas kejadian yang menimpa saya. Beliau juga mengganti kerusakan mobil saya. Untuk itu saya ucapkan terima kasih atas kesediaan beliau menyelesaikan masalah yang sebetulnya bukan tanggung jawabnya secara langsung. Agnestha Kenconowungu V/12 Semarang *** Subsidi BBM Langkah Pemerintah menaikkan harga BBM dalam rangka menghemat subsidi adalah tindakan tepat yang patut didukung . Subsidi khususnya premium selama ini dirasakan kurang tepat sasaran mengingat separo lebih penikmatnya dari golongan menengah ke atas. Tanpa diberi subsidi pun mereka mampu membeli. Buktinya premix tanpa subsidi juga laku. Masak beli mobil tahun 2000 ke atas bisa, tetapi BBM-nya minta disubsidi. Memang dampak negatifnya ada yaitu kenaikan harga barang dan transportasi, tetapi ada juga positifnya antara lain: Mengurangi kepadatan jalan raya, mendidik masyarakat berpola hidup sesuai kemampuan. Rakyat dipaksa berperilaku hemat terhadap sumber daya alam dan perlu pikirkan kebutuhan anak cucu. Bila harga BBM dalam negeri sudah setara dengan negara ASEAN, maka penyelundupan, pencurian, penimbunan jadi minimal. Mahasiswa akan lebih konsentrasi belajar sebagai penerus bangsa karena jadwal demo tidak ada lagi . Anggaran subsidi dapat dipakai untuk cicilan bayar utang, agar negara lebih terhormat dan tidak menyandang predikat negara pengutang terbesar dunia. Dengan membaiknya kesejahteraan aparatur negara, pelayanan kepada masyarakat akan optimal dan hukum dapat diterapkan tanpa pilih bulu dan pilih sasaran. Semoga Indonesia akan mejadi negara kuat, dihormati negara lain dan mampu menanggalkan predikat ''Negara Pengutang" serta "Negara Terkorup". H Choirul Anam Tegalrejo Rt 1/Rw 1 Tengaran *** Pembongkaran Marabunta Setelah atap Marabunta Semarang dibongkar maka DTK dan Pemukiman Kota Semarang tertanggal 28 September 2005 pukul 09.00 kirim surat sehingga saya sebagai wakil pemilik bangunan tersebut tergesa-gesa ikut rapat yang dipimpin Bapak Ir Gunawan Wicaksono. Saat rapat baru satu jam, ada seseorang minta Pak Gunawan agar wakil pemilik bangunan keluar sebab akan membicarakan kasus Marabunta secara rahasia. Walau merasa malu dan terhina, saya langsung keluar. Sekitar pukul 12.00 pimpinan memanggil saya kembali masuk ke ruang rapat dan langsung ditutup. Saya menyesal, merasa dipermalukan di depan peserta rapat. Atas kejadian ini meski orang miskin tapi punya harga diri dan martabat. Mohon Bapak Wali Kota menindaklanjuti sikap pimpinan rapat yang tindakannya kurang pas dan mohon penyelesaiannya. Soeharsono Jl Kumudasmoro Tng III/8, Semarang *** Menimbun Menimbun itu menyumbat. Jika menimbun sesuatu misalnya lemak di tubuh, pada dasarnya saya melakukan penyumbatan pada tubuh sendiri. Jika menimbun (mengisi berlebihan) udara pada sebuah balon, saya pun sebenarnya juga melakukan penyumbatan. Produk dari penyumbatan tentu bukan sesuatu yang menyehatkan apalagi membahagiakan. Tubuh yang disumbat akan menjelma obesitas vang mudah dihinggapi bermacam penyakit misal jantung yang akhirnya membinasakan tubuh sendiri. Balon karet yang diisi udara berlebihan akan menimbulkan ledakan yang melululantakkan balonnya. Jika saya bersukacita menimbun bahan bakar minyak yang sangat diperlukan rakyat dengan tujuan mengeruk keuntungan yang berlipat, maka sebenarnya saya mempersiapkan diri menjemput kehancuran dan meraih malapetaka. Walhasil jika menimbun bahan bakar minyak, berarti saya melakukan kebo-dohan semata.Di negeri ini anehnya orang seperti saya kok masih banyak sekali ya... M.Fahrudin Hidayat Jl.R Patah 2 Bawang, Batang *** PO Sumber Alam Saya penumpang yang 29 Septernber 2005 naik bus Patas AC ''Sumber Alam'' AA 1458 EC dari Semarang tujuan Cilacap. Saat istirahat sekitar pukul 10.30 di RM daerah Butuh Purworejo, HP saya tertinggal karena isi baterai dan saya lapor ke kru bus. Mereka langsung menanggapi dengan baik. Saya bersyukur HP langsung diserahkan dalarn keadaan lengkap. Atas kejujuran dan pelayanan yang baik ditanamkan manajemen terhadap karyawannya, saya ucapkan terima kasih. Semoga menjadi teladan guna menjaga citra dan kepercayaan penurnpang pada PO ''Sumber Alam''. Kasoem Jl Rawa Badak Brt blok F/17, Jakut |