| Senin, 17 Oktober 2005 | SEMARANG |
Khawatirkan Balita Gizi Buruk MeningkatSEMARANG - Para pengamat gizi mengkhawatirkan, enam bulan ke depan jumlah balita yang mengalami gizi buruk akan meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Hal tersebut disampaikan guru besar Undip Prof Dr dokter H Satoto SpGK, Minggu (16/10), ketika menjadi narasumber dalam acara ''Sahur.... Obrolan Ramadan'' di Hotel Ciputra Semarang. Dialog yang langsung disiarkan Radio Smart FM itu merupakan kerja sama radio tersebut dengan Hotel Ciputra Semarang dan Harian Suara Merdeka. Acara itu didukung pula oleh Indomie dari Indofood, Jarum Super, dan Matrik dari Indosat. Penelepon dan pengirim SMS yang beruntung akan memperoleh suvenir dari Indosat, Suara Merdeka, Indomie, dan Marimas. ''Para pengamat gizi, termasuk saya, sudah mengkhawatirkan kemungkinan penurunan tingkat kesehatan masyarakat. Salah satu indikatornya adalah peningkatan jumlah balita gizi buruk,'' kata Satoto yang juga Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Jateng itu. Menurut dia, gizi balita memang merupakan tanggung jawab orang tua masing-masing. Namun secara umum, kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab pemerintah. Dia mengatakan, dalam 10 tahun terakhir jumlah penderita gizi buruk di Indonesia relatif tetap. Namun jika sejak saat ini tidak ada upaya-upaya khusus dari pemerintah, dalam waktu 6 - 12 bulan lagi, jumlah penderita gizi buruk akan meningkat. Karena itu, jika masyarakat mengetahui hal itu, sebaiknya segera melapor kepada pemerintah. Pendidikan Menurutnya, selain faktor ekonomi, persoalan gizi buruk juga terkait dengan faktor pendidikan masyarakat. Faktor pendidikan itu penting karena dengan bekal pengetahuan yang cukup, orang tua dapat memilih makanan yang murah, namun tetap memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya. ''Anak memang memiliki hak untuk mendapatkan makanan bergizi. Hal itu juga merupakan ketentuan WHO,'' kata dia. Makanan bergizi memang tak harus mahal. Namun beberapa unsur seperti karbohidrat dan beragam vitamin harus terpenuhi. Dia memberikan contoh paling sederhana, yakni makanan yang memenuhi empat sehat lima sempurna. Makanan seperti itu sedikitnya harus terdiri atas makanan pokok, lauk, sayur, buah, dan susu. Selain itu, ada faktor yang harus diperhatikan masyarakat, yakni aman dan halal. Saat ini banyak bahan makanan yang pertumbuhannya harus didukung pestisida dan pupuk. Selain itu, banyak pula makanan jadi yang proses pembuatannya menggunakan pewarna untuk tekstil. Karena itu, pengolahan dan pemilihan makanan menjadi sesuatu yang penting. ''Kalau beli kerupuk, jangan yang berwarna karena ada kemungkinan menggunakan pewarna untuk tekstil,'' kata dia. Terkait dengan puasa, dia memberi contoh kebiasaan yang dilakukan Rasulullah saw. Rasulullah terbiasa berbuka dengan air dan makan kurma. Hal serupa juga dilakukannya pada saat sahur. ''Ini adalah simbol. Yakni, pada saat berbuka dan sahur, kita perlu mengonsumsi air dan makanan yang manis. Sebaiknya, hindari pula makanan berlemak saat sahur,'' kata dia. (G6-18n) |