| Senin, 17 Oktober 2005 | BUDAYA |
Petualangan Imajinatif ''Rampokan Java''STASIUN Jakarta Kota, tahun 1946. Di antara mobil, becak, sepeda dan orang-orang yang berlalu lalang, seorang lelaki Belanda tampak berjalan dengan kepala menoleh ke kanan. Sudut matanya mengamati gerak-gerik tiga orang yang tengah terlibat perbincangan: Seorang berseragam militer Jepang, seorang sipil pribumi dan seorang serdadu Gurka yang mencangklong senapan. Raut wajah lelaki itu serius, seperti memendam rasa keingintahuan. Kendati kehidupan berjalan normal, atmosfer revolusi masih terasa kental. Sebuah tulisan ''Merdeka!'' dengan goresan tangan terpacak di dinding stasiun bagian depan. Suasana tersebut terpapar dalam satu panel komik karya Peter van Dongen yang dipamerkan di Rumah Seni Yaitu, Jalan Jambe No 280 Semarang, dari 14-31 Oktober 2005. Ia merupakan bagian dari rentetan cerita ''Rampokan Java'' yang diterbitkan kali pertama oleh Oog & Blik pada 1998. Memang, tidak semua gambar dalam buku komik itu turut ditampilkan. Kendati demikian, hampir semuanya berupa gambar asli, baik sketsa, original plaat maupun gambar berwarna. ''Rampokan Java'' membawa kita berpetualang ke masa lalu, saat Republik Indonesia baru saja merdeka. Secara lengkap, ia berkisah tentang petualangan Johan Knevel, pemuda keturunan Belanda. Berbekal kerinduan mendalam akan kampung halamannya, Knevel, kembali ke Indonesia. Usai ditinggal mati kedua orang tuanya, Knevel berikhtiar menemukan Ninih, pengasuhnya di masa kecil. Setiba di Tanah Hindia Belanda, perjuangannya tidaklah mudah. Lantaran tak sengaja membunuh seorang rekan seperjalanan, ia menjadi buronan. Bersama ''Rampokan Java'', van Dongen juga memamerkan karya sekuel berikutnya ''Rampokan Celebes''. Detail Sisi menarik ''Rampokan Java'' dan ''Rampokan Celebes'' terletak pada proses kreatifnya. Kedua karya tersebut ber-setting waktu medio 1940-an. Padahal, ia baru lahir sekitar 20 tahun sesudahnya, yakni pada 1966. Lebih menarik dari itu adalah kenyataan bahwa van Dongeng belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Indonesia. Namun ia mampu berimajinasi untuk menggambarkan setting dengan detail luar biasa. Bagaimana ia menggambar Hotel Savoy Homann di Bandung, Stasiun Jakarta Kota, serta melukis detail becak, lampu ting, dokar, perahu pinisi, serta pakaian yang dikenakan tokoh-tokohnya. Untuk yang satu ini, ia memerlukan riset dan studi mendalam, baik melalui foto-foto dokumentasi maupun membaca beragam literatur. Kalau boleh disebut, kemampuan yang dimilikinya mungkin setara dengan Asmaraman S Kho Ping Hoo yang mengarang cerita silat dengan modal selembar peta Daratan China. Turut unjuk karya dalam pameran yang diselenggarakan Erasmus Huis, Yayasan Widya Mitra dan Rumah Seni Yaitu tersebut, empat komikus Indonesia, yakni Motulz (Dwi Santoso), Tita (Dwinita Larasati), Cahya (Muhammad Cahya Daulay), dan Beng (Rahadian Beng) yang dipengaruhi gaya komik Eropa. (Rukardi-43) |