| Jumat, 14 Oktober 2005 | PANTURA |
Kelompok Tani Pekalongan Juara II Tingkat NasionalKOTA Pekalongan terus giat melaksanakan pembangunan. Bulan ini dua prestasi tingkat nasional diraih. Pertama, BKM Podosugih - juara pertama Jateng - masuk lima besar tingkat nasional. Dalam waktu hampir bersamaan, prestasi tingkat nasional diraih dalam lomba kelompok tani pelaksana kegiatan percepatan penerapan pemupukan berimbang. "Kali ini, kelompok tani Kota Batik berprestasi sebagai juara II tingkat nasional. Informasi ini kami terima lewat surat Kepala Dipertan Jawa Tengah Ir Sukarno, yang dikirim ke Kota Pekalogan pada 7 Oktober lalu," kata Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Kelautan Kota Pekalongan drh Widagdo. Didampingi Kabag Humas Suharto BBA, dia mengatakan berkat prestasi tersebut kelompok tani Kota Pekalongan mendapatkan tropi, satu unit traktor tangan, dan lima unit hand sprayer. Kapan tropi dan hadiah-hadiah itu diserahkan, sampai Kamis (13/10) kemarin belum ada kepastian. Menurut dia, kegiatan percepatan pemupukan berimbang itu terlaksana setelah para petani mendapatkan bantuan kredit bergulir Rp 300 juta dari "Counter Parsind Second Kennedy Round (CP-SKR) Jepang. Bantuan tersebut berwujud bibit, ponska, dan pupuk urea. Dengan dana tersebut, Kota Batik bisa menanam padi seluas 300 ha yang tersebar di beberapa kelurahan. Di Kelurahan Duwet, Kecamatan Pekalongan Selatan, penanaman dilaksanakan kelompok tani "Duwet" (26 petani) seluas 100 ha dan kelompok Sri Murni (18 petani) seluas 75 ha. Kemudian Kelompok Tani "Kuripan Kidul" (15 petani) di Kelurahan Kuripan Kidul, Kecamatan Pekalongan Selatan, seluas 75 ha dan Kelompok "Baros" (10 petani) Kelurahan Baros, Kecamatan Pekalongan Timur, 50 ha. Produksi Meningkat Pelaksanaan tanam adalah minggu ketiga Desemebr 2004 sampai minggu kedua 2005. Pemupukan berimbang berhasil mendorong pertumbuhan serempak dengan rata-rata anakan antara 19-25 batang/rumpun dan hijau daun merata. Hasilnya, panen padi Maret sampai April 2005 itu melampaui produksi yang selama ini dicapai para petani setempat. Kelompok Tani Baros mencapai produktivitas rata-rata 9,7 ton per hektare, Kelompok Tani Sri Murni 11 ton, Kelompok "Duwet" 9,3 ton, dan Kelompok Kuripan Kidul 11,0 ton. Dengan hasil panen yang bagus itu, kredit lunak yang diambil petani bisa dilunasi sampai Mei 2005 lalu, setelah hasil panen mereka dibeli PT Pertani untuk pembuatan bibit. Harga gabah dibeli Rp 1.625 per kilogram, pada waktu itu. Penjualannya tidak harus ke PT Pertani. Kelompok tani boleh menjual ke perusahaan lain, asalkan harga lebih tinggi. Hanya saja, jika hasil panen dijual ke perusahaan lain, kredit harus lunas dulu. "Penjualan selain ke PT Pertani pernah dilakukan, karena sebuah perusahaan berani membeli Rp 1.650 per kilogram," kata Widagdo. Berkat keberhasilan tersebut, petani penerima kredit mampu mengembalikan pinjaman sesuai jadwal. Bantuan bergulir itu kembali dilaksanakan untuk tahap kedua, dan sekarang para petani penerimanya sedang panen. Yang menggembirakan, para petani sekarang sudah sadar akan manfaat pemupukan berimbang. Dengan demkikian, petani lain diharapkan ikut-ikutan menggunakan teknologi tersebut, agar produktivitas meningkat.(Trias Purwadi-58) |