| Jumat, 14 Oktober 2005 | PANTURA |
Pedagang Pupuk Mengeluh Sepi PembeliTEGAL - Sejumlah pedagang pupuk pertanian mengeluh penjualan sekarang sepi. Mereka menduga kondisi itu disebabkan harga pupuk yang naik pascakenaikan harga BBM. Salah seorang pemilik toko pupuk dan alat pertanian di Jalan Dokter Cipto Mangunkusumo Kota Tegal H Sodikin menuturkan, dibanding dengan penjualan pupuk pada musim tanam lalu, penjualan saat ini sangat menurun. Pihaknya hanya bisa menjual beberapa sak pupuk. "Pada musim tanam, penjualan sampai tiga ton per bulan," ujar dia, kemarin. Seiring dengan kenaikan harga BBM, dia terpaksa menaikkan harga pupuk. Ini dilakukan mengingat biaya angkut pupuk dari gudang di Suradadi Kabupaten Tegal juga naik. Semula dengan beban 7,5 ton sekali angkut Rp 150.000, kini menjadi Rp 300.000. Dengan demikian, biaya angkut per kilogram yang semula Rp 20, naik menjadi Rp 40. Meski biaya transportasi yang harus dikeluarkan naik 100% lebih, dia belum bisa menaikkan harga pupuk, terutama pupuk bersubsidi. Bahkan, harga pupuk yang dinaikkan hanya untuk pembelian tingkat eceran. Untuk pembelian pupuk dalam jumlah besar, lebih dari 50 kilogram atau satu sak, dia tidak menaikkan harganya. "Untuk pupuk jenis ZA yang digunakan tanaman tebu dan padi, dijual Rp 47.500 per sak. Harga eceran Rp 950 per kilogram," kata dia. Sementara untuk jenis pupuk SP 36 yang juga dipakai tanaman tebu dan padi, dijual per sak Rp 70.000 dan eceran per kilogram Rp 1.450. Pupuk jenis NPK, dijual per sak kapasitas 20 kilogram Rp 32.000 sedangkan eceran Rp 1.650/kg. Kenaikan harga yang relatif besar justru terjadi pada obat-obatan, hingga 10%. Kenaikan terjadi pada obat pembasmi ulat penggerek daun padi. Obat yang lain seperti pembasmi ulat pada padi dan tebu, naik 0,5% - 4%. (lei-61m) |