| Jumat, 14 Oktober 2005 | PANTURA |
Kiat Tukang Jok Mobil untuk BertahanReparasi Kursi Rumah Tangga pun DilayaniSIAPA pun tentu akan merasa berat dalam menghadapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Termasuk yang dialami pengusaha kecil, Nasikhin (42), warga Desa/Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Meski sudah puluhan tahun bergelut pada usaha jasa pembuatan jok mobil, lelaki dua anak itu kini merasakan pusing menghadapi dampak kenaikan harga BBM. Masalahnya, ujar dia, antara hasil pendapatan dan biaya pengeluaran tak seimbang lagi. "Saya belum menaikkan ongkos perbaikan jok mobil atau motor. Namun kalau bahan baku, kami jual sesuai dengan kenaikan harga pasar," ujar Nasikhin yang sehari-hari akrab dipanggil Iing. Menurut penuturan dia, kenaikan harga bahan baku kulit rata-rata 20-25% dari harga sebelumnya. Lelaki bercambang lebat itu menyebutkan, kendati kondisi serbasulit dia berusaha terus bertahan. Tempat usahanya di Jalan Raya Talang Nomor 302 dengan dua anak buah, terus dikelolanya seperti semula. Kebutuhan Keluarga Yang paling berat bagi lelaki asal Desa Bandasari, Kecamatan Dukuhturi itu ketika dihadapkan dengan kebutuhan keluarga dan biaya sekolah kedua anaknya. Untuk membiayai rumah tangga, Iing harus banting tulang menjual jasa pembuatan jok mobil, motor, ataupun reparasi kursi rumah tangga. "Dahulu memang saya spesialis memperbaiki jok mobil. Namun, karena sepi dan banyak permintaan untuk membuat jok motor, lalu saya layani," ucapnya. Di sepanjang jalan Kota Tegal-Slawi terutama Jalan Raya Talang, puluhan tukang jok membuka usaha di pinggir jalan. Bahkan, bisnis perbaikan jok di sana berkembang pesat dan tak luput dari persaingan harga. Kendati demikian, Iing menekankan, hingga kini pihaknya belum berani menaikkan harga padahal pengeluaran sehari-hari untuk rumah tangganya makin menggelembung. Sekitar 15 tahun lalu, Iing masih bekerja pada salah satu pembuat jok bernama Judi asal Pepedan, Dukuhturi, Kabupaten Tegal. Merasa sudah mahir, dia membuka sendiri tempat usaha sekitar 500 meter dari majikannya. Waktu kali pertama membuka usaha, Iing mengontrak sebuah kios di pinggir jalan. Kontrakan itu pun tidak bertahan lama karena harga kontrak selalu naik. Dia selanjutnya memutuskan untuk pindah tempat usaha. "Saya sudah lima kali kontrak tempat usaha, sampai yang terakhir ini kepunyaan istri," kata Iing sambil menjahit sebuah perpal pesanan seseorang untuk tas. Dia tidak bisa membayangkan, apabila belum memiliki kios sendiri, kondisi sulit demikian bisa mengakibatkannya bangkrut. "Saya memang seharusnya bersyukur. Meski barang-barang naik, sudah memiliki tempat usaha sendiri," ucapnya. Bagi dia, tak ada yang sulit untuk membuat jok mobil station, jip, atau sedan. Semua bisa dia kerjakan dengan cepat. Tentang bahan baku, tinggal pemakai jasa memilih sesuai dengan selera dan kemampuan kantong. Yang menggunakan bahan kulit jenis oskar lebih mahal ketimbang imitasi atau plastik. Menurut penuturan dia, kalangan atas biasanya menyukai yang mahal namun pengusaha angkot atau yang berkantong tipis biasanya memilih kulit imitasi. Dari sekian banyak pelanggan, Iing menyatakan belum ada yang lari. Walau sering pindah tempat, mereka selalu mencari tempat usaha yang terakhir. Hal itu yang menyebabkan Iing terus bertahan. Karena pada dasarnya, prinsip usaha yang dikembangkan mencari teman sekaligus pelanggan yang bisa menjadi saudara. Dengan demikian, mereka tidak sekali saja datang tetapi terus-menerus sebagai pelanggan tetap. Menyinggung tentang penghasilan, Iing terus terang mengaku tidak bisa menghitung secara global. Sebab, pendapatan hari ini biasanya langsung dia belanjakan untuk kebutuhan makan dan sekolah serta kebutuhan bahan baku. Jika ada sisa, dia akan menabung untuk keperluan yang lebih besar. (Wahidin Soedja-61j) |