| Jumat, 14 Oktober 2005 | PANTURA |
Dukuh Pelutan Lebih Dikenal sebagai PekundenDUKUH Daleman, Kelurahan Pelutan, Pemalang, selalu tak pernah sepi dari kegiatan warganya yang sibuk bekerja. Umumnya, mereka bekerja dalam industri kecil pembuatan gerabah. Dari dukuh itulah, kelurahan tersebut dikenal sebagai sentra penghasil gerabah. Dukuh yang berada di ujung timur Kelurahan Pelutan itu dihuni sekitar 300 keluarga, dan 70 keluarga di antaranya menggeluti pekerjaan pembuatan alat-alat rumah tangga dari tanah liat tersebut. Penduduk lainnya, ada yang bekerja sebagai karyawan swasta, pegawai negeri sispil (PNS), buruh, dan ada pula yang membuat ikan asin. Bervariasinya mata pencaharian warga Dukuh Daleman itu, disebabkan karena mata pencaharian pembuatan gerabah tersisih oleh perubahan zaman, dan makin sedikit generasi yang mau meneruskan. Selain itu, banyak pula para pendatang yang membawa perubahan kehidupan baru di dukuh tersebut. Meski begitu, industri gerabah masih tetap eksis di dukuh tersebut, mewarnai kehidupan perekonomian warga. Bahkan hingga kini, dukuh itu lebih dikenal dengan nama Pekunden (berasal dari nama kendi, yakni tempat air dari gerabah) daripada Daleman. Kepala Kelurahan, Sujitno mengatakan, sejak dulu warganya menggeluti kerajinan gerabah. Namun, pertumbuhannya seolah-olah tidak tampak. Dari dulu hingga sekarang, jumlah perajin maupun produksinya masih tetap itu-itu saja. "Mereka bekerja secara musiman. Biasanya, produksi akan naik jika datang musim ikan atau panen padi. Pesanan gentong untuk tempat menyimpan padi atau paso untuk pindang ikan, setiap tahun akan mengalami kenaikan," katanya, kemarin. Namun, jika tidak musim padi atau ikan, para perajin membuat barang-barang lainnya, seperti cowek, pot, dan kendi. Barang-barang itu, dijual di pasar atau diperdagangkan secara borongan kepada para bakul. Kurang Tenaga Diungkapkan seorang warga Pekunden, Muarofah (40), makin menurunnya kegiatan produksi kerajinan gerabah sekarang ini karena kekurangan tenaga penggarap. Kini, jumlahnya tinggal beberapa orang saja. Mereka umumnya orang-orang tua, yang seharusnya sudah istirahat bekerja. Padahal dulu, jumlahnya mencapai puluhan orang, tetapi lambat laun makin berkurang. Kenapa? Hal itu disebabkan anak-anak perajin yang seharusnya menggantikan pekerjaan orang tuanya enggan meneruskan. Mereka lebih suka mencari lapangan pekerjaan lainnya, atau boro (merantau untuk bekerja) ke luar kota, seperti Jakarta dan Bandung. Menurutnya, pekerjaan membuat gerabah seperti paso, pot bunga, cowek, kendi, genthong, dan kuwali, tidak banyak menghasilkan uang. Kemungkinan karena pertimbangan itulah, anak-anak muda yang seharusnya sebagai generasi penerus tidak berminat lagi meneruskan usaha home industry tersebut. Sikap generasi penerus perajin gerabah yang seperti itu, merupakan dampak dari perkembangan zaman. Dulu, bisa jadi sektor ekonomi kerakyatan itu menjadi alternatif mencari nafkah. Namun sekarang, dianggap oleh sebagian orang sudah tidak menjanjikan lagi. Bahkan, para generasi muda Pekunden menganggapnya sudah tidak bergengsi lagi.(Saiful Bachri-19a) |