| Jumat, 14 Oktober 2005 | WACANA |
Puasa dan Kupu-kupu
KEPOMPONG itu makanannya apa, pak ? . Pertanyaan singkat itu muncul dari murid saya, sebelum libur sekolah di awal Ramadan ini. Saat itu, kami sedang mempelajari perubahan wujud (metamorfisis) pada kupu-kupu. Pertanyaan itu mengantarkan saya pada sebuah perenungan panjang, tentang pemaknaan ibadah menahan diri (puasa) di bulan Ramadan ini. Kupu-kupu, seperti serangga lainnya, mengalami proses metamorfosis. Sebelum menjadi kupu-kupu, ia adalah telur yang menetas menjadi ulat lalu berubah ke fase terakhir, menjadi kepompong. Saat sebagai ulat, ia adalah tukang makan yang rakus dan buruk rupa. Tanaman sayur mayur pak tani ludes dihabisinya dalam waktu singkat. Daun tak lagi bisa sempurna berfotosintesis hingga daun tak lagi bisa menyuplai makanan yang dibutuhkan batang untuk memproduksi buah. Pendeknya, ulat adalah pembuat kerugian. Penghapus mimpi atas panen yang berlimpah. Seolah menyadari kesalahannya. Di fase kehidupan berikutnya, yaitu kepompong, ia bertobat kepada Allah. Ia merenungi kekhilafan dirinya yang telah menebar kerugian amat banyak. Ia memperbaiki kesalahan dengan berpuasa, menahan diri dari syahwat dan keinginan, tidak makan dan tidak minum. Ia menghabiskan waktunya dalam kontemplasi dan evaluasi diri. Pertobatannya tidak sia-sia. Allah menganugrahinya dua pasang sayap yang indah. Semua orang menyukainya. Sang kupu-kupu konsisten dengan pertobatannya. Meskipun telah bagus rupa, bahkan bisa terbang, ia tak lagi menimbulkan kerugian. Justru, ia membantu bunga-bunga melakukan penyerbukan. Ia mengontribusikan dirinya demi pertumbuhan bunga demi bunga di dalam taman. Akhir hayatnya pun indah. Jika tidak gugur dalam melaksanakan tugas, yaitu dimangsa belalang kadung saat hinggap di bunga, ia mati karena disuntik formalin oleh manusia yang menjadikannya sebagai komoditi. Kupu-kupu itu mati dalam keindahan, mati dalam khusnul khotimah. Bangsa Ulat Saat ini, bangsa kita minim "kupu-kupu" dan lebih banyak dihuni oleh "ulat-ulat" yang rakus. Bagaimana tidak disebut sebagai rakus, jika girik BLT-BBM (Bantuan Langsung Tunai-BBM) untuk rakyat miskin juga diembatnya, padahal Soluna nongkrong di garasinya. Atau seperti cerita tukang becak, ada "ulat" yang datang ke kantor pos Johar mengambil BLT-BBM dengan naik taksi. Atau seperti kata mbok bakul gethuk, ketua RW di kampungnya minggat tidak berani pulang ke rumah takut dimassa karena membagikan girik kepada orang-orang berada. "Ulat-ulat riba" juga kebagian jatah. BLT-BBM Rp300.000 untuk tiga bulan, sudah habis di bulan pertama untuk bayar utang rentenir, yang bunganya saja sudah lebih besar dari utangnya. Entah bagaimana nasib rakyat miskin di bulan-bulan berikutnya. Namun, "ulat" terburuk adalah "ulat-ulat legal", yang mampu melakukan legal corruption. Dengan seragam dan jabatan resmi yang dimilikinya, juga regulasi yang melindunginya, mereka melahap apa yang menjadi hak rakyat. Mengatasnamakan kepentingan rakyat, mereka sampai hati menandatangani kebijakan yang makin mempersulit hidup rakyat. Padahal alasan sesungguhnya adalah adanya kompensasi dan komisi yang masuk ke kantong pribadi. "Ulat-ulat legal" ini sangat berbahaya. Ia mampu membuat orang menjadi musthad'afin (dilemahkan), jutaan orang menjadi kelaparan, jutaan orang terbelakang pikirannya karena pendidikan yang terbengkalai, dan jutaan orang yang kehilangan masa depan karena tergiring bekerja apa saja (haram) untuk sekadar bertahan hidup, termasuk menjalani kegiatan prostitusi, mencuri, merampok, dan mengedarkan narkoba. Bahkan, "ulat" ini adalah pemicu konflik horizontal di kalangan rakyat. Di tengah himpitan hidup yang terasa berat sekarang ini, maka solidaritas dan kedermawanan akan menghilang. Berganti dengan egosentris dan temperamen yang tinggi. Maka, ada masalah kecil saja sudah mampu menyulut emosi massa. Main hakim sendiri adalah cara jalan ke luarnya. Saat nafsu mengalahkan nurani, "ulat" juga sampai hati mengorupsi dana pengungsi Tsunami di NAD dan Nias. Mereka juga tega mencuri dan menjual minyak bumi ke luar negeri, saat di dalam negeri, ibu-ibu harus antre berhari-hari. Para "ulat" rakus itu semuanya mengenakan topeng. Ia ada disekitar kita namun tak kentara. Meminjam keluhan Taufiq Ismail lewat puisinya Jangan-jangan Saya Sendiri juga Malling (2004), maka "ulat-ulat" ini pandai bermuka dua. Tangan kirinya menandatangani disposisi MoU dan MuO (Mark up Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu, dan sekolahan. Kaki kiri melakukan studi banding, pemerasan, mengais-ngais upeti ke sana kemari, kaki kanannya bersedekah, pergi umroh dan naik haji. Pertobatan Nasional Jika kita sedikit membuka mata hati kita, maka kita akan merasakan ada banyak petunjuk (hidayah) dari Allah untuk memperbaiki diri. Meski katakanlah kita belum mampu membaca Alquran sebagai petunjuk yang bersifat qauliy, Allah juga memberikan alternatif petunjuk lain yang bersifat kauniy, yang terhampar di pernak-pernik kehidupan alam semesta. Dari penciptaan kupu-kupu, tersiratlah sebuah rahasia, ada masa pertobatan (kepompong) setelah masa kerusakan (ulat). Maka, bulan Ramadan ini adalah masa yang tepat bagi kita untuk menyudahi kerusakan dan kerugian dan menggantinya dengan fitrah dan kebenaran (Al-Haq). Ketika Bimbo merilis lirik cerdas ini : "Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa", maka pertanyaan sang anak itu sesungguhnya mewakili pertanyaan dari setiap manusia beriman. Karena, meskipun kita selalu menahan lapar di bulan Ramadan dari tahun ke tahun, namun dari tahun ke tahun pula tidak ada perubahan signifikan apapun yang terjadi pada diri kita. Karenanya, hakikatnya sang anak belum mendapatkan jawaban yang komprehensif dari sang bapak tentang luaran ibadah puasa itu. Dalam perspektif ilmu fikih, syarat pertama untuk dapat melaksanakan suatu ibadah adalah adanya kepasrahan total (iman) tanpa harus berpikir njlimet terlebih dahulu. Dalam konteks ibadah puasa, berpikir njlimet misalnya kita berpikir mengapa puasa harus dimulai saat subuh dan disudahi saat maghrib. Perkara kemudian kita mencari makna sosial puasa, itu adalah hal lain yang sifatnya boleh dan memang diperlukan, khususnya dalam rangka menguatkan kepasrahan (iman) kita. Artinya, ibadah selalu mempunyai dua dimensi konsekuensi, yaitu konsekuensi vertikal (ukhrawi) dan konsekuensi sosial. Puasa sebagai ibadah yang bersifat khusus, memiliki konsekuensi vertikal yang tinggi. Ia tak dapat dilakukan kecuali dengan syariat yang memandunya. Dengan kata lain, puasa tak dapat dilakukan pada waktu sembarang dengan cara sembarang. Pahala dan balasan berpuasa pun ditangani langsung oleh Allah sendiri. Namun, sebagai sosok manusia yang membumi, kita dapat mengukur keberhasilan ibadah puasa saat kita masih berada di bumi (konsekuensi sosial). Keberhasilan pertobatan ulat yang dilakukannya saat menjadi kepompong baru dapat diketahui saat ia keluar dari kepompong dengan wajah baru (kupu-kupu) dan melakukan perbuatan yang terpuji secara sosial, membantu penyerbukan. Konsekuensi sosial ini, bahkan dijadikan parameter oleh Allah untuk mengukur derajat keimanan seorang hamba. Dalam surat Al-Maíun, Allah berfirman bahwa orang yang mendustakan agamanya adalah : (1) orang yang menghardik anak yatim dan (2) orang yang tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Orang yang lalai adalah: (3) orang yang shalat untuk mendapatkan nama baik dari orang lain (riya) dan (4) orang yang tak mau memberikan sesuatu yang berguna miliknya untuk orang lain. Keempat-empatnya berdimensi sosial Keberhasilan ibadah Puasa dalam bentuk terhapusnya dosa-dosa, tidak melulu diukur karena kita berhasil menahan lapar selama 30 hari, tetapi amalan sosial yang lebih hakiki. Menurut Ust. Ahmad Yani (2004), paling tidak ada lima indikasi keberhasilan agar ramadan sebagai proses pertobatan ini, dapat disebut bermakna. Pertama, tauhid yang mantap. Kedua, akhlak yang mulia. Ketiga, semangat menimba ilmu. Keempat, semangat memakmurkan masjid. Kelima, solidaritas sosial yang tinggi. Alangkah indahnya jika bangsa ini kemudian dipenuhi oleh pertobatan kepompong, karena berarti tak lama lagi bangsa kita akan dipenuhi "kupu-kupu". Indonesia menjadi surganya anak yatim. Enam puluh juta rakyat miskin tenang hatinya karena masih ada 140 juta saudara lainnya yang siap mengulurkan tangannya. BBM, sembako, sekolah mahal bukan masalah karena ditanggung bersama. Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah pancaran senyum dan akhlak mulia. Tetapi alangkah pahitnya, jika "kepompong" ini kembali menjadi "ulat", kerakusan kembali merajalela, kaum papa semakin menderita. Akhir hikayatnya sudah dapat ditebak, sang "ulat" akan mati dalam keadaan buruk rupa bersama keburukan perilakunya. (11) - Doni Riadi, pegiat Komunitas Wedangjae, guru sekolah alam Ar-Ridho Semarang |