logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Oktober 2005 WACANA
Line

McDonaldisasi Agama

  • Oleh Asep Purnama Bahtiar dan Endro Dwi Hatmanto

AKTIVITAS dan fenomena di bulan suci Ramadan tidak saja hadir dalam realitas kehidupan umat Islam, tetapi juga ditampilkan sedemikian rupa melalui kecanggihan teknologi informasi, khususnya televisi. Meskipun kotak ajaib ini dituduh bermuka dua dalam menumpangtindihkan idealisme dan pragmatisme, tetapi pesonanya masih kuat untuk menarik perhatian orang selama berjam-jam.

Memang ada informasi dan hiburan yang ditayangkan televisi, tetapi kamuflase dan rekayasa yang memanipulasi kesadaran publik tidak bisa dielakkan oleh televisi. Fenomena inilah yang disinyalir oleh Thomas L. McPhail (1998) sebagai salah satu bentuk kolonialisme elektronik .

Seperti telah menjadi rutinitas tahunan, stasiun-stasiun televisi kembali menayangkan berbagai acara keagamaan mulai dari sinetron, kuis, musik, kultum hingga iklan yang menonjolkan kesan religius. Para artis dan selebritis yang menjadi bintang atau terlibat dalam program-program acara Ramadan tersebut -yang biasanya sering tampil tidak elok di televisi- mendadak sontak berubah menjadi sopan, alim, serta memakai baju yang tertutup dan berjilbab. Goyang erotis para penyanyi dangdut pun berkurang atau hilang dari peredaran, dan mereka berganti haluan menjadi pelantun kasidah atau lagu-lagu religius.

Peran para artis dan selebritis dalam acara Ramadan ini sudah lama menimbulkan tanda tanya besar di kalangan publik yang kritis, karena apakah tayangan itu bermotif bisnis atau murni proyek idealis sebagai partisipasi bagi penyampaian dakwah dan nilai agama.

Tanda tanya tersebut mucul paling tidak karena dua alasan, meskipun hal ini bukan untuk menggeneralisir keadaan. Pertama, masyarakat sudah banyak yang tahu bahwa personalitas para artis dan selebritis sebagai public figure kerap tidak simpatik dan tidak pantas untuk diteladani seperti kawin cerai, selingkuh, tampil tidak seronok, dan sebagainya.

Kedua, gaya hidup hedonis-konsumtif yang kerap ditampilkan para artis dan selebritis, baik dalam kehidupan sehari-hari mereka maupun lewat acara-acara infotainment, menjadi semacam antitesis terhadap pesan-pesan Ramadan di televisi yang hendak diinternalisasikan menjadi kesadaran umat.

McDonaldisasi Agama

Yang terjadi kemudian adalah munculnya gejala atau fenomena McDonaldisasi agama di bulan Ramadan. Terminologi McDonaldisasi pertama kali dicuatkan oleh George Ritzer (1993), sosiolog kawakan dari Amerika Serikat, untuk menggambarkan bentuk partikular dari proses rasionalisasi dan standardisasi dari seluruh wilayah kehidupan.

Proses rasionalisasi dan standardisasi ini kemudian akan mengarah pada homogenisasi dan penyeragaman pada industri jasa yang mengalami massifikasi karena dibombardir oleh iklan. Sayangnya, proses penyeragaman ini mempunyai handicap, yaitu absennya kualitas dan autentisitas. Ritzer tampaknya menganalogikan fenomena ini dengan hamburger McDonald yang dikenal sebagai junk food yang tidak bagus untuk kesehatan.

Berangkat dari tesis Ritzer tadi, tayangan Ramadan di televisi tidak sedikit yang berwujud sebagai pengebirian terhadap nilai dan substansi agama. Acara-acara Ramadan dibuat secara instan dan selebritif, serta model dan formatnya mirip atau tidak berbeda antara stasiun televisi yang satu dengan yang lainnya. Acara yang dikemas dengan melibatkan para artis dan pelawak ini disengaja untuk menjadi daya tarik tinggi bagi pemirsa, karena sifatnya yang entertaining. Namun akibatnya, substansi pesan yang ingin disampaikan akan tertelan oleh popularitas, kecantikan, kegantengan, kelucuan dan gaya hidup para pengisi acara.

Pemirsa akan lebih menikmati nyanyian artis dan banyolan sang pelawak daripada menyimak ceramah ustad yang diundang, sehingga sekilas tampak hanya sebagai hiasan panggung.

Tentu saja, kesangsian pun sulit ditepis bahwa produk tayangan tersebut benar-benar akan memberikan pencerahan nilai-nilai keagamaan bagi umat, mengingat aroma bisnis dan industri hiburan yang begitu kuat. Meskipun dalam hal ini perlu dicatat, ada juga program Ramadan di televisi yang berbobot, informatif, dan edukatif.

Dengan kecenderungan-kecenderungan McDonaldisasi semacam itu, maka agama akan menemukan dirinya sebagai sebuah entitas produk budaya masa dan kemudian hanyut dalam arus kuat pusaran pasar. Budaya masa semacam ini dituduh oleh David Riesman dan William Kornhauser sebagai the decline of traditional religious and moral attachments, and the rise of sophisticated propaganda techniques that could manipulate the mass and achieve consent (dalam Craig Calhoun, 2002).

Jauh sebelumnya fenomena seperti tadi pada tahun empatpuluhan pernah digugat oleh mahzab kritis Frankfurt, bahwa mass culture dan mass society telah menghasilkan individu yang teralienasi akibat industri budaya massa sebagai kepanjangan tangan dari kapitalisme. Kalau agama berusaha memenuhi kebutuhan spiritual-esoteris dan eksoteris manusia, maka budaya massa sekadar mengejar kebutuhan-kebutuhan yang remeh temeh. Pada titik inilah kemudian nilai-nilai agama disubordinasikan oleh nilai-nilai yang pragmatis bagi kebutuhan manusia.

Akuntabilitas Moral

Berkenaan dengan konteks program Ramadan di stasiun-stasiun televisi, tingkat marginalisasi nilai agama itu menjadi jelas ketika aroma kepentingan yang berbau bisnis begitu menyengat. Dengan mengundang artis dan mengemas acara yang lebih banyak muatan entertainment-nya, maka stasiun-stasiun televisi bisa berharap bahwa audiens akan menyukainya.

Semakin banyak audiens berarti akan semakin banyak perusahaan yang akan mengiklankan produknya; dan semakin banyak yang beriklan, berarti semakin banyak pula profit yang didapat.

Selera pasar yang kuat inilah kemudian secara paksa akan meminggirkan substansi Ramadan yang hendak diinternalisasikan kepada umat. Sebagai gantinya umat hanya menikmati tayangan-tayangan yang bersifat murahan dan dangkal nilai, sehingga menimbulkan dikotomi yang jelas antara umat sebagai audience dan televisi dengan para kapitalisnya yang memproduksi program acara.

Umat berada pada posisi penonton yang tidak mempunyai kekuatan partisipatoris. Hubungan antara stasiun TV pembuat acara Ramadan dan penontonnya kemudian tidak lebih berposisi sebagai produsen dan konsumen.

Bulan Ramadan bagi stasiun televisi tidak berarti harus mandeg dalam menayangkan berbagai acaranya. Mereka dengan inovatif mampu memanfaatkan bulan yang suci ini sebagai "pasar tiban" (pasar yang muncul secara mendadak). Adalah sulit bagi produk budaya model era kapitalis "pakai buang" yang serba instan seperti itu untuk diserahi akuntabilitas moral untuk benar-benar mentrasformasikan peradaban umat dengan nilai-nilai religius yang jujur dan substansial.

Namanya saja "pasar tiban", maka setelah selesai Ramadan, stasiun-stasiun televisi akan kembali ke selera asal seperti semula. Tayangan yang tidak mendidik kembali marak, goyangan penyanyi kembali erotis, pakaian terbuka, gaya hedonis, dan pamer aurat kembali membudaya. Akhirnya tayangan televisi kembali memainkan peran antagonisnya terhadap nilai-nilai Ramadan yang dulu disiarkannya.

McDonaldisai agama di bulan Ramadan ini kian memposisikan agama sebagai dimensi kehidupan yang artifisial dan subordinat. Agama kemudian hanya bernilai formalis dan simbolis. Implikasi logisnya, agama mengalami nasib yang sama dengan kitsch, produk budaya murahan yang tak berdaya dalam memperadabkan umat. Korupsi, molimo dan degradasi moral dari berbagai elemen bangsa ini adalah sebagian contoh yang dapat menunjukkan bahwa ajaran agama yang mengalami McDonaldisasi ternyata tidak memiliki daya dan fungsi yang determinan dalam membangun bangsa ini agar menjadi humanis, religius, dan civilized.

Bulan suci ini seharusnya dapat digunakan oleh seluruh bangsa untuk secara kontemplatif menggunakan dan mengajarkan nilai-nilai substantif agama, sehingga dapat berperan memberikan solusi bagi problem kemanusiaan bangsa ini. Karena, selain menjadi momentum pembebasan diri, maka bulan Ramadan pun perlu dibebaskan dari jerat McDonaldisasi agama.[11]

- Asep Purnama Bahtiar, dosen FAI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; dan Endro Dwi Hatmanto, Direktur American Corner UMY.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA