logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Oktober 2005 WACANA
Line

Tajuk Rencana

Jangan Main-main terhadap Pasar Johar

-- Rencana pembongkaran Pasar Johar untuk dijadikan pusat perbelanjaan modern mendapat reaksi keras dari pihak akademisi, anngota Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K), pakar arsitektur, dan pedagang yang selama ini menghuni pasar tersebut. Mereka pada umumnya menolak rencana itu dan mendesak Pemerintah Kota untuk mempertahankan bangunan kuno karya arsitektur Thomas Karsten yang telah dilindungi sebagai cagar budaya itu. Bukan semata-mata alasan romantisme, melainkan juga tinjauan yang lebih komprehensif dari segi historis, sosial, ekologis, arsitektur, dan masih banyak lagi. Di samping itu, sebagai heritage, Pasar Johar bukan lagi milik warga Semarang semata karena sudah menjadi milik dunia. Alangkah bodoh bila bangunan yang memiliki nilai tinggi itu dirobohkan.

-- Kita tak bermaksud menolak kedatangan investor yang hendak membangun pasar modern di Semarang. Tetapi mengapa harus dengan membongkar Pasar Johar? Rasanya Semarang masih memiliki banyak tempat yang dapat dijadikan lokasi pasar modern yang baru. Alasan ekonomis pastilah yang utama, karena pengusaha selalu mengutamakan profit. Ada yang mengatakan tentu untung membangun pasar di tanah milik negara, tetapi justru karena itulah bodoh bila kita tak tahu hal itu. Profit motive wajar asalkan tidak merugikan negara dan masyarakat. Tidak melanggar undang- undang dan tidak mengorbankan nilai-nilai yang lebih besar, apalagi itu menyangkut kekayaan sejarah dan budaya kota Semarang. Salah satu kebanggaan atau landmark Ibu Kota Jawa Tengah.

-- Hati-hati dan jangan bermain-main terhadap Johar. Seperti juga terhadap Gedung Lawang Sewu, Gereja Blenduk, atau Tugumuda. Pastilah akan bersinggungan atau bahkan berhadap-hadapan dengan warga Semarang. Bukan semata-mata kita ingin mengagung-agungkan bangunan bersejarah, kalau tak lagi memiliki nilai ekonomis ataupun manfaat apa-apa. Kita merasa perlu mengingatkan alangkah buruk sebuah kota yang telah mulai kehilangan jiwa. The soul of the city haruslah selalu dijaga. Lihatlah kota-kota di negara maju seperti Amerika Serikat sampai dengan negara-negara Eropa, bahkan China. Di tengah arus modernisasi dan bertumbuhnya pencakar langit mereka masih setia menjaga bangunan lama dengan nilai arsitektur dan historis yang tinggi.

-- Pemerintah Kota dan Wali Kota Semarang sudah untuk kali kesekian kecolongan dan kehilangan bangunan bersejarah yang tiba-tiba sudah dibongkar. Kini hal itu tidak boleh terulang. Sungguh sesuatu yang keliru dan ceroboh, kalau sampai membiarkan pembongkaran Johar. Selain melanggar hukum, juga tidak sesuai dengan pertimbangan etika profesional, khususnya dalam disiplin ilmu arsitektur. Lebih dari itu, juga pertimbangan dari aspek lain, termasuk ekonomi. Kalau dibangun menjadi pasar modern, kita ragu apakah ada jaminan pedagang lama bisa kembali menempati ketika harga sewa toko atau kios menjadi berlipat-lipat. Sekadar contoh betapa ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Kalau sampai nekat kita patut curiga pastilah ada apa-apanya di balik kebijakan itu.

-- Yang diperlukan adalah mengembangkan dan menata ulang kawasan Johar dan sekitarnya. Benar bila dikatakan karya arsitektur agung di Pasar Johar tak bisa lagi dibanggakan ketika kita menyaksikan para pedagang harus berimpitan di dalam dan di luar. Udara menjadi pengap dan tidak sehat. Demikian juga kawasan di sekitar, yakni Pasar Yaik dan Kompleks Kanjengan. Mengapa investor tak didorong menata kawasan itu tanpa harus membongkar Pasar Johar. Kalau tak sanggup ya dicarikan tempat yang lain. Jangan dipertentangkan antara pasar tradisional dan pasar modern. Keduanya perlu dan bisa saling melengkapi. Namun dalam konteks Johar, persoalannya bukan karena keberatan berubah menjadi pasar modern.

-- Sekarang butuh kejelasan segera, karena situasi di sana menjadi kurang nyaman. Pedagang resah setelah muncul isu pasar akan dibakar. Maklumlah, hal seperti itu banyak terjadi di kota lain sebelum renovasi sebuah pasar. Kekuatan pemodal di belakang rencana itu sangat besar sehingga wajar bila mereka khawatir pengusaha akan menghalalkan segala cara untuk mengegolkan rencananya. Kita dukung upaya penolakan pembongkaran Pasar Johar dan sebaliknya kita imbau Pak Wali untuk bersikap arif dan aspiratif. Penyesalan bisa datang kemudian. Karena itu, sejak awal haruslah ditentang dan disuarakan dengan sekeras-kerasnya agar jangan sampai warga Semarang kehilangan Johar sebagai salah satu identitas dan kekayaan budaya.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA