logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Oktober 2005 SEMARANG
Line

Industri Tahu Rumahan Terancam Gulung Tikar

SALATIGA - Puluhan industri tahu rumahan yang berlokasi di Kalitaman dan Krajan, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo Salatiga, terancam tidak dapat beroperasi. Sebab, biaya produksi mengalami peningkatan drastis akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Adapun BBM yang digunakan untuk menggerakkan mesin dalam menggiling kedelai oleh para pengusaha industri tahu tersebut adalah jenis solar. Menurut mereka, kenaikan harga BBM itu secara otomatis menaikkan biaya produksi lainnya, seperti bahan baku kedelai, ampas kayu serta kayu yang digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak.

Beno (50), pengusaha industri tahu rumahan di Krajan mengungkapkan, mereka terpaksa mengurangi produksi ketika harga BBM mengalami kenaikan. BBM jenis solar yang digunakan 10 liter/hari terpaksa harus dikurangi hingga lima liter/hari dengan pemanfaatan mesin penggiling secara efisien.

''Ketika solar langka sebelum kenaikan harga BBM, kami sangat terkena imbasnya,'' ujar Beno. Menurutnya, seiring dengan kenaikan harga BBM, beberapa bahan baku seperti kedelai ikut mengalami kenaikan. Harga kedelai kualitas prima yang sebelumnya Rp 3.500/kg, naik mencapai Rp 4.000/kg. Sementara bahan baku ampas kayu dan kayu yang digunakan untuk bahan bakar memasak telah mengalami kenaikan dari Rp 110.000/kol menjadi Rp 140.000/kol. Kenaikan harga tersebut akibat tingginya tarif transportasi yang ikut mengalami kenaikan pula.

Hal senada juga disampaikan Samijan (55), pengusaha lainnya yang mengaku terkena imbas kelangkaan dan kenaikan harga BBM. Menurutnya, untuk mengakali hal tersebut, dia melakukan penghematan penggunaan bahan baku.

Sebagai contoh, mesin penggiling sengaja diservis terlebih dulu agar penggunaan bahan bakar lebih irit. Kemudian, penggunaan ampas kayu diperhitungkan secara matang, sehingga setelah memasak tidak ada lagi ampas dan kayu yang masih terbakar.

Sementara itu, akibat kenaikan harga bahan baku, mereka berharap dapat menaikkan harga tahu yang dijualnya kepada pedagang perantara atau konsumen. Sayangnya, upaya tersebut tidak berani dilakukan oleh pengusaha karena tingginya persaingan usaha sejenis.

Beberapa pedagang mengakalinya dengan mengurangi ukuran bentuk tahu yang dijualnya, beberapa mili meter. Cara tersebut ternyata tidak memberi dampak negatif dan dimaklumi oleh konsumen, karena sadar hal itu dilakukan produsen akibat adanya kenaikan harga BBM. (H2-51d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA