logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Oktober 2005 SEMARANG
Line

Meski Lumpuh, Pebri Sapto Tetap Puasa

KELUMPUHAN yang diderita Pebri Sapto Muatno (21) warga RT 8 RW 5 Dukuh Kalisombo Krajan, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, memupuskan harapan untuk menjadi tulang punggung keluarga.

Bila teman sebayanya saat ini sedang menikmati masa remaja dengan pacaran, bermain musik, berolahraga, berorganisasi, kuliah, atau bekerja, Pebri justru menghabiskan hari-hari panjang yang membosankan di tempat tidur. Mulai dari makan dan minum, buang air, serta membersihkan badan hanya dengan mengusap kain basah pada tubuh, dilakukan di atas tempat tidur. Shalat lima waktu serta wudu, juga dilakukan di tempat tidur.

Pebri mulai mengalami kelumpuhan setelah beberapa minggu lulus dari SMA Muhammadiyah Salatiga tahun 2002. Entah apa sebabnya, kelumpuhan yang diderita putra Taryono (50) itu berawal ketika Pebri merasa nyeri pada beberapa bagian tulang tubuhnya, terutama tulang belakang.

Untuk menghilangkan rasa nyeri, orang tuanya membeli obat penghilang rasa sakit di apotek. Namun, rasa nyeri itu tak kunjung hilang. Justru semakin parah ketika tulang belakang hingga bagian leher belakang tidak dapat digerakkan. Begitu juga persendian dan tulang pada bagian kaki serta tangannya, tak dapat ditekuk. ''Kalau dipaksa rasanya sakit,'' ujar Pebri.

Penyakit Tulang

Febri pun tak dapat menahan duka ketika dokter menyatakan dirinya terkena penyakit tulang yang mengakibatkan kelumpuhan. Atas saran dokter, akhirnya dia dirawat di RSUD Kota Salatiga selama tiga bulan.

Tiga bulan berlalu, penyakit yang diderita tak sembuh juga, sedangkan biaya pengobatan mahal sehingga keluarga itu tak mampu lagi menanggung. Pebri tak ingin membebani ayahnya yang bekerja sebagai pembuat tahu.

Pemuda berkulit putih itu tidak mengira dirinya bakal mengalami kelumpuhan seperti yang diderita ibunya akibat serangan stroke. Dia merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Ketiga kakaknya, Warno (27) dan Gatot (26), bekerja di luar kota, Tari (25) ikut suaminya, sedangkan Fitri (10) masih kecil.

Sebelumnya, Pebri adalah anak yang diandalkan orang tuanya untuk merawat ibunya yang sakit, jika ayahnya bekerja di pabrik tahu. "Sudah lama kakak merawat ibu yang sakit, tapi setelah mereka bekerja sayalah yang harus merawatnya sejak tahun 2000 lalu. Tidak disangka, saya juga mengalami hal yang sama," tuturnya.

Kondisi tempat tinggal keluarga Taryono sangat memprihatinkan, yakni di pinggir aliran sumber air Kalitaman Salatiga. Rumah tersebut hanya berukuran 5 x 5 meter, berdinding papan terbuat dari kayu sengon, dan usuk-usuknya mulai lapuk.

Waktu senggangnya banyak diisi dengan kegiatan ibadah. Selain mengaji, juga memperbanyak zikir. "Saya berzikir bukan berarti saya pasrah menghadapi keadaan. Semoga Allah dapat memberikan kesembuhan bagi saya,'' harapnya. (Surya Yuli P-37d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA