logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Oktober 2005 SEMARANG
Line

Pengakuan Napi: Berpuasa di LP Terasa Lebih Khusyuk

BERBUKA dan sahur bersama keluarga, bisa jadi merupakan kebahagiaan tak terkira saat berpuasa di bulan Ramadan. Namun, bagaimana ketika sesorang harus jauh dan terasing dari keluarga saat Ramadan, terlebih lebaran nanti?

Seperti dialami penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Ambarawa, Wahyu Wijaya (37) dan Hengki Irawan (35), keduanya warga Kota Semarang.

Bagi Wahyu yang sejak Januari 2005 menghuni LP peninggalan Belanda itu, Ramadan kali ini sangat bermakna baginya.

Pria yang tersandung kasus penggelapan itu mengaku begitu khusyuk menjalani ibadah puasa di rumah tahanan (rutan) tersebut.

''Saya bisa lebih khusyuk berpuasa di sini bersama teman-teman narapidana (napi) lain yang sudah saya anggap seperti keluarga. Kalau di luar malah banyak godaan,'' kata dia yang mengaku baru kali pertama merasakan hidup di bui itu.

Namun, wajah sedihnya tidak bisa disembunyikan tatkala mengingat empat anak dan istrinya menjalani puasa tanpa kehadirannya.

''Sedih juga kalau mengingat keluarga. Apalagi saat harga kebutuhan pokok naik, istri saya sendirian bekerja sebagai perias,'' ucap dia mencoba tegar.

Makna Ramadan tahun ini, baginya sangatlah mendalam. Dia berjanji, bulan suci tersebut menjadi pelecut untuk menjadi insan yang mulia. Di bulan puasa ini, dirinya pun bertambah rajin shalat dan membaca Alquran.

''Saya berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik. Saya khilaf, dan bulan ini menjadi ajang penyesalan untuk memperbaiki diri,'' ungkap dia yang pada 31 Oktober mendatang sudah bisa bebas.

''Saya seharusnya keluar pada Desember, namun karena mendapat remisi dua bulan 15 hari, saya bebas 31 Oktober,'' imbuhnya.

Ya, Wahyu masih beruntung, karena hari raya Idul Fitri jatuh pada awal November nanti.

Hikmah Besar

Berbeda dengan Hengki, warga Satria Barat, Semarang, yang menghuni LP karena kasus pencabulan, tidak bisa merayakan lebaran bersama keluarga. Pasalnya, pria yang masuk LP Ambarawa pada Februari 2005 itu terkena vonis hukuman penjara selama dua tahun dua bulan.

Senada dengan Wahyu, menjalani Ramadan di LP begitu menyentuh hatinya. ''Seumur-umur saya menjalani puasa setiap hari baru kali ini. Sebelumnya, paling hanya satu atau dua hari untuk sekadar memberi contoh kepada anak saya,'' kata dia. Menurutnya, hikmah Ramadan kali ini begitu besar.

''Sebab, apa yang tidak saya lakukan di luar sana, saya kerjakan di sini seperti shalat dan belajar mengaji,'' tuturnya serius. Dia pun berjanji akan menjadi manusia yang baik.

Kepala LP Ambarawa, Sumaryono menjelaskan, selama Ramadan pihaknya mengadakan kegiatan rutin untuk penghuni LP beragama Islam.

''Kami mendatangkan penceramah untuk memberi siraman rohani kepada para napi seminggu tiga kali,'' jelas dia.

Selama puasa, pihak LP juga menyediakan makanan tambahan untuk sahur dan berbuka. ''Setiap berbuka, selalu ada kolak, sebelum mereka memakan nasi dan lauk- pauk. Lalu saat sahur, mereka dibangunkan sekitar pukul 02.00,'' jelas Sumaryono.

Dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, apakah kualitas nasi dan sayur dikurangi? ''Tidak, justru malah ditambah. Memang, saat ini pemborong katering yang kebingungan, namun pada 2006 nanti kami akan ajukan tambahan dana,'' jelas dia. (Rony Yuwono-37a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA