| Jumat, 14 Oktober 2005 | INTERNASIONAL |
Misi Antariksa China Tantangan bagi ASBEIJING - Keberhasilan misi antariksa China telah menempatkan negara itu ke dalam kelompok elite bangsa-bangsa yang memiliki kemampuan eksplorasi angkasa luar. Namun lebih dari itu, keberhasilan tersebut merupakan tantangan serius bagi AS karena akan memiliki implikasi militer. China Rabu lalu berhasil meluncurkan misi antariksa berawak. Beijing tidak hanya berhenti sampai di sini. Misi ke bulan dan menempatkan sebuah stasiun antariksa di orbit adalah program misi di masa depan. Pada saat yang sama, negara superpower satu-satunya - Amerika Serikat - sedang dipusingkan dengan program antariksa yang sering kali meleset dari jadwal dan membengkak dari segi anggaran. ''Para pengambil keputusan di Amerika harus memperhatikan kemungkinan China akan menyalip kita ke bulan. Dari sudut pandang politik, perkembangan ini bisa mencemaskan,'' kata John Pike, seorang pengamat program pertahanan dan antariksa di Washington. ''AS saat ini satu-satunya negara adidaya, satu-satunya negara yang pernah mengirim astronaut ke bulan. Jika China mengirimkan orang-orangnya ke bulan, mereka bakal memukul kita jatuh,'' kata dia. Lompatan Menakjubkan Sesungguhnya, China menganggap program antariksa itu sebagai bagian tak terhindarkan dari upaya mereka memperoleh martabat internasional. China yakin, hal itu memang sudah pantas bagi negara berpenduduk terbanyak di dunia itu. Negeri itu membukukan lompatan-lompatan menakjubkan di bidang program antariksa sejak kali pertama mengorbitkan satelitnya pada 1970. Kendati, waktu itu yang mereka lakukan hanyalah menyiarkan lagu-lagu revolusiner ke ruang hampa. China menyatakan, eksplorasi antariksa itu bertujuan damai dan tidak ingin terlibat dalam perlombaan senjata di angkasa luar. Namun, pada saat bersamaan, negeri itu sedang memodernisasi militernya secara cepat. Anggaran belanja militer meningkat dua kali lipat setiap tahunnya. Hal ini jelas membuat cemas negara-negara tetangga dan Amerika Serikat. Pentagon menyatakan dalam laporan Juli lalu, pihaknya sangat risau dengan modernisasi militer China dan kedigdayaan ekonomi negeri itu. AS khawatir hal itu akan mengubah perimbangan kekuatan di Asia dan dapat mengancam Taiwan. Kemampuan dan kekuatan di angkasa makin mendukung pergeseran kekuatan itu. (rtr-gn-25) |