| Jumat, 14 Oktober 2005 | INTERNASIONAL |
Referendum Dimulai di RS dan Penjara IrakBAGDAD - Referendum konstitusi Irak dimulai Kamis kemarin, namun khusus bagi para petugas medis dan pasien serta narapidana. Sementara untuk rakyat umum, pemungutan suara itu baru dilakukan Sabtu (15/10) besok. Di Rumah Sakit Yarmouk, Bagdad, para dokter dan pasien mulai memasuki tempat-tempat pemungutan suara yang didirikan di rumah sakit itu. Yarmouk sering menjadi tempat perawatan para korban serangan gerilya di ibu kota Irak. Sementara itu, pemerintah mengumumkan kebijakan yang memperketat pengamanan, kemarin. Akses dari dunia luar akan ditutup untuk sementara. Kemudian, mobilitas penduduk akan dibatasi guna mencegah kemungkinan serangan militan. Menteri Dalam Negeri Bayan Jabor mengatakan, gerbang-gerbang perbatasan akan ditutup mulai Kamis tengah malam (03.00 WIB) sampai Minggu. Bisnis diliburkan selama empat hari. Sebuah ledakan merusak kantor-kantor Partai Islam Irak (kelompok politik Suni Arab) di Kota Falluja, sebelah barat Bagdad. Sebelumnya, partai itu melakukan pergantian kepengurusan Rabu lalu dan sepakat mendukung draf konstitusi yang didukung Amerika Serikat. Pengadilan Saddam Ribuan narapidana Irak juga mempunyai kesempatan memilih dalam referendum konstitusi, kemarin. Para tersangka serangan gerilya di penjara Abu Ghraib juga mencoblos. Namun pejabat setempat belum memberikan pernyataan apakah Saddam Hussein juga memberikan suaranya. Saddam akan menghadapi persidangan pekan depan, dengan dakwaan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Juru bicara pengadilan khusus membenarkan persidangan kasus Saddam itu. Menurutnya, sidang itu akan dimulai Rabu (19/10). Namun para jaksa belum memutuskan apakah mereka akan menuntut hukuman mati atau tidak. Kalangan Syiah dipastikan akan mendukung pemberlakuan konstitusi baru itu. Apalagi, Ayatollah Ali al-Sistani (pemimpin spiritual tertinggi Syiah) telah mengisyaratkan akan memilih ''Ya'' dalam referendum itu.(rtr-ben-26) |