| Jumat, 14 Oktober 2005 | EKONOMI |
Industri Tekstil Sulit Naikkan Harga JualSEMARANG - Penasihat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng Andi Sanang Romawi mengatakan pelaku industri tekstil dituntut untuk mampu menjaga harga jual produk yang terjangkau. Hal ini didorong kian tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL) PLN saat ini. Menurutnya dampak tersebut akan lebih terasa beberapa bulan ke depan. ''Selama ini untuk mendapatkan order, perusahaan tekstil terikat dalam kontrak kerja dengan rekanan. Apabila kontrak belum selesai namun di tengah jalan terjadi kenaikan harga BBM dan TDL seperti saat ini maka kami harus tetap memenuhinya. Karena hal tersebut sudah menjadi kewajiban, meski kami merasa sangat memberatkan,'' katanya Kamis (13/10). Dia yang juga Direktur PT Damatex mengatakan apabila ingin memperpanjang kontrak order maka selanjutnya akan diterapkan harga baru. Menurutnya hal ini menjadi dilematis karena dengan harga baru belum tentu pembeli yang meminta order mau menerima. Sehingga order yang ada pun menjadi menurun. Di sisi lain, pelaku industri tekstil juga perlu menyesuaikan harga produk dengan biaya produksi yang kian membengkak. Kemungkinan PHK Sementara itu mengenai kemungkinan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mengancam industri tekstil, Andi mengakui ada indikasi yang mengarah ke hal itu. ''Kita sudah bisa menjual produk saja sudah bagus. Kondisi saat ini memang berat dan bisa saja mengancam keberlangsungan industri tekstil. Padahal rata-rata setiap perusahan tesktil memiliki pekerja 3.000 orang. Bayangkan bila 10 perusahan tekstil saja memberhentikan usahanya, sudah terhitung berapa orang yang terancam PHK,'' katanya. Terlebih lagi menjelang lebaran mereka juga dituntut untuk membayar tunjangan hari raya (THR). Kalau saat ini industri tekstil mampu membayar THR pekerja, hal itu belum tentu menunjukkan akan bisa bertahan setelah enam bulan ke depan. Bahkan ia menyebutkan semenjak krisis moneter melanda 1997 silam, terdapat 40% kapasitas terpasang pabrik yang tidak optimal (idle). ''Untuk kondisi saat ini, kami belum menghitungnya. Namun kami yakin terus terjadi penurunan,'' katanya. (mhr-59 ) |