| Jumat, 14 Oktober 2005 | EKONOMI |
Kimia Farma Produksi Minyak Pengganti SolarSEMARANG - PT Kimia Farma yang berlokasi di Semarang ternyata sudah puluhan tahun memproduksi minyak jarak atau ricinus communis. Bahkan perusahaan farmasi tersebut segera memproduksi juga minyak jarak pagar atau jatropha curcas sebagai pengganti solar atau biodiesel. Plant Manager PT Kimia Farma Semarang Drs Braham Burhanudin dalam diskusi terbatas di kantornya kemarin mengungkapkan, mesin-mesin produksi dari Jerman telah dimilikinya. Pengalaman memproduksi minyak jarak cukup beralasan untuk memproduksi minyak pengganti solar. Hasil produksi minyak jarak selama ini telah diekspor ke Belanda, Amerika Serikat dan Taiwan. Di samping itu juga minyak jarak tersebut telah disuplai ke berbagai industri kosmetika, industri cat, industri resin dan industri kimia lainnya di dalam negeri. ribuan ton minyak jarak telah diproduksi dan dipasarkannya. Sementara itu kebutuhan minyak jarak dunia sebanyak 450 ribu ton lebih per tahun merupakan pasar yang sangat menjanjikan. Minyak jarak pagar sebagai pengganti solar yang direncanakan diproduksi bahan bakunya (biji jarak pagar) dikembangkan berbarengan dengan pengembangan budi daya tanaman jarak yang sudah ada di berbagai daerah seperti NTT, NTB, Jatim, Jateng, Jabar, Sumut dan Bengkulu. Khusus untuk pengembangan di Bengkulu telah ditanam di lahan seluas ratusan ribu hektar yang panennya akan dimulai beberapa bulan lagi dan berkelanjutan, termasuk daeri daerah-daerah lainnya yang jumlahnya tidak sedikit. Braham optimistis untuk keberhasilan pengembangan tanaman jarak, apalagi didukung oleh luas dan struktur tanah yang cocok di lahan yang tersedia. ''Terlebih, kami didukung dengan teknologi dan utilitas yang sudah ada, minyak jarak pagar untuk biodiesel optimistis segera dihasilkan. Hal ini sejalan dengan harapan Dirut PT Kimia Farma Drs Gunawan Pranoto dan Direktur Produksi Drs Warsito Triatmodjo,'' paparnya. Kebutuhan Solar Menurut Braham, kebutuhan solar Indonesia sekarang ini mencapai 540 ribu barel lebih per hari atau 14 juta liter lebih per hari. Adanya kabar bahwa persediaan Bahan Bakar Minyak di indonesia tinggal 11-12 tahun lagi, bila tidak ditemukan sumur baru. Hal ini sangat mendorong upaya pengembangan BBM alternatif di antaranya dari minyak jarak pagar tersebut. Dalam pengembangan minyak jarak sebagai bahan biodiesel telah dilakukan pertemuan dengan berbagai pihak di antaranya dari ITB Dr Robert Manurung, dari Ketua Komisi IV DPR RI Mindo sianipar dari PT Rajawali Nusantara Indonesia Tjatur Dharma Yanto dan lembaga serta organisasi maupun perorangan lainnya. (E1-59 ) |