logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Oktober 2005 EKONOMI
Line

SMS, Fenomena dalam Bisnis Telekomunikasi Seluler

Pak Wali Kota dan Pak Polisi, tolong traffict light di perlimaan Banjarsari dihidupkan lagi. Kendaraan berjubel dan macet kan tidak nyaman (08132565xxxx)

ITULAH salah satu contoh short message service (SMS) atau layanan pesan singkat dalam rubrik interaktif sebuah surat kabar harian terbesar di Jateng.

Begitu banyak peminatnya sehingga ada beberapa rubrik serupa yang dimuat setiap hari dengan nama berbeda untuk melayani warga masyarakat kota tertentu.

Contohnya Piye Jal untuk Kota Semarang dan sekitarnya, Kepriben untuk wilayah eks Karesidenan Pekalongan, dan Sugeng Enjing untuk Solo dan sekitarnya.

Suara-suara publik yang disalurkan melalui rubrik interaktif memanfaatkan salah satu bentuk layanan telekomunikasi seluler itu pun bukan hal sepele atau sekadar main-main.

Konon, kali pertama yang dibaca seorang wali kota di Jateng setiap pagi setelah surat kabar langganannya datang adalah SMS-SMS tersebut.

Barangkali ada kritik, saran, atau masukan-masukan dari warganya yang perlu memperoleh pengananan atau tanggapan segera. Tak salah jika Direktur Utama PT Telkom Arwin Rasyid mengatakan layanan pesan singkat atau SMS merupakan salah satu loncatan teknologi yang turut memacu perkembangan bisnis telekomunikasi seluler di Tanah Air.

Lima tahun terakhir bisnis tersebut memang menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dan benar-benar mencengangkan.

Pada awal 1990-an telepon seluler masih termasuk barang mewah. Pemiliknya pasti orang berduit. Kalau bukan pengusaha pasti pejabat papan atas.

Jumlah operator dan teknologinya masih terbatas. Saat itu teknologi yang digunakan adalah Nordic Mobile Telecom (NMT) dan Advance Mobile Phone Service (AMPS).

Bisnis telekomunikasi seluler mulai mengalami booming setelah teknologi Global System for Mobile Communication (GSM) masuk menggusur NMT dan AMPS.

Pada tahun 1997 jumlah pelanggan seluler baru sekitar satu juta. Lonjakan terjadi sejalan dengan pemulihan ekonomi Indonesia setelah dihantam krisis moneter sejak paro akhir 1997.

Pada tahun 2000 jumlah pemakai telepon seluler (ponsel) telah meningkat menjadi 3,7 juta dan akhir 2004 membengkak lagi hingga sekitar 30 juta.

Pertengahan 2005 jumlah pelanggan seluler sudah menyentuh 39 juta dan hingga akhir tahun diperkirakan akan menembus 40 juta.

Itu pun baru pelanggan seluler yang diperoleh dari tiga operator terbesar, yakni Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo Pratama.

Belum termasuk pelanggan operator yang beroperasi dengan basis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA), misalnya Mobile-8 Telecommunication, Bakrie Telecom, dan Telkom.

Namun jumlah pelanggan tersebut sebenarnya agak bias karena sangat dimungkinkan seseorang memiliki lebih dari satu nomor ponsel, baik dari satu maupun beberapa operator.

Harus diakui sekarang ponsel bukan lagi barang mewah. Warga biasa, contohnya penjual sayur dan pembantu rumah tangga, sudah banyak yang memakai.

Persaingan antarprodusen handset (pesawat) ponsel menyebabkan harga makin murah. Sekarang dengan uang Rp 500 ribu sudah bisa memperoleh ponsel berfasilitas standar.

Dilihat dari segi pasar potensi pengguna jasa telekomunikasi di Indonesia tergolong luar biasa. Dari sekitar 220 juta penduduk diperkirakan 50%-nya atau 110 juta membutuhkan layanan jasa telekomunikasi.

Saat ini jumlah pelanggan seluler baru sekitar 38 juta. Jumlah pelanggan telepon tetap juga masih sedikit, yakni 10,07 juta pada tahun 2004. Pemerintah memproyeksikan teledensitas atau rasio satuan sambungan telepon per 100 penduduk pada tahun 2010 akan mencapai 50%.

Potensi Besar

Dari gambaran di atas tampak potensi pasar layanan seluler masih sangat besar, karena berharap dari telepon tetap agak berat akibat berbagai kendala, terutama investasinya yang butuh dana besar.

Potensi pasar yang menggiurkan itu mengundang minat investor asing untuk masuk ke bisnis telekomunikasi seluler, misalnya dari Singapura dan Malaysia.

Di samping, potensi pasar, kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup juga ikut memacu kebutuhan atas jasa telekomunikasi seluler.

Dengan berbagai layanan dan fitur yang ditawarkan oleh operator seluler kini ponsel bukan hanya menjadi media gethok tular modern, tetapi sekaligus menciptakan tren dan gaya hidup.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Rudiantara menyebutkan kelas menengah mendominasi pasar bisnis jasa telekomunikasi seluler.

Sebagian besar adalah pelanggan yang lebih banyak membutuhkan layanan suara dan SMS. Pasar SMS diartikan sebagai pasar sarana komunikasi yang murah.

Diperkirakan operator seluler masih akan beramai-ramai menawarkan paket-paket berbasis SMS atau layanan pesan singkat tersebut.

Transaksi perbankan pun kini bisa dilakukan lewat SMS. Bahkan kerahasiaan nomor penelepon bisa disiasati sehingga tak tertera pada handset ponsel penerimanya.

Memang ada yang menilai bahwa berkomunikasi melalui SMS seperti melangkah mundur ke masa radio panggil atau pager pada tahun 1980-an.

Namun sebenarnya antara kedua wahana atau media komunikasi itu berbeda jauh. SMS lebih praktis dan mandiri. Setelah menulis bisa langsung dikirim, bahkan ke beberapa nomor ponsel.

Bagaimanapun jangan remehkan efektivitas dan potensi mendatangkan uang dari SMS. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun membuka nomor khusus untuk berinteraksi dengan rakyatnya lewat layanan itu.

Rubrik interaktif di media massa sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini sangat efektif memangkas jalur birokrasi yang hingga kini masih berbelit-belit.

Contohnya seorang pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) menyampaikan keluhan soal ketidakberesan pencatatan meter air yang dilakukan oleh petugas melalui rubrik interaktif itu.

Pagi SMS-nya muncul di surat kabar, siang persoalan itu sudah dibereskan oleh pihak PDAM. Jika melewati prosedur pelaporan resmi maka kemungkinan penyelesaiannya perlu berhari-hari.

Presiden pun kelihatan ingin memanfaatkan efektivitas layanan pesan singkat untuk menyerap aspirasi dari rakyat sekaligus berupaya menyelesaikan jika dianggap cukup penting dan mendesak.

Saat ini SMS memang bagai ikon industri telekomunikasi seluler di Tanah Air. Hampir semua segi kehidupan telah dirasuki media komunikasi yang murah meriah tersebut.

Cukup dengan tarif sekitar Rp 250/SMS orang bisa berkomunikasi secara leluasa dengan keluarga dan sahabat, termasuk yang bermukim atau tengah berada di mancanegara.

Ingin pesan makanan tetapi malas keluar rumah sekarang ada jalan keluarnya. Beberapa rumah makan bersedia melayani pesanan lewat SMS dan mengantar ke alamat si pemesan. Namun jangan remehkan potensi bisnis layanan pesan singkat. Telkomsel, misalnya, bisa melayani 55 juta SMS setiap hari. Jika tarifnya Rp 250/SMS maka operator seluler itu mengantongi Rp 13,8 miliar per hari.

Tidak ada data pasti yang menyebutkan berapa pendapatan para operator seluler dari layanan pesan singkat tersebut.

Namun beberapa pakar bisnis jasa telekomunikasi memperkirakan rata-rata pendapatan dari SMS menyumbang sekitar 30% dari total pendapatan. Sungguh angka yang tidak main-main!

Berpijak pada perkiraan itu dari total pendapatan Telkomsel senilai Rp 10,4 triliun pada tahun 2004 sebesar Rp 3,4 triliun lebih disumbang oleh SMS.

Pada tahun yang sama dari total pendapatan Indosat sekitar Rp 7,5 triliun sumbangan SMS-nya mencapai Rp 2,5 triliun, sedangkan di Excelcomindo Pratama sekitar Rp 0,75 triliun dari Rp Rp 2,3 triliun.

Kini ada kecenderungan operator seluler menurunkan tarif SMS untuk menjaring lebih banyak lagi pengguna. Indosat, misalnya, menurunkan tarif dari Rp 350 menjadi hanya Rp 100/SMS.

Ternyata penurunan menjadi sekitar sepertiga tersebut, menurut Hasnul Suhaemi Direktur Niaga Indosat, menyebabkan pengguna SMS naik tiga kali lipat.

Selain penurunan tarif, muncul beberapa bentuk inovasi layanan dengan bonus SMS cuma-cuma. Contohnya program kejutan SMS cuma-cuma Kartu As yang diluncurkan Telkomsel.

SMS memang menjadi fenomena tersendiri dalam menciptakan tren berkomunikasi yang kreatif, akrab, dan tak mengenal batas wilayah. Media yang murah tetapi efektif itu luwes pula dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Dari interaksi publik hingga berbelanja dan mengikuti aneka kuis atau sekadar ber-say hello kepada teman.

Dominasi kalangan menengah pengguna seluler yang hanya membutuhkan layanan suara dan pesan singkat diperkirakan akan membuat fenomena itu bertahan cukup lama.(Bambang Tri Subeno, wartawan Suara Merdeka di Semarang-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA