| Kamis, 13 Oktober 2005 | SALA |
Solo Berbenah Menuju Kota Bisnis (1)Pusat Perbelanjaan Bermunculan setelah Hancur LeburSEBELUM tahun 1998 geliat ekonomi di Kota Solo hanya terlihat pada beberapa lokasi. Terutama tentu Pasar Klewer sebagai pusat perdagangan tekstil dan pakaian jadi yang disebut-sebut omzetnya miliaran rupiah per hari. Di pasar itu meskipun sebagian besar pedagangnya masih menerapkan cara tradisional dalam bertransaksi, nilainya sangat mencengangkan. Bayangkan transaksi puluhan bahkan ratusan juta rupiah hanya ditandai dengan sobekan kertas bekas pembungkus rokok. Faktor kepercayaan sesama mitra bisnis benar-benar memegang peranan penting di sini. Pelanggannya bukan hanya dari daerah sekitar Solo atau Jateng, tetapi sampai luar provinsi. Keterkenalan Pasar Klewer mendatangkan banyak pelanggan baru. ''Dampaknya harga sewa kios melejit. Saya sewa kios 2 x 3 m2 ini setahun Rp 20 juta,'' kata Ferry, salah satu penjual pakaian jadi di pasar itu . Selain Pasar Klewer, kegiatan ekonomi yang mencolok di kota itu sebelum 1998 ada di Singosaren Plasa. Di situ ada Matahari Department Store yang memborong ruangan cukup luas sehingga nama Singosaren Plasa tenggelam. Orang yang berbelanja ke Singosaren Plasa umumnya menyebut ke Matahari Singosaren. Di sanalah setiap hari terutama sore dan malam warga Solo dan sekitarnya membelanjakan uangnya. Selain telah berbelanja atau sekadar cuci mata, mereka bisa memanjakan lidahnya dengan aneka masakan di food bazar yang berada di lantai atas. Matahari Department Store tampak tahu persis Kota Solo adalah ladang bisnis yang sangat menjanjikan. Buktinya, tak cukup hanya memborong ruangan Singosaren Plasa. Jaringan pasar swalayan itu lalu merambah ke lantai dua Beteng Plasa. Setelah itu hadir di Purwosari melalui Super Ekonomi, pusat belanja untuk kelas menengah ke bawah. Luluh Lantak Tahun 1998 menjelang keruntuhan pemerintahan Orde Baru ketiga bangunan yang disewa Matahari itu luluh lantak dibakar massa. Bangunan pusat-pusat perbelanjaan lainnya juga mengalami nasib yang sama. Grup Luwes yang memiliki beberapa pusat bisnis hancur lebur. Toko-toko besar yang lain pun ludes dimangsa si jago merah yang disulut oleh massa yang marah. Saat itu Solo membara. Kehancuran pusat-pusat bisnis itu tak menyurutkan predikat Solo sebagai Kota Perdagangan. Dua tiga tahun setelah peristiwa amuk massa itu memang tak ada pembangunan. Namun empat lima tahun kemudian geliat ekonomi tampak jelas terlihat. Satu per satu pusat bisnis yang hancur kembali dibangun. Disusul pembangunan mal-mal besar. Tak kurang enam mal telah dibuka. Ada Solo Grand Mall (SGM), Goro Assalam, Mega Land, dan Matahari Department Store di Singosaren Plasa yang menempati ruang lebih luas dari sebelumnya. Tak lama lagi dibuka adalah Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), Solo Square (sebelumnya akan diberi nama De Laweyan Mall), dan yang sekarang dalam proses pembangunan, yakni di bekas Rumah Sakit Pusat dan di Tipes. Pelaku bisnis kelihatan tidak jera berinvestasi di Kota Bengawan. Mereka menganggap kota ini menyuguhkan tantangan untuk sukses dalam berbisnis. Salah seorang pelaku bisnis yang sangat optimistis pada perkembangan ke depan Kota Solo adalah Direktur Utama PSP Kunto Harjono yang kini sibuk menyelesaikan BTC, sebuah pusat grosir yang hanya beberapa puluh meter dari Pasar Klewer. ''Saya optimistis bisnis di Kota Solo ke depan akan makin berkembang, sehingga saya berani membangun BTC,'' ujarnya. BTC dimaksudkan pula untuk memberi kesempatan kepada pebisnis muda yang ingin berkiprah di Pasar Klewer tetapi namun tak bisa terealisasi karena keterbatasan kios yang tersedia. Dengan luas bangunan 25.000 m2 pusat bisnis itu menyediakan 1.750 kios dan kapasitas parkir 1.000 mobil. Di situ ada kios pakaian, batik, elektronik dan ponsel, audio dan musik, optik dan arloji, restoran, serta kerajinan. Meski bangunan lantai dua dan tiga baru akan ditempati, bangunan lama di lantai satu sejak sebelum 1998 hingga kini telah ramai oleh pembeli. Transaksi kain kiloan dan pakaian jadi tak pernah sepi setiap hari walaupun lokasinya berdekatan dengan Pasar Klewer yang telah punya nama lebih dulu. (Subakti A Sidik-27) |