logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 13 Oktober 2005 PANTURA
Line

Pangkalan Minyak Kelebihan Stok

TEGAL -Setelah kenaikan harga BBM, antrean di pangkalan dan pengecer minyak tanah kini tak terlihat lagi. Beberapa pangkalan justru kelebihan stok.

Salah seorang pemilik pangkalan minyak di Jalan Flores Nomor 87, Ny Hj Badriyah, menuturkan, stok minyak tanah yang dikirim agennya Senin (10/10) kemarin masih tersisa 2 drum atau sekitar 440 liter.

"Konsumen membeli dalam jumlah sedikit," ujar dia, kemarin. Dibandingkan dengan kondisi seminggu menjelang kenaikan BBM, pangkalannya saat ini sangat sepi pembeli.

"Waktu itu minyak yang baru datang selalu diserbu warga dan tiga jam sudah ludes," tambahnya. Minyak tanah yang dijatahkan agen milik H Sulaeman Faris di Jalan Werkudoro sejumlah 5.000 liter per minggu.

Dia mendapatkan kiriman dua kali dalam seminggu yakni setiap hari Senin dan Kamis. Meskipun harga eceran tertinggi (HET) di tingkat pangkalan ditetapkan Rp 2.350, dia menjual minyak tanah kepada konsumen yang terdiri atas pengecer dan konsumen biasa dengan harga Rp 2.400 per liter. "Saya menjual dengan harga Rp 2.400 karena saya harus membayar karyawan yang melayani pembeli," kata dia.

Dia memperkirakan stok minyak tanah yang dikirim Senin lalu masih akan tersisa pada kiriman berikutnya, yakni Kamis. Hal tersebut bagi dia cukup merepotkan.

Pasalnya, dia harus membayar minyak tanah yang dikirim, padahal ratusan liter minyak tanah belum terjual. Selain itu, karena tidak mempunyai halaman yang luas untuk menaruh banyak drum minyak, dia terpaksa menitipkan jatah minyaknya di agen. "Sewaktu-waktu saya ambil di agen tersebut. Tempat saya paling banyak dapat menampung sebelas drum," ujar dia.

Kayu Bakar

Mengenai penyebab sepinya pangkalan, dia menduga karena konsumen telah menimbun minyak tanah sebelumnya untuk jangka waktu satu sampai dua bulan.

Selain itu, penyebab lain diduga karena banyak warga yang beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Hal ini seperti dikatakan Tarso (55), salah seorang warga kompleks Perumahan Bong Cina di Martoloyo, Panggung, Tegal Timur.

"Bagaimana lagi, jika tetap menggunakan minyak tanah, pendapatan tidak akan cukup," ujar ayah tiga anak itu. (lei-52t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA