logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 13 Oktober 2005 SEMARANG
Line

Lailatul Qadar Senilai Ibadah 84 Tahun

SEMARANG - Keutamaan Lailatul Qadar telah ditunjukkan Allah lewat firmannya dalam Surat Alqadar. Bahwa, malam itu bernilai lebih dari 1.000 bulan. Siapa pun yang berbuat kebajikan pada malam itu akan memperoleh pahala yang berlipat ganda.

Demikian disampaikan Ustad Ari Purbono saat menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum) dalam Tarawih Keliling Pemkot putaran IV di Kecamatan Candisari, yang dilaksanakan di Masjid Alfatah Kelurahan Tegalsari, Selasa (11/10) malam. Hadir dalam kesempatan itu Wali Kota dan Wakil Wali Kota, para kepala dinas, serta camat dan lurah se-Kota Semarang.

''Kalau dihitung, keutamaan ibadah pada Lailatul Qadar senilai dengan ibadah selama 84 tahun. Sayang sekali, kalau pada Ramadan kali ini kita tidak mendapatkannya,'' ujar anggota DPRD Kota dari FPKS itu.

Dikisahkannya, Rasulullah pernah menyampaikan pesan, zaman Bani Israil ada empat orang yang tidak pernah berbuat maksiat selama 83 tahun lebih. Mereka adalah Ayyub, Zakaria, Hazqil bin Hazlah, dan Yusyik bin Nun.

Mendengar itu, para sahabat menjadi cemburu. Mereka merasa, umat zaman Nabi merupakan yang terbaik. Lantas mereka meminta Rasulullah berdoa, agar diberi kenikmatan iman semacam itu.

''Lewat Surah Alqadar, Malaikat Jibril mengabarkan keberadaan Lailatul Qadar sebagai karunia Allah,'' paparnya.

Dalam ceramahnya, Wakil Wali Kota Mahfudz Ali menyampaikan ajakan untuk berintrospeksi atas berbagai bencana yang terjadi di sejumlah tempat. Setiap peristiwa yang terjadi merupakan bentuk ujian dan peringatan bagi manusia agar semakin dekat dengan Khaliknya.

Tawakal

Pada tarawih keliling (tarling) putaran sebelumnya di Gedung Korpri Jl Ki Mangunsarkoro, KH Dzikron Abdillah yang menjadi penceramah mengatakan, semua persoalan hidup yang dihadapi manusia hendaknya diserahkan dan dikembalikan kepada Allah. Sebab, tidak ada satu persoalan pun yang luput dari kehendak Allah.

Dengan berserah diri, setiap orang akan senantiasa diliputi ketenangan dalam hidupnya.

''Kendati demikian, sikap tawakal atau berserah diri itu harus dibarengi dengan ikhtiar yang maksimal,'' kata pengasuh Pesantren Addainuriyah Pedurungan tersebut.

Di sisi lain, dia menyampaikan, pentingnya pemimpin yang mampu mengerti dan memahami kebutuhan masyarakat. Terlebih, saat ini masyarakat memerlukan figur yang memahami kesulitan mereka, misalnya terkait dengan kenaikan harga BBM dan bahan pokok. (H9,H5-44h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA