logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 13 Oktober 2005 KEDU & DIY
Line

Generasi Muda Perlu Perbaiki Kerusakan Moral Bangsa

BULAN Puasa sebagai bulan introspeksi atau bulan penggemblengan yang ujungnya adalah sikap mental yang takwa. Karena itu, generasi muda atau kita semua bangsa Indonesia perlu untuk memperbaiki kerusakan moral bangsa.

Ajakan itu disampaikan Ketua Takmir Masjid Kampus UGM Yogyakarta, Drs Masjhuri Mascab SU, ketika ditanya pesan-pesannya kepada generasi muda khususnya mahasiswa pada bulan Puasa ini, Rabu (12/10).

Dia mengatakan, dirinya dan banyak teman lainnya berkeyakinan bahwa yang menghancurkan negeri ini, yang membuat ekonomi kita remuk redam, membuat banyak orang miskin, membuat banyak orang sakit tidak terobati, adalah penyakit besar yaitu kerusakan moral bangsa.

Yang ditandai dengan sikap tidak bertanggung jawab, tidak toleran, tidak lagi punya rasa kasih sayang kepada sesama manusia, sehingga yang muncul adalah perilaku menyimpang seperti korupsi, mementingkan keluarga sendiri.

Selain itu juga mengambil hak orang lain, bertindak kasar bahkan kejam terhadap sesama manusia, termasuk tindakan-tindakan teroris yang telah menimbulkan korban banyak orang yang tidak berdosa.

Untuk kembali kepada ajaran Allah harus dimulai dengan tobat. Yaitu yang namanya tobat yang pertama adalah mengakhiri semua perbuatan yang dilarang oleh Tuhan dan tuntunan agama. Kedua, bertekad sungguh-sungguh dan juga berusaha sekuat tenaga untuk tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dilakukan.

''Ketiga, menyempurnakan tobat dengan cara memperbanyak berbuat baik dan amal kebajikan,'' ujarnya.

Tauhid Sosial

Dikemukakan oleh Masjhuri, anak-anak muda hendaknya tidak ikut-ikutan dalam perbuatan yang telah dilakukan oleh banyak orang tua masa kini atau masa yang lalu.

Sedangkan masyarakat hendaknya menghentikan perbuatan yang terlarang, yang menyebabkan kerugian bahkan kesengsaraan bagi orang lain. Bukan hanya di bulan Puasa, melainkan juga tidak akan melakukannya lagi di masa-masa yang akan datang.

Menurutnya, berbuat amal kebajikan misalnya korupsinya tidak sempat diketahui dan tidak sempat ditindak, maka harta kekayaan yang berlebihan itu digunakan untuk membantu orang-orang yang tidak punya yang membutuhkan pertolongan.

Para pejabat yang telah melakukan kesalahan atau yang merasa telah membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat, hendaknya berusaha memperbaikinya.

Bukan hanya dihentikan, melainkan kebijakan-kebijakan yang keliru diperbaiki dan disempurnakan dengan membuat kebijakan-kebijakan baru yang memberikan manfaat lebih besar kepada rakyat.

''Itulah esensi dari apa yang harus kita lakukan pada bulan Ramadan ini, karena saya kira Indonesia sekarang sangat membutuhkan perwujudan dari apa yang disebut tauhid sosial.''

Orang tidak hanya bertakwa kepada Allah dan menjalankan puasa kemudian salat sunat, tarawih, baca Alquran, dan sebagainya, karena Allah sesungguhnya tidak membutuhkan apa yang dilakukan manusia-manusia yang bertakwa dengan cara mengaji, dengan cara salat, tetapi yang diperlukan oleh Allah adalah pengakuan.

Jadi, puncak dari keimanan seseorang atau puncak takwa seseorang adalah kalau dia sudah bisa mencintai orang lain seperti dia mencintai diri sendiri.

Jadi, tidak ada gunanya orang berbakti kepada Allah dengan menjalankan salat liwa waktu dengan tertib dan salat sunat serta baca Alquran, kalau dia tidak bersikap santun kepada tetangga kanan-kiri. (Bambang Unjianto-16t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA