| Kamis, 13 Oktober 2005 | EKONOMI |
Taktik Sombong saat BBM NaikPertanyaan:Kenaikan BBM kali ini benar-benar membuat kalangan pengusaha sangat berat. Apalagi kenaikan ini juga mencakup BBM industri. Saya sebagai pengusaha furniture, terus terang merasa hampir kehabisan nafas. Sebelum kenaikan BBM, pengusaha furniture sudah dibuat pusing dengan kelangkaan bahan baku, sehingga harganya menjadi sangat tinggi. Saat kami mulai bisa menahan nafas, tiba-tiba BBM naik dua kali lipat lebih. Mungkin kami harus siap-siap gulung karpet dulu. Dalam kondisi serba sulit seperti ini, kita juga masih berhadapan dengan egoisme karyawan. Dengan skill yang dimiliki, mereka biasanya langsung meminta kenaikan gaji, sementara penjualan belum stabil. Kadang saya berpikir, benar juga nasihat seorang motivator yang menganjurkan pentingnya menyombongkan diri (yang diambil dari sebuah buku yang berjudul ''Brag'') di era yang sangat kompetitif ini. Kalau memang mereka mau main ego, saya pun bisa mengancam menutup pabrik. Jika pengasuh klinik marketing punya tips, saya mohon diberitahu. A Santosa Jepara Jawab: Membaca surat pak Santosa, saya lebih merasa jadi tempat curhat, karena hampir tidak ada pertanyaan selain pernyataan. Kami, teman-teman di pengurus IMA Jateng akhir-akhir ini memang sering menjadi tempat curhat soal kenaikan BBM yang berdampak pada biaya produksi. Jujur saja, ini kondisi terberat bagi seluruh bangsa Indonesia, karena dampaknya bukan hanya pada masalah bisnis, tetapi juga aspek sosial, keamanan, hingga politik. Pak San, saya kemarin juga mendengar dari salah satu stasiun radio di Semarang, soal keharusan menyombongkan diri di era yang sangat padat informasi. Saya terus terang terperanjat dengan anjurannya bahwa rendah hati kini tidak berlaku lagi di era yang padat informasi ini. Sebenarnya saya menangkap substansi pesan yang disampaikan, yaitu marketing yourself. Bahayanya, karena diudarakan dalam waktu singkat (tanpa penjelasan) dan didengarkan pendengar yang beragam intelektualitasnya. Bisa ditangkap, sombong adalah cara memenangkan persaingan bisnis saat ini. Pak San, terus terang menyombongkan diri sangat berbeda dengan memasarkan diri. Orang justru akan muak ketika orang secara terus menerus mendengar lawan bicaranya yang melulu bicara soal kehebatannya. Memasarkan diri adalah mengomunikasikan segala nilai lebih yang ada pada kita, sehingga pihak lain merasa memiliki manfaat yang besar berhubungan dengan kita. Bayangkan kalau Anda hanya menyombongkan sebagai pengusaha yang paling menentukan nasib perusahaan, maka karyawan hanya patuh dengan keterpaksaan, tanpa memiliki loyalitas dan empati kepada kesulitan Anda. Di tataran psikologis kita mengenal istilah mind magic, di mana pikiran memiliki kekuatan yang sangat dasyat dalam mempengaruhi perilaku dan pengambilan keputusan seseorang. Jika sudah berfikiran mau menutup, maka Anda akan selalu didorong kekuatan untuk menutup perusahaan, dan akhirnya Anda pun benar-benar menutup perusahaan. Menurut saya, Anda harus punya keyakinan untuk memperpanjang dan melestarikan perusahaan. Kekuatan keyakinan, dan antusias akan menjadi pemompa spirit di kalangan karyawan. Tetapi kekuatan motivasi dengan kata-kata biasanya kurang kuat, karena dia hanya menyentuh tataran emosionalnya saja. Begitu ada rangsangan yang lebih kuat, biasanya keyakinan mereka berubah. Untuk itulah perlu mengajak seluruh karyawan untuk masuk ke aspek spiritual management. Aspek ini akan mampu membangun kesadaran manusia, baik secara makrokosmos maupun mikrokosmos. Bahkan beberapa perusahaan kini telah menetapkan bahwa modal terbesar di era yang serba sulit ini, yakni spiritual capital. Sebenarnya pemahaman ini sudah bisa dibuktikan sejak beratus-ratus tahun lalu. Dalam sejarah agama kita, bisa melihat loyalitas pengikut Musa untuk berani menderita adalah kepiawaian sang leader dalam menterjemahkan hakekat manusia sebagai mahluk yang memiliki keterbatasan, sekaligus memiliki kekuatan perlindungan yang maha dasyat, Allah. Dalam kondisi darurat-cepat seperti sekarang, langkah terbaik yang harus dilakukan dengan meningkatkan intensitas komunikasi. Melakukan konsolidasi ke dalam, sehingga masing-masing merasa bertanggungjawab atas kelangsungan hidup perusahaan Anda. Terangkan falsafah change or die, bahwa tanpa ada kemauan untuk berubah dari semua lini, perusahaan benar-benar akan mati. Anda juga harus bisa menjelaskan semua perusahaan mengalami kondisi yang sama. Ini artinya, tiap perusahaan tidak akan mampu menampung tenaga-tenaga kerja dari perusahaan lain. Nah pak San, di era yang memang sangat sulit ini, tetaplah berfikir, berdzikir, dan berikhtiar, agar perusahaan harus tetap hidup. Perilaku dan sikap Anda akan mempengaruhi semangat juang karyawan. Saatnya untuk bersama-sama menjadi rendah hati, bahwa kita dan karyawan semuanya memiliki keterbatasan. (33) |