logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Oktober 2005 NASIONAL
Line

Pilu Nelayan akibat Kenaikan Harga BBM (1)

Frustrasi, Pilih Bakar Diri


BERSAMA KAKEK: Fatmawati, bocah berusia 3 tahun 5 bulan terlihat memelas. Dia ditemani kakeknya di rumah bambu milik orang tuanya di Desa Kedungmalang RT 3 RW 1, Kecamatan Kedung, Jepara. Ibu bocah itu meninggal dengan cara membakar diri awal September lalu, gara-gara kondisi ekonomi keluarga yang semakin memburuk akibat kelangkaan dan kenaikan harga BBM. (57m) SM/Muhammadun Sanomae

Langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), perlahan namun pasti ''membunuh'' jutaan nelayan di berbagai daerah. Defisit penghasilan dibanding dengan biaya operasional yang tinggi, menjadi jeritan utama mereka. Bahkan di Jepara, kenaikan harga BBM telah membawa petaka bagi keluarga nelayan. Salah satu anggota keluarga nekat membakar diri karena rasa frustrasi yang akut. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka yang diturunkan mulai hari ini.

SPONTAN Sumulyadi (65) tidak kuasa menahan air mata saat menceritakan kisah menantunya yang meninggal dunia pertengahan September 2005 lalu. Siti Aisyah (27) warga RT 3 RW 1 Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara meninggal dunia setelah membakar diri, awal September lalu.

Sementara itu, sekujur tubuh Zubaidi (31), suami Aisyah, ikut terbakar ketika berusaha menyelamatkan istrinya. Hingga Senin (10/10), Zubaidi dirawat di rumah saudara di Dukuh Babalan, Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Sumulyadi tidak bisa menjelaskan secara rinci kejadian nahas yang menimpa keluarganya itu. Najib (14), cucu Sumulyadi menceritakan kejadian yang tidak banyak tercium publik, selain di desa itu. Sebab, kejadian itu baru mencuat saat ratusan nelayan Desa Kedungmalang melakukan aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM di gedung DPRD Jepara, Jumat (7/10) lalu.

Kepada Suara Merdeka, Najib bertutur bahwa awal September lalu terjadi kelangkaan minyak tanah luar biasa di sekitar kawasan desa yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan. Sebagaimana istri nelayan yang lain, siang itu Aisyah ''ditugaskan'' suaminya (Zubaidi) antre minyak tanah untuk kebutuhan melaut esok hari. Karena langka, dia tidak memperoleh minyak tanah setetes pun dari pedagang pangkalan maupun eceran.

Petang hari, Zubaidi baru saja pulang melaut dengan menggunakan perahu sopek kecil miliknya. ''Saat itu, dia (Zubaidi) tidak memperoleh hasil apa-apa, kecuali rugi,'' kata Najib. Tidak ada tetangga yang tahu kejadian itu karena semua berangkat pengajian. Entah apa isi dialog antara Zubaidi dan istri. Pasangan itu bertengkar atas kesulitan yang terjadi. Menurut Najib mengutip penuturan Zubaidi, saat itu Aisayah yang pikirannya sudah "sumpek", menyiram tubuhnya dengan minyak tanah sisa kompor masak. Wanita itu langsung membakar diri, sedangkan suami berusaha memadamkan kobaran api yang membakar pakaian istrinya. Namun apa mau dikata, pasangan itu sama-sama terbakar.

Warga pun langsung membawa Aisyah yang sekujur tubuhnya terbakar, ke Rumah Sakit Islam Kudus. Karena parah, wanita itu dirujuk ke Rumah Sakit Kariadi Semarang. Namun setelah dua pekan menjalani perawatan, Aisyah meninggal dunia. Ia meninggalkan putrinya, Fatmawati yang masih 3 tahun 5 bulan.

Sementara itu, Zubaidi yang beberapa hari juga dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Kudus -karena tidak punya uang untuk pengobatan-, dipindah ke rumah saudaranya di Dukuh Babalan Kecamatan Undaan Kudus. Saat ini, dia memulihkan diri sambil memperoleh perawatan dari tenaga kesehatan desa.

Saat ini, Fatmawati tinggal bersama kakeknya, Sumulyadi di Desa Kedungmalang. Lelaki tua itu menempati sebuah rumah bambu yang bersebelahan dengan rumah bambu milik Zubaidi. Sangat memprihatinkan kondisi rumah Zubaidi. Selain sempit, rumah itu hanya berlantaikan tanah dan berdinding bambu. Keluarga itu hanya memiliki perabot dua kursi plastik, satu meja tua, dan sebuah dipan kayu tak beralas. Pintu rumah itu pun hanya jeruji bagai penjara tetapi terbuat dari bambu.

''Perahu dan mesin milik Zubaidi sudah terjual. Uangnya habis untuk biaya perawatan di rumah sakit. Bahkan, 18 hari perawatan di Desa Babalan belum terbayar,'' tutur Sumulyadi yang terus tersedu-sedu. Perahu dan mesin itu dijual Rp 5,6 juta. Padahal perawatan menghabiskan dana Rp 7.600.000. Sumulyadi terpaksa menjual kayu-kayu seadanya untuk menutup biaya pengobatan. ''Saat dirawat di RSI Kudus, anak dan menantu, termasuk keluarga kami yang menunggui diberi makan orang lain,'' tuturnya terbata-bata.

Sumulyadi yang tidak punya apa-apa lagi itu semakin menangis karena tidak terdaftar sebagai penerima sumbangan langsung tunai (SLT) program kompensasi pengurangan subsidi (PKPS) BBM. ''Saya itu tidak punya apa-apa. Pekerjaan tidak punya. Dulu pernah menyewa tambak, tetapi sekarang tidak kuat bayar sewa. Padahal anak saya sakit dan tak bisa melaut,'' katanya.

Sumulyadi berkisah seperti itu disaksikan puluhan nelayan dan istri di Desa Kedungmalang. Bagi mereka, itu merupakan curahan hati paling memilukan di antara sekian banyak keluhan para nelayan setempat.

Sehari Makan, Sehari Tidak

Simaklah seperti apa yang dituturkan Retinah, warga Desa Kedungmalang. Karena suami mengalami defisit saat melaut, keluarga rela sehari makan, sehari tidak. ''Kami kuat-kuatkan menghadapi kondisi sulit ini, meski terkadang kami harus menangis saat malam hari,'' katanya.

Ia lantas menunjukkan puluhan anak perempuan dan para istri nelayan yang tidak lagi mengenakan anting, gelang, cincin atau perhiasan lain.

Sebagian besar penduduk Kecamatan Kedung memang bekerja sebagai nelayan. Sebagaimana temperamen masyarakat pesisir yang lain, mereka tidak segan-segan berteriak dan bertindak berani untuk sekadar melawan nasib.

Lihatlah gelombang protes nelayan Desa Karangaji yang menyandera mobil tangki Pertamina, disusul tiga hari kemudian unjuk rasa ratusan nelayan Desa Kedungmalang ke DPRD, sebagai puncak kegundahan mereka. ''Langkah pemerintah menaikkan harga BBM benar-benar membunuh kami secara perlahan. Ekonomi kami jadi terhenti, kondisi psikis kami juga sudah sangat lelah. Kami hidup di tengah-tengah keluarga yang butuh makan dan anak-anak yang butuh sekolah. Kami heran masih banyak pejabat yang tertawa sementara masyarakatnya tak berdaya,''tutur Abdul Wahid, nelayan dari RT 4 RW 1 Desa Kedungmalang. Dia mengungkapkan, ribuan nelayan berhenti melaut karena kondisi terakhir sangat menyulitkan. (Muhammadun Sanomae-41m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA