| Minggu, 09 Oktober 2005 | OLAHRAGA |
Kau Katakan dengan Indah, Jose!Oleh: Amir Machmud NSANDAI kita meminjam judul lagu Peterpan - ''Kukatakan dengan Indah'', tampaknya Jose Mourinho patut meneguhkan kepercayaan diri lewat goresan catatan manis selama sepekan kemarin. Kemenangan telak 4-1 atas Liverpool, lebih dari nilai pertandingan mana pun, memberi hak kepada pria flamboyan Portugal itu untuk membungkam gelombang kritik tentang Chelsea, tentang arogansinya, tentang semua yang serbamiring bagi ambisi-ambisinya. Mourinho membutuhkan bukan hanya gaya, yang terkadang memercikkan amarah dan dendam bagi para rivalnya di Liga Inggris, tetapi juga pembuktian tentang sebuah ''ekspresi Jose''. Termasuk rasa penasarannya terhadap arsitek Liverpool Rafael Benitez yang sejauh ini seperti duri dalam daging - menggerogoti klaimnya untuk disebut sebagai manajer paling piawai. Ya, hanya Rafa yang mampu menebar aroma kegelisahan di Stamford Bridge, dan hanya pria Spanyol itulah yang memberi bukti bahwa Chelsea bukan tim yang tak dapat dikalahkan. Sukses Liverpool di Liga Champions, bukankah itu pembuktian telak tentang kasta yang lebih bergengsi dibandingkan dengan semua hasil pertandingan yang telah mereka lewati? Stevan Gerrard dkk menahan imbang 0-0 di London, lalu unggul 1-0 di Anfield. Bahkan dalam leg pertama Eropa musim ini, kembali The Reds membuktikan keunggulan strategi dengan memaksakan hasil tanpa gol. Lalu skor 4-1 di Anfield itu? Bahkan kapten Liverpool Stevie G pun tidak menutupi kekagumannya, ''Setiap tim Eropa punya kekurangan, tetapi kelemahan mereka sangat sedikit, dan itu pun sulit ditemukan. Mereka tidak meninggalkan banyak ruang kosong, mereka tim hebat''. ''Tidak meninggalkan banyak ruang kosong''. Tampaknya inilah kesimpulan yang tepat untuk menggambarkan sukses racikan Mourinho. Mereka bukan sekadar sekumpulan pemain hebat, tetapi telah menyatu dalam sebuah kerancakan orkestrasi. Antara satu pemain dengan lainnya bagai tak berjarak. Memang tak sedikit yang mengkritik langgam permainan Chelsea membosankan, atau seperti sinisme sang legenda Johan Cruyff, ''kemenangan-kemenangan diraih tanpa melewati proses cantik''. Cruyff memang salah satu ikon sepak bola indah, attacking football lewat simbolisasi tuangan abadinya bersama Ajax dan tim nasional Belanda 1974, atau ketika menukangi Barcelona untuk menghasilkan karya dengan konsistensi filofosinya. Bagi orang-orang seperti Cruyff, sepak bola efektif ala Chelsea tidaklah cukup untuk mengekspresikan keindahan seni. Maka keyakinan seperti itulah yang bakal membentangkan jarak pendekatan filofosi antara kedua maestro. Cruyff di satu pihak, dengan Mourinho yang mengukuhi prinsip bahwa parameter kualitas suatu tim sepak bola adalah kemampuan untuk merangkum semua aspek, yakni ambisi besar, kualitas pertahanan dan serangan, skill individu pemain, serta kreativitas bermain. Dengan aspek-aspek itulah, Mourinho berburu kemenangan, karena ukuran apakah tim itu nantinya menjadi yang terkuat di dunia atau bukan adalah kemenangan. Dan, pendekatan itu jelas berlawanan dengan prinsip Cruyff, ''Tanpa permainan indah, sebuah kemenangan tak akan punya makna''. * * * PEMAIN rekrutan Mourinho tak dapat dikatakan sebagai yang terbaik di posisi masing-masing, karena banyak klub lain yang mengoleksi bintang-bintang tak kalah cemerlang. Namun dia tepat dalam memilih pilar, dan mampu meracik sesuai dengan selera taktikalnya. Teori ''tidak meninggalkan banyak ruang kosong'' itu ditopang oleh kunci-kunci pada tiap posisi. Peter Cech di bawah mistar adalah yang terbaik di Liga Inggris saat ini, ditopang ''the boss'' John Terry di jantung pertahanan bersama Ricardo Carvalho, William Gallas, dan Asier Del Horno. Di barisan tengah sentralitas Frank Lampard menempatkannya sebagai gelandang serbaguna paling produktif, bahkan dengan peran tak tergantikan di Chelsea maupun timnas Inggris. Dia didampingi Claude Makelele, Michael Essien, Shaun Wright-Phillips, Joe Cole, dan Arjen Robben - bergantung bagaimana kebutuhan taktik untuk satu pertandingan. Di lini depan juga tinggal memilih: Didier Drogba sebagai top of the top, Hernan Crespo, Damien Duff, atau Eidur Gudjohnsen. Keseimbangan antara pertahanan kokoh - yang dimulai dari ''tirai'' Makelele atau Essien di garis gelandang bertahan - hingga serangan rapi yang diawali dari kecepatan membalik situasi melalui Robben, Cole, atau Duff, menciptakan ''sedikit kemungkinan ruang kosong yang bisa dimanfaatkan lawan''. Statistik produktivitas memasukkan 18 gol dengan hanya kemasukan dua dalam delapan pertandingan menggambarkan keterpeliharaan teori keseimbangan tadi. Pola rotasi yang dipilih Mourinho, sejauh ini tidak menimbulkan friksi. Kondisi itu tentulah terkait dengan kualitas leadership-nya, kemampuan manajerial untuk tidak sekadar mengatur dan mencocok-cocokkan pemain, melainkan yang lebih penting: mengelola mereka sebagai manusia. Pada musim lalu, dengan komposisi yang belum sematang sekarang, Mourinho menghasilkan gelar liga dan Piala Liga, namun gagal di semifinal Liga Champions. Tahun ini peluang mempertahankan gelar di Liga Utama tampak sulit dibendung. Kendati peluang Arsenal dan Manchester United tidak bisa dikatakan tertutup, namun secara psikologis Chelsea sudah berjalan terlalu jauh. Tetapi bagaimana dengan di level Eropa? Apakah kemenangan 4-1 atas Liverpool di pentas liga bakal berlaku pula dalam pertemuan kedua di Liga Champions? Seandainya teori ''kasta'' berlaku, maka dibutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis, karena tampaknya Liverpool memang mempunyai spirit dan ''aura'' berbeda di ''majelis'' ini. Kalau itu pun nantinya terlewati, barulah rasa penasaran seluruh punggawa The Blues bisa dibilang tuntas. Untuk sementara ini, setidak-tidaknya Jose Mourinho sudah ''mengatakan dengan indah'' melalui berbagai pembuktian sepak terjang John Terry dkk. (28) |