| Minggu, 09 Oktober 2005 | OLAHRAGA |
Tak Kehilangan MomentumBULAN puasa terkadang menjadi halangan yang cukup besar bagi para atlet terlebih lagi ketika mereka tengah digenjot habis-habisan untuk mengikuti seluruh program Pelatnas karena kurang dari dua bulan lagi akan mengikuti SEA Games Manila. Hal itu juga yang dirasakan petenis muda Indonesia, Sunu Wahyu Trijati yang menjadi satu dari empat petenis putra (Suwandi, Bonit Wiryawan dan Prima Simpatiaji,-red) dan kini juga tengah mengikuti seri Master Bakrie Indonesia ITF Men's Satellite Circuit. Pada turnamen yang digelar di awal-awal bulan ramadan ini, Sunu yang kini berusia 18 tahun itu pun terpaksa meninggalkan ibadah puasa. "Ya...mau gimana lagi, kalau dipaksa puasa saya pasti tidak akan kuat mengikuti turnamen," kata Sunu yang tersingkir di babak kedua seri Master Bakrie Indonesia setelah kalah di tangan unggulan pertama dari Jepang Norikazu Sugiyama dalam dua set langsung 6-1, 6-4, Rabu lalu. Kalah di babak kedua pada turnamen berhadiah 6.250 dolar AS itu, Sunu pun langsung akan disibukkan dengan aktivitas latihan di Pelatnas dan ia pun mengaku masih sulit menjalankan ibadah puasa saat berlatih. ''Masih sulit juga untuk puasa, karena jadwal latihan cukup ketat, pagi dan sore hari masing-masing tiga jam,'' sambung Sunu, yang pada Porda lalu membela kontingen Kota Tegal itu. Sunu mengaku berlatih lima hari dalam satu pekan mulai dari Senin - Jumat dengan jadwal pagi mulai pukul 09.00-12.00 WIB dan sore hari mulai pukul 15.00-18.00 WIB. ''Saya terkadang juga merasa tidak bebas karena jadwal yang begitu ketat, karenanya saya selalu berusaha memanfaatkan akhir pekan dengan sebaik-baiknya,'' ujar Sunu yang bertekad membawa medali emas dari SEA Games mendatang. Namun demikian, Sunu yang telah tergabung selama satu tahun di Pelatnas itu jugamengaku tidak terlalu merasa kehilangan momentum bulan ramadan yang biasanya digunakan untuk berkumpul bersama keluarga, karena sebelumnya ia sudah lama tinggal di mess latihan. ''Sebelumnya, saya juga jarang berkumpul dengan keluarga saat bulan ramadan karena sebagian besar hari-hari saya dihabiskan untuk latihan di mess. Biasanya pada akhir pekan, saya baru dapat pulang ke rumah untuk kumpul dengan keluarga. Terlebih dalam 1,5 tahun belakangan ini kedua orang tua saya pindah ke Solo karena usaha mereka ada di sana.'' ''Jadi, saya merasa tidak terlalu kehilangan momen ramadan. Tapi saya akan berusaha pulang ke Solo saat lebaran nanti,'' katanya. (Darjo Soyat/Wagiman-28) |