| Minggu, 09 Oktober 2005 | NASIONAL |
Diprotes, Jual Minyak Tanah Rp 2.500/Liter
BANYUMAS - Sejumlah pemilik pangkalan minyak tanah di Kabupaten Banyumas mengaku diprotes pembeli karena menjual minyak dengan harga eceran tertinggi (HET) mencapai Rp 2.500/liter. Padahal untuk Banyumas, HET minyak tanah di tingkat pangkalan sesuai dengan SK Gubernur Rp 2.350. Harga Rp 2.500 itu merupakan HET sementara yang digunakan sebagai acuan oleh Hiswana Migas sebelum ada keputusan resmi dari pemerintah. Pembeli mengeluhkan hal itu karena yang mereka ketahui harganya cuma Rp 2.000/liter. Itu mengacu pada pengumuman pemerintah saat mengumumkan pemberlakuan harga baru untuk minyak tanah, premiun, dan solar, 1 Oktober lalu. Mereka tidak mengetahui kalau harga Rp 2.000/liter itu harga di Pertamina (depot pengiriman). ''Kita diprotes para pembeli, katanya kita mencari keuntungan banyak sekali. Mereka tahunya harga di pangkalan Rp 2.000/liter, tapi kok menjualnya Rp 2.500/liter,'' ujar Wasitah, pemilik pangkalan di kompleks Pasar Karanglewas, kemarin. Menurut mantan anggota DPRD 1999-2004 itu, yang mendapat protes dari pembeli dan pengcer tidak hanya dirinya. Hal itu hampir merata dialami para pemilik pangkalan. Sebab, yang diketahui masyarakat harga minyak tanah Rp 2.000/liter. ''Mereka kan tidak tahu kalau yang diumumkan pemerintah itu harga dari Pertamina. Padahal dari Pertamina masih melewati mata rantai agen dan pangkalan. Kalau kesalahpahaman itu terjadi, kami yang kena dampaknya,'' ujarnya. Dia juga mengakui, sebelum ada surat ederan resmi dari Hiswana Migas atau Pemkab mengenai ketentuan HET yang resmi dari pemerintah, dia dan sejumlah pangkalan memang menjual dengan harga Rp 2.500/liter. ''Kami belum mendapat surat edaran itu,'' katanya. Rasihin, seorang pekerja pangkalan di Bancarkembar, Purwokerto Utara juga menyatakan hal serupa. Di tempatnya bekerja, majikannya juga masih menjual dengan harga Rp 2.500/liter. ''Kami masih menjual dengan harga Rp 2.500. Pembelinya sekarang sepi dan pasokannya lancar. Itu berbeda dengan sebelum ada kenaikan harga BBM,'' ujarnya secara terpisah. Ny Tri Riyanti (36), ibu rumah tangga di Pasiraman, Kidul, Kecamatan Pekuncen mengatakan, harga di pangkalan tetap Rp 2.500/liter. Di pengecer bisa mencapai Rp 2.700/liter. Sekarang barangnya sulit karena pengecer juga membeli di pangkalan. ''Harga yang diumumkan pemerintah untuk minyak tanah Rp 2.000/liter, kok di pangkalan bisa sampai Rp 2.500/liter,'' keluhnya. Lebih lanjut Wasitah menjelaskan, pangkalan menjualnya Rp 2.500/liter, keuntungannya juga tipis sekali. Apalagi kalau pangkalan hanya menjual di bawah delapan persen, pasti merugi. Perhitungannya, harga satu drum berisi 215 liter dari agen saat ini Rp 490.000. Itu masih ditambah ongkos sekali ngecor Rp 2.000. Jadi harga satu liternya Rp 2.288. Untungnya hanya Rp 62. Persentase penjualannya hanya 2,7 %. ''Kalau berisi 210 liter/drum, satu liternya Rp 2.312. Ini untungnya hanya Rp 18 dengan persentase penjualan 1,6 %. Terus kami untung dari mana? Kita menjual juga tidak banyak,'' jelasnya. Sebelumnya, kata dia, harganya malah lebih tinggi. Dari agen, satu drum dijual Rp 503.500 plus biaya ngecor Rp 2.000. Drum berisi 215 liter jika dihitung harga satu liternya Rp 2.350. Kalau berisi 210 liter, harga per liternya Rp 2.400. (G22,in-29n) |