| Minggu, 09 Oktober 2005 | NASIONAL |
Puasa bagi PerempuanOleh: Sri Suhandjati Sukri
PUASA mempunyai makna penting bagi kaum perempuan karena Allah membuka peluang yang sama bagi orang-orang beriman tanpa membedakan jenis kelamin untuk meraih derajat ketakwaan (QS Al Baqarah:183). Hal itu membuktikan tidak adanya diskriminasi dalam mencapai tingkat spiritualitas tertinggi menurut tuntunan Islam. Siapa pun dapat mencapai derajat takwa jika syaratnya terpenuhi, yakni beriman, melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya. Peluang tersebut mendorong kaum muslimat berlomba untuk mencari keutamaan dalam bulan Ramadan yang digambarkan sebagai bulan "panen (menuai) pahala". Di antara gambaran keutamaan bulan Ramadan adalah berlipat gandanya pahala amal kebaikan tidak hanya sepuluh sampai tujuh ratus kali seperti di luar Ramadan, namun tidak terhitung lagi banyaknya. (HR Muslim) Agar peluang yang datang setahun sekali itu tidak sia-sia, menjelang Ramadan, kaum muslimat telah mempersiapkan diri melalui berbagai aktivitas sebagai berikut. Pertama, membersihkan diri dari hal-hal yang dapat merusak amalan misalnya dengan saling memaafkan sesama manusia. Memasuki bulan Ramadan tidak ada lagi kebencian, dendam, permusuhan, dan kotoran batin lainnya yang dapat menghalangi turunnya rahmat dan anugerah Allah. Kesucian hati mempermudah masuknya petunjuk Allah ke dalam pikiran dan hati nurani sehingga dapat mencapai tujuan puasa, yakni terbentuknya pribadi muttaqin (orang yang takwa). Maka salah satu tanda keberhasilan puasa seseorang adalah semakin rajin beribadah, meningkat amal kebaikannya, dan luhur akhlaknya. Di beberapa daerah, penyucian diri menjelang Ramadan dilakukan secara simbolis dengan "jamasan" atau keramas. Acara simbolik itu masih berlangsung sampai sekarang, namun banyak yang tidak mengerti maksudnya sehingga tidak banyak berpengaruh terhadap pembersihan kotoran batin, namun menjadi bagian dari budaya masyarakat untuk mengungkapkan kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Kedua, sebagian muslimat menyiapkan diri untuk melakukan pencerahan pada bulan Ramadan dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah mahdhoh dan cara hidup islami. Hal itu terlihat dari semangat untuk lebih rajin beribadah dan mengenakan busana muslimah. Karena itu, tidak mengherankan jika menjelang Ramadan lalu para muslimat berbondong-bondong membeli mukena dan sajadah baru serta kerudung/busana muslim. Semua itu menunjukkan adanya keinginan untuk membangun pribadi muslimat yang utuh (kafah) karena di samping rajin menjalankan ibadah, mereka juga menjaga adab sopan santun sesuai dengan tuntunan agama (di antaranya dalam hal berbusana). Bahkan jika dicermati, ada keinginan kuat dari pemeluk Islam untuk menyelaraskan tata kehidupannya selama tetap dengan nilai Islam, dari cara berpakaian, makan minum, cara mendapatkan rezeki yang halal, pergaulan yang santun jauh dari kemarahan, umpatan, kebohongan, dan ucapan atau tindakan tercela lainnya yang dapat membatalkan pahala puasa. Penerapan nilai Islam dalam seluruh segi kehidupan semacam itulah yang sesungguhnya dikehendaki Allah sebagaimana tersebut dalam firman-Nya "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan" (QS Al Baqarah:208). Perilaku yang dijiwai ruh keagamaan semacam itu telah tumbuh di kalangan masyarakat pada bulan Ramadan, namun sering pudar seiring dengan berakhirnya bulan puasa sehingga gambaran pribadi muslim yang utuh tersebut ikut hilang. Tidak jarang kita menyaksikan terjadinya penipisan semangat beribadah dan pemisahan nilai Islam dari kehidupan sehari hari setelah Lebaran. Misalnya yang semula rajin tarawih pada bulan puasa, setelah Lebaran, shalat wajib pun hanya "berling" (yen kober lan eling/ kalau sempat dan ingat, baru melaksanakan shalat). Busana muslimat pun hanya menjadi barang simpanan alias tidak dipakai lagi. Menunda Haid Agar kebiasaan hidup islami sebagaimana kehidupan selama Ramadan itu tetap tumbuh dalam kehidupan muslim/muslimat maka pemahaman tentang ajaran "menghidupkan amalan Ramadan" perlu diperluas, tidak terbatas pada bulan puasa tetapi juga di luar Ramadan. Bukankah untuk membentuk pribadi muttaqin memerlukan proses dan tidak cukup dalam waktu sebulan? Oleh karena itu, kebiasaan hidup islami yang sudah dimulai sejak Ramadan perlu dilanjutkan pada bulan-bulan sesudahnya sehingga berkesinambungan, dan pembinaan kepribadian muttaqin itu mencapai tingkat kematangan dan kokoh. Fenomena lain yang ditemukan di kalangan muslimat pada bulan Ramadan itu memperlihatkan kesungguhan dalam melaksanakan puasa serta ibadah lainnya. Sebagian muslimat berdoa dan berusaha agar datang "bulan" (haid) yang biasa hadir bisa ditunda. Ada beberapa alasan mengapa mereka ingin menunda datang "bulan", di antaranya ada yang merasa berat jika harus "membayar utang puasa" pada saat orang lain tidak berpuasa. Di sini terlihat kembali pentingnya pelestarian suasana "religius" di luar bulan Ramadan agar pembinaan spiritualitas tetap terpelihara sehingga terasa ringan untuk membayar utang puasa, melakukan shalat berjamaah, ataupun tadarus Alquran. Kesungguhan untuk memperoleh pahala yang banyak pada bulan Ramadan itu tampak pula pada sebagian muslimat yang berusaha menunda datang "bulan"-nya karena tidak ingin terhambat tarawih, puasa, dan tadarusnya. Ada kecenderungan di kalangan mereka untuk menghitung-hitung pahala amalnya secara matematis. Dengan cara penghitungan itu maka pahala perempuan yang sedang haid/nifas akan berkurang karena mereka meninggalkan puasa, tarawih, dan tadarus. Penghitungan semacam itu tidak terjamin kebenarannya. Sebab, masih banyak amalan lain yang dapat dilakukan perempuan yang sedang haid/nifas dan berpahala besar. Seperti membantu menyiapkan kebutuhan orang puasa antara lain menyiapkan buka puasa/sahur, menyediakan tempat untuk tarawih/tadarus, atau membangunkan orang untuk makan sahur. Bukankah Rasulullah telah memberitahukan bahwa setiap amal itu bergantung pada niatnya. Maka setiap amal akan mempunyai nilai ibadah jika dikerjakan dengan ikhlas dan untuk mencari keridaan Allah (HR Ibn Majah). Dengan demikian, pahala itu tidak semata-mata bergantung pada banyaknya amalan, namun ditentukan pula oleh kualitas amal yang dilandasi niat ikhlas karena Allah. Karena itu, muslimah yang sedang berhalangan secara syar'i tidak perlu risau dan khawatir pahalanya berkurang karena meninggalkan puasa, shalat, ataupun tadarus. Masih banyak peluang untuk mendapatkan pahala lainnya pada bulan Ramadhan seperti kesalehan sosial dengan menyantuni kaum duafa/miskin yang tidak terbatas pada santunan ekonomi, tetapi juga santunan rohaniah seperti melatih mereka shalat ataupun membaca Alquran. Persepsi tentang pahala yang terbatas pada pelaksanakan ibadah mahdhoh (seperti puasa, tarawih, tadarus) perlu dikembangkan pula dengan pahala "kesalehan sosial", termasuk di dalamnya penerapan nilai sopan santun, kejujuran, dan antikekerasan. Dengan demikian, puasa tidak hanya mencegah makan dan minum, tetapi juga menghindarkan diri dari ucapan dan perilaku tercela sebagaimana sabda Rasulullah, "Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan yang mengundang kedurhakaan, maka Allah tidak butuh terhadap orang yang meninggalkan makan dan minum" (HR Bukhori). Ucapan dan perbuatan yang menimbulkan kedurhakaan itu di antaranya kasar, keji, fitnah, tidak adil, bohong, dan menebarkan permusuhan. Sebab, semua itu akan menimbulnya kekerasan. Kekerasan terhadap perempuan dalam realitasnya tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, terkadang juga dilakukan oleh kaum perempuan. Tidak jarang perempuan yang suka menfitnah dan melontarkan ucapan yang menyakitkan kepada sesama perempuan untuk mengejar kepentingan pribadinya. Maka melalui puasa Ramadan ini, kaum muslimin dilatih untuk mampu menahan diri dari ucapan dan perbuatan tercela. Bulan puasa ini juga merupakan saat yang tepat untuk melakukan muhasabah/introspeksi agar dapat memperbaiki diri menuju kepribadian muttaqin. Semoga dengan puasa ini akan terbentuk pribadi muslim yang santun, sehat jasmani, rohanim, dan sosialnya sehingga tidak ada lagi tindak kekerasan di bumi ini. (11n) - Prof DR Sri Suhandjati Sukri, dosen IAIN Walisongo Allah Melihat Muslimin DARI Jabir, Nabi Muhammad Saw. bersabda, ''Telah diberikan kepada umatku (kaum muslimin-red) di bulan Ramadan lima perkara, yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi sebelumku: 1. Di permulaan bulan Ramadan Allah melihat kepada para umatku. Barangsiapa Allah melihat kepadanya, niscaya tidak diazab selamanya. 2. Bau mulut mereka di waktu petang hari lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi. 3. Para malaikat memohon ampunan untuk mereka di setiap hari dan malam. 4. Allah menyuruh kepada surga-Nya seraya berfirman kepadanya: Bersiaplah kamu dan berhiaslah kamu untuk hamba-hamba-Ku. Mereka hampir beristirahat dari kepayahan dunia menuju ke negeri-Ku dan kemuliaan-Ku. 5. Pada akhir bulan Ramadan, Allah mengampuni semua dosa mereka.'' (HR Ahmad, Al-Bazzar, Al-Baihaqi) | ||||