| Minggu, 09 Oktober 2005 | NASIONAL |
Penangkapan Pembunuh Sherly (2)Tukang Las Jadi Kartu AsTAK semudah membalikkan telapak tangan. Itulah yang terjadi dalam penyelidikan kasus penembakan terhadap Sherly. Kerumitan kasus itu membuat penyidikan sempat buntu beberapa hari setelah kejadian. Nyaris tak ada petunjuk berarti untuk mengungkap pelaku dan motif penembakan. Bukti-bukti material yang ditemukan tak mampu membuka tabir gelap pembunuhan itu. Dalam pemeriksaan sejumlah saksi, belum ada keterangan yang klop dengan bukti-bukti di lapangan. Hingga suatu ketika, muncullah S (33), seorang pemilik bengkel las di kawasan Semarang Utara. Bisa dibilang, dialah kartu as penyidikan. Babak baru pelacakan oleh Tim Resmob yang dikendalikan AKP Suwarto SH pun mulai terbuka. Titik terang semakin jelas setelah S memberikan kesaksiannya di depan polisi. Lelaki itu mengaku gelisah seiring dengan munculnya berita penembakan Sherly. Di ruang penyidik Polsek Semarang Utara, pria itu mengaku pernah melihat senjata api laras panjang yang diduga digunakan untuk menembak korban. S menuturkan, Jumat (23/9) sekitar dua jam sebelum terjadi penembakan di depan kios pasar ikan Jl Lingkar Tanah Mas atau lebih kurang pukul 11.00, muncul seorang pria muda yang datang ke bengkelnya untuk memperbaiki sepucuk senapan laras panjang. Laki-laki yang wajahnya mirip dengan gambar dalam sketsa buron polisi itu datang dalam keadaan mabuk berat. Yang masih teringat dalam benak S adalah ungkapan pria itu yang akan menggunakan senjata api untuk merampok orang. Setelah senjata selesai diperbaiki, pria itu pergi. Sekitar pukul 13.30, terjadilah peristiwa penembakan di pasar ikan di Jl Lingkar Tanah Mas. Beberapa hari kemudian S kembali ingat pria yang memperbaiki senjata api di bengkel lasnya. Kekhawatirannya makin menjadi, manakala mengetahui bahwa ciri-ciri senjata api yang disebutkan di media massa mirip itu dengan senjata api milik lelaki misterius tersebut. Yang menguatkan kecurigaannya, wajah pria itu mirip dengan sketsa wajah tersangka yang disebar polisi dan termuat di koran-koran. Polisi pun mulai melakukan penyelidikan di kawasan sekitar bengkel. Akhirnya, diperoleh nama Sindu. Di sekitar tempat itu, Sindu dikenal sebagai ''raja tega'' alias sadis. Dia sering terlibat perkelahian dan kerap pula menenteng senjata api. Residivis Sindu, Iwan, dan Parman adalah residivis yang pernah menghuni penjara. Ketiga orang yang kerap mengamen dan hidup menggelandang dari kota ke kota itu saling kenal saat sama-sama mendekam di LP Cirebon beberapa bulan lalu. Sindu yang berasal dari Desa Wonokerto, Karangtengah, Demak itu bahkan sudah tiga kali masuk penjara. Ia terlibat kasus pencurian dan penganiayaan. Kali terakhir dia ditangkap anggota Polsek Purwokerto Selatan karena menghajar seorang lelaki hingga luka parah. Itu terjadi pada Mei 2004. Beberapa hari sebelum dilimpahkan ke kejaksaan, dia kabur dengan cara membobol langit-langit sel. Polisi memburu ke rumahnya di Demak, tapi gagal. Tersangka sulit diringkus karena ia selalu berpindah-pindah tempat. Lama menghilang, nama Sindu kembali muncul dalam aksi penembakan di Jl Lingkar Tanah Mas itu. Satu hal yang tidak berubah darinya adalah kebiasaannya menggelandang. Dia kembali berpindah-pindah, lebih-lebih setelah membunuh Sherly. Seusai menembak korban, dia kabur mengendarai sepeda motor yang dia rampas dari Setya Hadi Pranoto, warga Kampung Jerobang, Banyumanik yang sedang mengantarkan istrinya berbelanja ikan. Sindu tancap gas ke arah Jl Kokrosono lalu menyusuri gang-gang dan akhirnya menuju ke Purwosari Perbalan. Ia menitipkan motor kepada seorang temannya berinisial Na yang kemudian menjualnya ke Jepara. Sindu lantas lari ke Batang dengan menumpang kereta api. Senjata api yang digunakan untuk menembak itu terus dibawanya selama perjalanan. Sementara itu Iwan dan Parman yang mengantarkan Sindu ke lokasi penembakan berpencar, juga kabur ke arah Batang dan Pekalongan. Di kedua kota itu mereka mencari uang dengan jalan mengamen. Meski identitasnya sudah diketahui, jejak tersangka tak mudah dilacak. Baru berhari-hari kemudian polisi memperoleh informasi dari sejumlah preman di Semarang yang menyebutkan bahwa Sindu dan Iwan kerap pergi ke Batang, Pekalongan, dan Purwokerto. Sejumlah anggota Resmob yang dibagi menjadi beberapa tim pun langsung diluncurkan ke tiga kota itu. Hasilnya, Sindu tertangkap di Alun-alun Batang, Kamis (6/10) sekitar pukul 18.30. Penangkapan terhadap Sindu terjadi setelah polisi dibekali fotonya yang didapat dari Polsek Karangtengah, Demak. Foto tersebut diambil saat dia ditahan di Polsek Purwokerto Selatan. Selang tak lama kemudian, berbekal keterangan Iwan, polisi menangkap Sindu dan Parman di kota yang sama. (Karyadi, P Heru Subono-29n/Habis) |