| Minggu, 09 Oktober 2005 | NASIONAL |
Soal Hadiah Rp 100 MiliarKeluarga Dulmatin PasrahPEMALANG - Berita tentang hadiah Rp 100 miliar bagi yang dapat memberikan informasi mengenai keberadaan Dulmatin, tersangka kasus bom Bali 2002, bukan hal yang mengejutkan bagi warga di sekitar tempat tinggal tersangka. Orang tua Dulmatin alias Joko Pitono itu tinggal di Desa Petarukan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang. Ibu kandung Dulmatin, Masriyati, menyatakan telah menyerahkan nasib anaknya kepada Yang Mahakuasa. Dia mengaku tidak tahu apakah anaknya masih hidup atau sudah meninggal. Meski pernah dikabarkan meninggal di Filipina, keluarganya juga tidak pernah mengetahui ada bukti-bukti otentik mengenai hal itu. Perempuan keturunan Arab itu mengaku selama ini sudah tidak berhubungan lagi dengan anaknya. Dia dan anaknya sudah lama berpisah dan dirinya kini juga sudah semakin tua dan lemah. Dia pernah menyatakan jika Dulmatin meninggal tidak akan repot-repot membawa jenazahnya ke rumah. ''Mati di mana saja tidak masalah karena semua ada di tangan Allah,'' katanya. Ayah tiri Dulmatin, H Jazuli, juga menyatakan berita tentang Dulmatin tidak lagi mengejutkan keluarganya. Bahkan kini timbul tanda tanya di benak mereka mengenai sikap Amerika Serikat terhadap kasus teror bom yang terjadi di Indonesia. ''Saya sendiri heran dengan Amerika. Dulu katanya Dulmatin sudah tewas dalam serangan militer di Filipina, tetapi sekarang malah menyebar sayembara akan memberi hadiah bagi yang bisa menemukan Dulmatin,'' katanya di rumahnya, Kompleks Pasar Petarukan, kemarin. Sebagaimana diberitakan, pada Januari lalu Dulmatin alias Joko Pitono dikabarkan tewas dalam serangan udara militer Filipina di Pulau Mindanao, Filipina Selatan. Namun pria asal Pemalang itu sekarang dikabarkan belum meninggal. Amerika Serikat bahkan menyebar sayembara berhadiah bagi yang bisa menangkapnya. Dengan cara AS memublikasikan Dulmatin seperti itu, dia menyimpulkan bahwa Negeri Paman Sam itu sebenarnya tidak memiliki tenaga intilejen yang bagus. Buktinya, pernyataan mereka selalu simpang siur dan membingungkan masyarakat Indonesia serta berkesan menyudutkan Islam. ''Dulu yang selalu disudutkan adalah komunis. Sekarang setelah negara Soviet tidak ada lagi dan komunis hancur, yang mau disudutkan ganti umat Islam,'' tegas jazuli. Ketika Dulmatin dikabarkan tewas di Filipina, keluarganya sempat cemas, tetapi ternyata tidak ada buktinya. Mayatnya juga tidak ditemukan sampai sekarang sehingga keluarganya juga merasa lega. Menurut lelaki wirausahawan itu, sejak kasus bom Bali I 2002, Dulmatin hanya sekali kontak dengan keluarganya. Pada saat itu dia mengabarkan anaknya telah lahir dengan selamat. Setelah itu tidak pernah kontak lagi dengan keluarganya di Pemalang sampai sekarang. (sf-43n) |