logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 09 Oktober 2005 NASIONAL
Line

Poster Azahari Disebar dari Helikopter


POSTER TERORIS: Seorang warga di Jl Muwardi menunjukkan poster teroris yang disebar polisi melalui helikopter, kemarin. (19n)

SOLO - Upaya aparat kepolisian memburu dua buron teroris kelas wahid, Dr Azahari dan Noordin M Top yang diduga bersembunyi di wilayah Surakarta semakin diintensifkan. Lebih-lebih ada indikasi kedua buron itu sempat mampir di Wonogiri (Suara Merdeka, 8/10). Untuk menemukan jejak mereka, kemarin 5.000 lembar poster bergambar wajah kedua teroris asal negeri jiran itu disebarkan dari udara ke pasar-pasar tradisonal yang ada di Kota Bengawan.

Dipilihnya lokasi pasar, menurut Kasubag Kerja Sama Ro Bina Mitra Polda Jateng Agus Mulyana, pasar tradisional merupakan lokasi strategis. Sebab, banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari keberadaan pasar semacam itu, terutama para pedagang dan pembeli.

''Bidikan kami tentu kepada para pedagang dari desa yang ada di tempat itu. Harapan kami, gambar kedua buron itu bisa sampai ke desa-desa lewat tangan mereka,'' jelas dia tentang alasan pemilihan sasaran penyebaran poster itu.

Dia mengungkapkan, beberapa waktu lalu sejumlah tempat strategis lainnya seperti terminal juga ditempeli poster. Namun karena melihat perkembangan lebih lanjut tentang kemungkinan digunakannya tempat-tempat terpencil yang tak terjangkau komunikasi sebagai persembunyian, sudah saatnya warga desa diberi informasi tentang keduanya.

''Dengan sosialisasi ini kami yakin akan ada hasil positif. Warga akan tanggap dan melaporkan kepada kami jika mengetahui desanya digunakan sebagai tempat persembunyian orang asing,'' paparnya.

Selain di Pasar Pon, Nusukan, Jongke, dan Pasar Legi yang berada di wilayah Solo, petugas juga melakukan hal yang sama di Sragen, Sukoharjo, Karanganyar, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri.

Penyebaran poster gembong teroris itu dilakukan dengan pesawat helikopter yang diterbangkan Iptu Okky. Sementara itu sejumlah petugas Satlantas juga turut membantu membagikan poster-poster itu kepada para pengguna jalan di sekitar lokasi pasar.

Mirip Pelaku

Sementara itu, belum diketahuinya identitas pelaku Bom Bali II membawa dampak kurang menyenangkan bagi Eko Purnomo (30), alumnus Fakultas Peternakan, Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung.

Pria asal Brebes itu disebut-sebut mirip salah seorang pelaku yang gambarnya disebar aparat kepolisian. Eko pun gelagapan termasuk almamaternya.

Karena itu, Sabtu (8/10), Eko bersama Unpad menggelar bantahan. Intinya, Eko menyatakan kabar tersebut tidak benar. Jika dia pelakunya, dirinya tidak akan hadir dalam acara tersebut dalam kondisi yang segar bugar. "Setelah melihat gambar itu, saya juga jauh dari mirip dengan mereka. Saya juga bingung, kenapa disebut mirip," ungkapnya.

Yang jelas, secara kejiwaan Eko mengaku dalam kondisi tertekan. Salah satunya karena dia mengkhawatirkan dampak penyiaran tersebut terhadap keluarganya di Desa Pejagan, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes. Dia takut terjadi apa-apa pascapenyiaran kabar tersebut.

"Saya sangat ketakutan dengan berita itu. Terutama efeknya terhadap orang tua saya yang berada di Brebes. Kalau ibu saya jantungan karena mendengar kabar ini, bagaimana? Saya juga punya tanggungan enam adik," tutur Eko Purnomo, alumnus Fakultas Peternakan Unpad angkatan 1993 itu.

Eko mengetahui kabar tersebut pada Jumat (7/10) malam setelah Fakultas Peternakan Unpad menghubunginya. Sebelumnya, dia berniat melapor untuk menjernihkan masalah itu ke Mapolda Jabar namun urung. Karena dalam kondisi tertekan, bapak tiga anak itu memutuskan menginap di almamaternya sambil meminta saran bagi langkah selanjutnya.

Dia lalu menghubungi kedua orang tuanya, Juhari dan Nuraeni. "Saya minta mereka agar jangan kaget jika mendengar kabar tentang saya. Namun, saya sendiri belum cerita apa sebabnya," katanya.

Dalam acara jumpa pers itu, Eko tampak gelisah kendati lebih terkesan lugu. Disinggung apa kerugiannya pun, dia menjawab sekenanya.

"Ya, paling saya rugi bensin karena harus ke sini menjelaskan semuanya," tandas pengusaha sayur-mayur itu.

Soal aktivitasnya selama menjadi mahasiswa, dia mengaku sebagai pribadi yang bebas. Jika ada kegiatan yang menarik, dia bakal ikut. Namun menjelang kelulusan, dia memilih mempersiapkan masa depannya dengan berusaha. Terlebih dia langsung menikahi seorang dokter, Hanan Siti Hasanah.

Humas Unpad Hadi Soeprapto Arifin mengemukakan, berdasarkan penelusuran pihaknya terhadap kawan seangkatan dan pihak-pihak yang pernah berhubungan dengannya selama di Unpad, Eko merupakan mahasiswa kebanyakan. "Popularitasnya tidak menonjol. Dia normal seperti yang lain termasuk dalam berkegiatannya," kata Hadi.

Eko menduga, rekan-rekan seangkatannya yang melakukan hal itu. Namun dia juga mempunyai dugaan lain, kemungkinan adiknya yang berada di Kalimantan yang melakukannya karena selama ini dikenal sering bercanda.

"Pastinya saya nggak tahu. Yang jelas saya nggak enak dengan kejadian ini," ujarnya.

Dalam rilis yang disebar Unpad, kabar tentang berita Eko mirip pelaku peledakan Bom Bali II sempat ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta. Menurut keterangan seorang koresponden televisi itu, kabar tersebut tidak pernah ditayangkan. Dia hanya disuruh redakturnya untuk menindaklanjuti informasi dari pemirsanya melalui layanan pesan pendek dan telepon bagi pemirsa yang mengetahui identitas pelaku.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Aryanto Boedihardjo mengatakan, tim penyidik kasus bom Bali II beberapa waktu lalu menginterogasi langsung terpidana bom Bali I, Amrozi dan kawan-kawan di Lembaga Pemasyarakatan, Bali.

Dari interogasi itu diperoleh banyak masukan seputar jaringan terorisme lama dan baru. Namun, Aryanto belum bersedia menjelaskan masukan tersebut.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Sutanto mengatakan, Polri akan memperjelas ciri-ciri khusus dari ketiga orang yang diduga pelaku bom bunuh diri itu. Sebab, ciri-ciri yang terungkap dan disebarluaskan ke publik kurang lengkap.

Sementara Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol I Ketut Untung Yoga Ana, mengatakan, jajaran Polda Metro Jaya sampai saat ini terus berupaya keras mengantisipasi ancaman terorisme dengan melakukan berbagai upaya preventif.

Operasi juga telah digelar menyusul merebaknya informasi bahwa tersangka pada Sabtu (1/10) ada yang lari ke Jakarta. Hingga hari ini belum ada satu pun orang yang dicurigai terkait kasus peledakan Bali berhasil ditangkap petugas. (nin,san,dwi,bu-19, 43,48n,j)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA