| Minggu, 09 Oktober 2005 | BINCANG BINCANG |
Dari Pakar Perminyakan ke Bintang IklanAPA yang sangat mengesankan dalam kehidupan Kurtubi? Belum tuntas keliling Indonesia, ternyata Kurtubi justru pernah melakukan perjalanan keliling Amerika Serikat. Itulah hal yang mengensankan. Dengan menyopir sendiri didampingi keluarga, pria kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, 9 April 1951, ini menyinggahi seluruh negara bagian di negeri Paman Sam. "Saya memang hobi mengemudi jarak jauh. Sudah berkali-kali saya menyetir mobil dari Jakarta ke Lombok. Pas sekolah di Colorado, saya teruskan hobi itu. Pada liburan musim panas, saya jelajahi seluruh negara bagian," kata doktor lulusan Colorado School of Mines, Denver, ini. Menurut pendapat pria berkacamata ini, jalan raya di AS sangat memungkinkan seseorang untuk nyaman menjelajahi negaranya. "Di sana itu ada jalan tol sampai 300 ribu kilometer, menghubungkan seluruh negara bagian. Selain enak untuk jalan-jalan, kita juga nggak perlu membayar lagi," kata alumnus FE Universitas Indonesia ini. Untuk bisa mewujudkan keinginan menjelajahi negeri Paman Sam, Kurtubi giat menabung. Beberapa pekerjaan sambilan pernah dilakukan. Dan yang menguntungkan keinginan itu ditunjang oleh kemurahan harga mobil bekas di AS. "Mengantar koran pada pagi hari dalam sebulan bisa mendapat 1.500 dolar. Jadi pekerja perpustakaan kampus bisa dapat 800 dolar. Jadi semua tergantung jam dan jenis pekerjaan. Dari yang baru, harga mobil bisa berbeda sampai seperlima. Kalau disini kan nggak pernah bisa sampai segitu," tuturnya. Selain itu di AS ada iburan summer selama tiga bulan (Juli, Agustus September), sehingga dia punya waktu lapang. "Saya mendapat pengalaman di big city sampai yang bersuasana country," kata suami Maria Ulfah yang asal Mojokerto, Jatim ini. Menurut pendapat dia Colorado adalah negara bagian paling indah di AS. Ada pegunungan termasyhur seperti Rocky Mountain. Ada juga Aspen, ibu kota olahraga ski bila musim salju tiba. "Kebetulan saya juga hobi jalan-jalan ke gunung. Kami pernah membuat acara dengan keluarga Indonesia dan membikin barbeque puncak bukit atau dataran tinggi yang pemandangannya sangat indah." Kuliah di Prancis Kurtubi menghabiskan masa kecil hingga remaja di Kecamatan Kediri yang berjejeran dengan Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat. Selesai menamatkan sekolah di SMA 1 Mataram, barulah dia merantau. Dia ke Jakarta karena diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Setamat dari FE UI, Kurtubi kemudian bekerja di Pertamina. Saat menjadi karyawan Pertamina inilah, dia mendapat kesempatan mengambil Master di AS. "Saya kuliah di Colorado School of Mines, di dekat Denver, Colorado. Ini merupakan kampus yang khusus mempelajari masalah sumber daya alam dan pertambangan. Saya mengambil bidang mineral ekonomic," kata ayah empat anak ini. Selepas meraih master di Colorado (1992), dia mendapat kesempatan lagi mendalami ilmu di Institut Francais du Petrole (IFP). Di kampus yang terletak di Rueil-Malmaison dekat Paris ini dia mengambil master di bidang studi yang lebih spesifik lagi, yaitu ekonomi perminyakan, dan lulus pada 1994. RUU Migas Selesai di Prancis, Kurtubi kemudian mengambil doktor di Colorado. Dia pun mengambil bidang studi energy ekonomic dan tamat pada 1997. Sepulang dari tugas belajar, dia langsung dihadapkan pada pemerintah yang mengajukan RUU Migas ke DPR. "Saya pelajari RUU tersebut dan mengetahui kalau RUU ini amat sangat merugikan Pertamina. Selain merugikan Pertamina juga sangat amat merugikan perekonomian Indonesia. Saya ajukan pendapat saya ke Direksi Pertamina, tepatnya pada sang dirut, Pak Martiono. Beliau menerima pendapat saya dan juga mengambil posisi menolak RUU ini," katanya. Akhirnya RUU ini kandas saat pemerintahan Presiden BJ Habibie. DPR ternyata juga menolak. Namun begitu Habibie digantikan Presiden Abdurrahman Wahid, RUU sama diajukan kembali ke DPR. "Karena itu saya kembali menolak RUU ini lewat tulisan saya di berbagai media massa di. Karena penolakan itu, saya lalu dipanggil Dirut baru, Pak Baihaki Hakim. Pada prinsipnya beliau menolak pendapat saya, dan menyatakan mendukung penuh RUU tersebut menjadi UU," kata pria yang menyukai olahraga berenang dan joging ini. Kurtubi pun dianggap sebagai orang yang tidak bisa bekerja sama. Dia pun dinon-job-kan. "Jabatan saya dicopot, karena dianggap bertentangan dengan pendapat direksi. Saya terima hal itu. Lalu saya pun jadi pengamat. Yang penting dan membuat saya bahagia. Sampai saat ini argumen-argumen terbukti." Pasca-kenaikan harga BBM, wajah Kurtubi sering muncul dalam iklan layanan masyarakat yang ditayangkan di berbagai televisi. Begitu juga suaranya sering terdengar di berbagai radio. Menurut pendapat Kurtubi, selain karena diminta, secara pribadi dirinya sebenarnya juga terpanggil untuk memberikan penjelasan tentang permasalahan BBM dengan tujuan agar masyarakat bisa berpikir jernih. (Hartono Harimurti-35) |