logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 SALA
Line

Bank Jateng Setujui Kucurkan Pinjaman

  • Pembangunan Tawangmangu-Magetan

KARANGANYAR - Setelah sebelumnya sempat dikabarkan ditolak lantaran proses negosiasinya yang alot, Bank Jateng Cabang Karanganyar akhirnya menyetujui usulan pinjaman dari Pemkab Karanganyar senilai Rp 14 miliar. Dana tersebut akan digunakan Pemkab untuk membebaskan lahan nonteknis dalam pembangunan jalan tembus Tawangmangu-Magetan.

''Informasi terakhir yang kami terima, Bank Jateng sudah menyetujui usulan pinjaman. Saat ini pinjaman itu sedang diproses di Semarang dan dalam beberapa hari ini siap dicairkan,'' ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Ir Sukismiyadi, kemarin.

Menurutnya, pinjaman yang disetujui sesuai dengan kebutuhan Pemkab untuk membebaskan lahan seluas 55.000 m2 bagi kebutuhan lahan tahap ketiga. Selanjutnya, Bagian Pemerintahan saat ini sedang memastikan perhitungan pasti berapa lahan milik masyarakat yang akan dibebaskan secara persisnya. Setelah itu, Pemkab akan menggelar sosialisasi pada pemilik lahan langsung untuk negosiasi masalah ganti rugi yang akan diberikan.

Berdasar kesepakatan awal, untuk tanah yang berada di bagian atas dan dibebaskan tahap pertama dihargai Rp 115.000/m2. Sementara itu, untuk tanah di bagian bawah yang dibebaskan tahap kedua dipatok besaran Rp 165.000/m2 untuk ganti ruginya. ''Untuk tahap terakhir ini kemungkinan plafonnya juga sama dengan besaran ganti rugi tahap kedua yakni Rp 165.000/m2,'' imbuhnya.

Calo

Adapun untuk mengantisipasi munculnya calo, Pemkab telah mendata pemilik lahan di wilayah yang akan dijadikan jalan tersebut. Selain itu, Pemkab dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sepakat untuk tidak memproses mutasi tanah di sekitar lokasi jalan tembus. Tanpa adanya proses pemindahtanganan lahan, diharapkan spekulan tanah bisa diminimalkan.

Lebih lanjut ia menambahkan, setelah rampungnya pembangunan jalan tembus, Pemkab akan kembali berkonsentrasi untuk rencana pembangunan fly over di persimpangan rel KA Palur. Seperti diketahui, rencana tersebut hampir terealisasi sebelum krisis ekonomi melanda. Namun lantaran kala itu terganjal persoalan desain, Perum Bina Marga yang akan membangunnya harus mengubah desain sesuai keinginan PT KA.

''Waktu itu desain jalan layang dibangun di atas satu lintasan rel. Ternyata PT KA sudah memiliki rencana untuk membangun double track (jalur ganda) sehingga desainnya juga harus menyesuaikan itu,'' paparnya.

Belum selesai perubahan desain, Indonesia dilanda krisis sehingga rencana itu terkatung-katung sampai sekarang. Disinggung sejauh mana persiapan nonteknis untuk rencana tersebut, Sulismiyadi menjelaskan, jika Bina Marga sedang melakukan feasibility study (studi kelayakan). Jika kajiannya memungkinkan, baru akan dibuat detail engineering design (DED) dari proyek yang dibiayai Pemerintah Pusat tersebut. (G18-16v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA