logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 SALA
Line

Megengan Sambut Puasa

MEGENGAN adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini sering pula disebut sebagai ritual mapag atau menjemput tanggal. Maksudnya, menjemput tanggal satu bulan puasa yang dilakukan setelah padusan (mandi keramas) sebagai syarat bersuci diri.

Dalam buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa karangan Drs R Harmanto Bratasiswara megengan diartikan sebagai kegiatan puncak persiapan menyongsong hari pertama puasa.

Ada tiga kegiatan yang biasa dilaksanakan, yaitu mandi keramas yang disebut sebagai padusan, membersihkan tempat hunian dan menata perabot rumah tangga, serta menyediakan sesaji di rumah untuk arwah para leluhur. Di Wonogiri sebagian warga memilih mandi keramas di Sungai Kahyangan Desa Dlepih Kecamatan Tirtomoyo yang diyakini sebagai petilasan pertapaan Panembahan Senapati, pendiri Dinasti Mataran Islam.

Ada juga yang memilih ke Sendang Siwani di Kecamatan Selogiri yang dipercaya sebagai bekas pertapaan Pangeran Sambernyawa pendiri Dinasti Mangkunegaran.

Ritual megengan lebih mengukuhkan tiga hal. Pertama, sebagai sarana memohonkan maaf atas dosa-dosa arwah para leluhur. Kedua, mengenang dan menghormat leluhur dengan segala kebaikan, keluhuran, dan kebesarannya.

Ketiga, menyatakan siap menyongsong kedatangan bulan suci Ramadan. Ritual itu juga disebut sebagai unggah-unggahan karena bernuansa permohonan dan harapan kepada Allah.

Tukidi, budayawan Jawa dari Persatuan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Wonogiri, mengatakan sebagian masyarakat pedesaan masih ada yang melengkapi ritual dengan kenduri selamatan di rumahnya. (Bambang Pur-16,27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA