| Rabu, 05 Oktober 2005 | PANTURA |
Kalangan Guru Pertanyakan Perangkingan Kelulusan UNTEGAL - Hingga saat ini kalangan pendidik di Kota Tegal masih menanyakan hasil penetapan peringkat kelulusan Ujian Nasional 2005 yang biasa dilakukan Dinas Pendidikan Jateng. Mereka mempertanyakan hal itu karena saat ini muncul berita gencar yang menyebutkan posisi Kota Tegal dalam hasil UN untuk SMA/MA, SMK berada pada urutan paling bawah. Senin (3/10) lalu, pertanyaan itu mengemuka lebih-lebih setelah mendengar kabar hasil perangkingan akan dikeluarkan Dinas Pendidikan Jateng. Apalagi Kepala Dinas Pendidikan Kota Tegal Drs Machful pada hari itu mendapat undangan rapat ke Semarang. "Hasil perangkingan perlu kami ketahui untuk bahan evaluasi," ujar sejumlah guru. Machful yang dihubungi membenarkan, pihaknya mendapat undangan rapat dari Dinas Pendidikan Jateng. Namun, dia tak bisa memenuhi undangan itu dan mewakilkan kepada Kepala Bidang Pendidikan SLA Dra Titik Andarwati. Hingga kemarin, menurut dia, Titik belum melaporkan hasil rapat itu kepadanya. "Kalaupun ternyata posisi hasil UN yang dicapai anak didik di Kota Tegal benar-benar berada pada urutan paling bawah se-Jateng, kita terima dengan lapang dada," katanya. Meski demikian, hingga kemarin dia menegaskan belum memperoleh hasil perangkingan tersebut. Belum Melapor Titik Andarwati kemarin menyatakan belum berhasil melapor ke Machful karena yang bersangkutan harus pergi untuk memenuhi undangan, dari pagi hingga siang. Dia mengakui, Senin lalu memang mewakili atasannya rapat di Semarang, tetapi acaranya evaluasi hasil UN. "Saya tunggu hingga acara usai ternyata hasil perangkingan UN tak dikeluarkan," tandasnya. Menurut dia, dalam rapat itu disampaikan hasil UN tingkat Jateng meningkat dibanding dengan tahun lalu. Demikian pula hasil perolehan nilai tiap mata pelajaran. Meski demikian, kalau dilihat dari persentase kelulusan, dia optimis hasil UN SMA/MA dan SMK Kota Tegal tidak berada pada urutan paling bawah karena peserta yang tidak lulus UN di bawah seribu orang. Ini lebih sedikit dibanding beberapa kota/kabupaten lain. Misalnya, Solo yang memiliki peserta tidak lulus lebih dari 1.000 orang. (aj-19m) |