logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 PANTURA
Line

Pemilik Kapal Takut Merugi

Pilih Buang Sauh di Dermaga

TEGAL- Hampir sebagian besar pemilik kapal di Kota Tegal mengaku tidak berani memberangkatkan kapalnya, menyusul kenaikan harga solar. Alasannya, jika dipaksakan berangkat dipastikan mereka akan merugi. Para nelayan itu pun memilih memarkir kapal dan membuang sauh di dermaga pelabuhan, sambil menunggu musim tangkapan ikan membaik.

"Empat kapal saya tidak berangkat melaut, karena merugi terus," kata H Tarjono, pemilik kapal asal Kelurahan Tegalsari RT 10 RW 1, Kecamatan Tegal Barat. Kalaupun ada keuntungan, berjumlah tidak sampai 10%.

Keempatnya terpaksa diparkir, karena dia sudah kehabisan modal. Tiga kapal lain saat ini masih berada di laut. Dia berharap hasil tangkapan ketiga kapal menggembirakan.

Jika tidak, dipastikan ketiganya akan menyusul empat kapal lain yang sudah parkir di dermaga terlebih dulu.

Tarjono menuturkan, biaya perbekalan untuk kapal jenis purseseine sebelum kenaikan harga solar sekitar Rp 40 juta. Keuntungan menggunakan sistem bagi hasil dengan pola 50:50.

Yaitu, keuntungan dari pemasukan dikurangi biaya modal dibagi dua pemilik dengan awak kapal. Bagian untuk awak dibagi per orang menurut jabatan masing-masing.

Merosot

Biasanya, keuntungan yang diperoleh dalam sekali melaut selama dua minggu sekitar Rp 30 juta. Dalam beberapa bulan terakhir, pemasukan yang diperoleh merosot di bawah biaya perbekalan. Pemasukan untuk kapal purseseine hanya berkisar Rp 25 juta.

Akibatnya, dia terpaksa menombok. "Itu pun saya masih harus ngeboni 35 awak kapal masing-masing Rp 50.000," keluhnya. Karena kerugian terlalu besar, akhirnya dia mengistirahatkan kapalnya.

Dia berharap dalam waktu dekat dapat segera memberangkatkan kapal. Apalagi menjelang musim barat, biasanya tangkapan ikan lebih banyak.

Sekretaris HNSI Kota Tegal Taufik mengemukakan, terdapat sekitar 30 pemilik kapal di Kota Tegal, dengan jumlah armada 300 kapal purseseine dan 500 kapal cantrang.

Dari jumlah tersebut, yang tidak berangkat melaut saat ini mencapai 90%.

Dia menguraikan, kenaikan harga solar hampir 100% praktis mengakibatkan biaya perbekalan melonjak.

Misalnya, biaya perbekalan kapal purseseine dari Rp 40 juta melonjak menjadi Rp 70 juta. Adapun purseseine jenis besar dari Rp 90 juta menjadi Rp 140 juta. "Kalau dipaksakan berangkat sudah pasti merugi," ujar dia.

Taufik khawatir jika kondisi itu berlarut-larut akan berdampak bagi kelangsungan hidup ratusan awak kapal. Karena itu, dia meminta pemerintah memberi bantuan, baik dalam bentuk subsidi bahan bakar maupun peraturan untuk meringankan beban pengeluaran nelayan.

Secara terpisah, staf TPI Pelabuhan Tegalsari Asnadi mengakui, dalam tiga hari terakhir jumlah kapal yang parkir di pelabuhan relatif lebih banyak.

Para pemilik kapal tampaknya lebih memilih membiarkan kapal mereka sampai kondisi memungkinkan. (H16-50s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA